Terbuat dari apa hatinya?

Aku tau, dia lelah…

Mengejar jarak yang tak dekat hanya untuk memburu cheese cake dan red roses. Lengan kemejanya sudah terlipat hingga siku bahkan pada pola yang tak jelas. Tidak seperti biasanya ia mengenakan kemeja sepeti itu. Dia lelah namun tetap tersenyum memberikan hadiah manis itu.

Aku tak begitu menggubris roses dan cake. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Sesingkat itu dan tanpa bertanya apapun lagi. Sikapku ini bukan yang pertama.

Dia hanya ingin menunjukan ketulusan, aku tau dia tak bermaksud untuk menyakiti atau memaksakan kehendak padaku. Pernah kali itu sebelum ini aku patahkan hatinya, dan melepasnya pergi begitu saja dikala cintanya pada batas tertinggi, dia hanya diam dan lirih

sakit hati itu seperti ini ya? Seingatku ga sesakit ini. Tapi kenapa kali ini jauh lebih sakit.

Kau tau, setelahnya aku selalu mencoba untuk tetap ada ketika ia perlukan, aku tidak memberikannya harapan palsu karena ia pun tau jika aku tak untuk dia miliki. Dia tak mampu memberikan apa yang aku mau dan akupun tak mampu memberikan apa yang dia mau. Berkali-kali aku mengajarinya untuk sadar akan hal itu.

Dia selalu datang dengan senyuman, dengan kehangatan yang sama walaupun aku berkali-kali memintanya untuk pergi. Dia tetap ada, tanpa mengusikku, walaupun terkadang ia masih tak mampu mengontrol rasa cemburu untuk hal yang tak hak dia miliki.

Aku kerap mengabaikannya, aku bahkan menutup mata untuk luka dan telinga untuk pintanya. Karna aku hanya ingin dia baik-baik saja. Berkali-kali aku selalu memintanya untuk mencari kekasih agar ada yang menjaga hatinya.

Ga perlu suruh aku cari pacar, buat apa kalo cuma untuk pelarianku saja.

Aku tak bermaksud memaksanya jatuh cinta dengan yang lain, aku hanya tak ingin orang sebaik dia terus terluka walaupun dia selalu tersenyum dan mengatakan

Ga usah kawatir aku akan selalu baik-baik saja.

Entahlah, baik macam mana yang dia maksud. Apakah kebodohannya terlalu tinggi hingga bertahan pada jarak yang tak pernah ku gubris sekalipun atau itukah caranya menunjukan ketulusan. Bahkan diapun menyadari jika kami tak akan pernah mungkin menyatu, lebih tepatnya aku tak mencintainya.

Tapi dia yang akan selalu ada jika aku dalam keadaan yang tidak baik, tanpa ku minta. Caranya mengkhawatirkan ku dan juga sikapnya yang selalu ingin tau kadang justru membuatku risih. Tak ku sadari seperti itulah cinta yang selalu ingin tau keberadaan orang yang dicintainya.

Aku pengen kamu bahagia, dengan siapapun itu. Aku nyeri kalau dengar kamu terluka dan ga bahagia.

Seperti itulah dia, bahkan tak ku dengar kata-katanya ‘kamu akan jauh lebih bahagia jika sama aku’ karena diapun pasti tau keterbatasannya.

Entah hati macam apa sebegitu cintanya namun meminta untuk mendapatkan hati lain yang dapat menjaga jauh lebih baik.

Titik terparah ketika aku mengabaikan kehadirannya, aku berusaha membuatnya menjauh dan mematahkan hatinya jauh lebih dari sebelumnya.

Dia menangis di depan mataku, dia memohon kepadaku agar aku menjauhinya secara perlahan, namun kali ini aku tak bisa. Aku ingin dia pergi dariku, aku tak ingin lagi dia selalu ada untukku. Aku memintanya untuk ikhlas melepasku. Aku melihatnya melemah dengan air mata.

Aku tau aku harus pergi dari hadapanmu, tapi bukankah kau berjanji jika akan memberiku waktu sejenak. Setelah ini aku janji tidak akan pernah menyentuh hidupmu sedikitpun. Caramu kali ini terlalu menyakitkan, tak perlu setega itu. Aku ga pernah mengusikmu sedikitpun.

Aku… Entahlah, aku tak tau apa lagi yang harus aku ceritakan tapi malam itu dia begitu hancur. Itulah cara terbaik dariku agar ia bangkit dan mengejar cinta lain. Aku bukan untuknya.

Ku biarkan dia menangis hingga terisak tanpa sedikitpun ku pedulikan. Aku hanya ingin bahagia dan jelas aku tak bisa bahagia jika dia terus bersikap seperti itu. Alangkah lebih baik jika dia berikan itu semua kepada orang lain. Aku tau dia terluka, jauh lebih baik andaikan luka dalam kali ini mampu menyudahi cintanya untukku.

Sudah ku yakini jika ia akan membenciku dan mencaciku layaknya seorang pujangga yang kehilangan karya termanisnya. Sudah bisa ku tebak diapun akan menjerit membebaskan ego untuk memasang tameng tertinggi agar tak lagi mengenalku.

Kamu ingin bahagia? Baiklah. Sini kasih aku pelukan terakhir.

Aku menggelengkan kepala, aku tak ingin itu.

Kali ini aja, terakhir dan aku akan melepasmu dengan ikhlas tanpa beban.

Akupun memeluknya erat. Memeluk seseorang yang selalu baik untukku namun aku merasakan risih atas segalanya itu. Bahkan seseorang ini yang juga pernah ku miliki hatinya, walaupun hanya sekilat hati. Dia tak pernah membenciku, dia tak pernah membalas segala perlakuanku yang tak menyenangkan untuknya.

Pelukan terakhir, benar-benar terakhir karena aku tau setelah ini aku akan sukar mendapatinya lagi. Bagaimanapun juga dia pernah baik dan dia hanya ingin menunjukan ketulusan namun hatiku yang menolak itu.

Ternyata tebakan dan keyakinanku salah besar, dia tak menunjukkan ego dan dia tak mencaciku. Sungguh aku tak menyangka hatinya yang terluka olehku namun tak ada caci sedikitpun untukku darinya.

Dia mulai membuka hati untuk yang lain, sykurlah semoga kelak dia memang menemukan kekasih yang benar dia cintai bukan karena aku tapi karena hatinya inginkan itu.

Hati yang baik, dia yang tau segala luka, dia yang mengecap pahitnya perlakuan namun dia tetap tersenyum kepadaku.

Tuhan, jaga dia. Jaga hatinya yang entah kau ciptakan dari apa, hingga ketulusannya melebihi seorang Romeo. Jatuhkan lagi hatinya kepada perempuan yang bisa menjaganya, perempuan yang tak ingin menyia-nyiakan ketulusan seperti itu.

Tuhan, kuatkan dia karna aku tau dia begitu rapuh. Walaupun dia selalu tersenyum di hadapanku dan mengatakan dia bisa mengatasi dengan jalan dewasa tapi aku tau dia terluka dan menangis.

Tuhan, berikan pelukan untuknya ketika ia kehilangan percaya diri karena aku tak ingin memeluknya lagi. Cukup kali itu untuk pertama dan terakhir. Aku tak mampu memilikinya.

Tuhan aku tau dia membutuhkanku namun kaulah sebaik-baiknya penjaga untuknya. Aku tak sanggup lagi melihatnya kerap terluka.

Terimakasih untuk ketulusan itu dan hatimu yang entah terbuat dari apa.

Ternyata cinta

Apa kabar cinta,

Yah, memang sebegitu besarnya aku menginginkan mu yang walaupun kau tak pedli tetap saja aku menyimpan deru gemuruh cinta. Entah virus apa yang menjalar dalam detak jantung dan hatiku, hanya ketika aku melihatmu saja mampu membuncahkan amore merah jambu hingga mendobrak-dobrak bilik jantung. Tanpa ada keberadaanmu di sisi pun aku selalu merindukan dalam diam menyergap setiap mimpi dan mengisinya hanya tentang mu saja.

Apa kabar cinta,

Hariku tak stabil seperti wajarnya, aku mulai enggan menyentuh buku-buku pelajaran ataupun menikmati sepiring sarapan pagi dari mamah, namun aku tetap bahagia tak henti-hentinya melengkungkan bibir. Apa kau percaya jika perut ini menolak terisi dan hanya merasa kenyang begitu saja ketika mengingat bayangan wajahmu. Menggoreskan pena menceritakan betapa indahnya senyum mu lebih menyenangkan dari aljabar.

Apa kabar cinta,

Cinta, hanya kau yang ku inginkan, karena kaulah tetesan hujan pada savana. Sungguhpun menerjang aturan yang ada mengenai usia belia kita untuk menjalin cinta, ak selalu mengindahkannya karena mereka tidak akan pernah tau apa yang tersimpan dibalik getaran jiwa sehijau kita. Upeti adalah keterpaksaan namun menyerahkan segala yang kupunya untuk mu adalah caraku sendiri.

Taukah kau cinta,

Kehidupan dalam dunia cinta tak sempat ku pertanyakan kepada mereka yang pernah merasakan sebelumnya. Ternyata cinta, aku mengecap apa itu luka, aku meringis perih ketika ku tau cintamu tak pernah ada untuk ku. Mimpi pada kubah istana pasir yang terbentuk hilang sudah tersapu ombak pesakitan. Hatiku berdarah basah oleh air mata tak berkesudahan.

Taukah kau cinta,

Lagi-lagi aku tak menyentuh masakan mamah ataupun menghadiri rutinitas pendidikan, namun kali ini aku tak hanya kehilangan hati tapi juga turut ku hancurkan seisi kehidupanku. Aku merapuh, aku berkeluh pada mu yang dengan menjatuhkan lututpun tak juga kau pedulikan.

Taukah kau cinta,

Aku hancur, segalanya hancur ikut melebur. Aku tak mengenal hari, dan hanya berteman dengan kesedihan. Keterpurukan ku menghentikan ritme perkara hati. Lelahku menyuguhkan sebentuk cinta dalam kotak coklat yang manis juga tak pernah kau gubris.

Ternyata cinta,

Aku terluka sendiri, pada hangat pelukan mereka yang selalu ada walaupun sering ku tepiskan. Aku membuka mata dan logika mencari celah menelusup membasuh perihnya.  Sungguh aku melupakan hal yang paling berharga selama ini, hal yang tak pernah ku lihat selagi terpuruk merah jambu tak berpihak. Melupakan mereka yang selalu ada untukku. Kebodohan yang selama ini aku genggam kulepas sudah bersama pesakitan. Kegalauan yang sempat tercecap biarkan saja menjadi pelajaran penting.

Ternyata cinta,

Tak sebegitu berharga kisah luka ini dibanding dengan bisikan harapan dari kedua orang tua. Banyak cita yang masih akan dapat ku kejar. Banyak pula cinta yang bisa ku miliki, mereka sahabat dan juga lingkar keluarga ku. Isakan tangis ku ganti dengan prestasi sebagai hadiah atas ketulusan mamah dengan cintanya yang tak pernah ingkar.

Ternyata cinta,

Kau hanyalah sejengkal kisah dari lintasan marathon hidupku. Kini aku tak akan menyisakan sedikitpun tangisan lagi karena hidupku tak hanya tentang mu yang telah mengabaikan romantisme merindu. Membenahi diri tak mudah memang namun aku memiliki banyak pelukan serta dorongan prestasi yang justru mampu memainkan melodi cinta.

Ternyata cinta, aku masih bisa bahagia tanpa mu.

 

 

500 kata, untuk give away kasihelia.com gerakan #CintaiHidup @Kasihelia

 

 

 

 

25 Januari

Akhirnya hari ini 25 Januari tiba juga, tanggal yang mencatat sejarah baru dalam kehidupan remajaku harus ku mulai dengan derai air mata bak Niagara di ujung pagi.

“ Jangan nangis aja, ayo ibu bantu pakai kebayanya, hari ini kamu harus tampil cantik “ ibu mengagetkan aku yang terpaku di depan cermin pagi ini, ku tatap bola mata ibu yang berkaca-kaca nampak jelas dengan kokoh mencoba membendung air mata.

Perempuan mana yang tidak mengidamkan pernikahan bak puteri raja menikah dengan pujaan hatinya. Sebuah pernikahan dengan ornament serba putih di gedung yang dihiasi beraneka ragam bunga, iringan musik khas perkawinan serta para tamu undangan yang tersenyum melihat sepasang pengantin yang terpancarkan raut kebahagiaan.

Menelan pil pahit tanpa pilihan lain, kali ini aku harus mengecap sajian menu kehidupan tanpa ada daftar menu yang bisa ku pilih sebelumnya. Restoran kehidupan kadang memang menyajikan kenyataan yang harus diterima begitu saja.

“ Dua tahun lalu di tanggal 25 Januari ibu juga menikah dengan ayah tiri mu, dan 25 Januari tahun ini giliran kamu yang menikah. Walaupun kali ini ibu hanya mampu memberikan pernikahan sederhana saja buat mu “ tangan ibu dengan cekatan memoles wajahku dengan berbagai warna.

Belia usiaku belum juga tamat bangku sekolah menengah atas, harus menutupi sebagian aib yang sudah tersiar di telinga tetangga. Janin yang ku kandung menuntutku agar menikah dengan lelaki jahanam yang memperkosaku.

“ Ibu yakin, kita pasti bisa melewati 25 Januari kali ini dengan ikhlas dan sabar sampai bayimu lahir “ ibu menggandeng tanganku memasuki ruang utama. Air mataku tak mampu ku bendung lagi.

Hanya ada lima tau enam kerabat sekaligus saksi, meja kecil tertutup taplak putih dan seorang penghulu mengenakan surban putih. Wajah lain yang aku kenal mengenakan jas hitam dan peci melihat ke arah ku dan ibu, dia calon suamiku, dia adalah pemerkosa jahanam yang juga ayah tiriku.

 

300 kata, di tulis dalam rangka ulang tahun Monday FlashFiction yang pertama.

 

 

Ternyata (ku)yang tak terduga

Ratusan kilometer dari kota terdekat, menyimpan sejuta cerita di desa ku yang jauh dari jamahan teknologi mutahir. Setelah hampir empat tahun ku tinggalkan mengejar gelar sarjana pendidikan di ibu kota provinsi tetangga. Kembali ke desa memang suatu cita-cita memberikan pengabdian sebagai guru di satu-satunya sekolahan menengah tingkat pertama.

Jalan setapak tanpa adanya pengerasan atau aspal dari program pemerintah mendominasi rumah-rumah warga yang mayoritas berbentuk panggung terbentuk dari lembaran papan kayu hutan sebagai dindingnya, dan setidaknya kami sudah bisa menikmati fasilitas penerangan listrik Negara.

Cita-cita ibu ingin melihat anaknya menjadi seorang guru terkabul sudah, ibu adalah orang yang selalu berkorban banyak hal hanya untuk melihat anak-anaknya menjadi orang yang tidak direndahkan penduduk desa.

Ayah biologisku tidak peduli dengan kehidupan kami, karna ibu hanya sebagai istri simpanan yang bahkan tak diakui setelah kasus perselingkuhan mereka terbongkar warga desa.

Sepulang sekolah aku selalu membantu ibu di ladang sebagai buruh hanya untuk mencari sebakul nasi untuk bertahan hidup serta membaginya untuk biaya sekolah ku. Aku sangat menyayangi ibu, apapun yang terjadi dulu, aku tidak pernah menghakimi ibu karna beliaupun sangat menjaga aku dan adikku penuh cinta.

Melanjutkan pendidikan ke luar desa adalah hal yang tidak mudah, mengingat ibu membanting tulang sendiri, apalagi adikku masih terhitung masih belia usianya, namun ibu meyakinkan akan mengirimi uang tambahan selain beasiswa yang aku dapatkan dari pemerintah kabupaten. Ibu berkata ingin memberi bekal pendidikan agar kelak aku mampu mengangkat derajat keluarga kami.

Tak jarang kiriman dari ibu telat ku terima, tapi dengan part time sebagai loper koran biaya hidup ku masih bisa tersambung walaupun tanpa kiriman dari ibu pada bulan berjalan.

Kini Ibu memiliki empat orang anak dan aku adalah anak sulung ibu. Dua adikku yang terakhir adalah anak yang ibu lahirkan dari ayah tiriku. Rumah keluargaku mungkin salah satu bagian mewah karna semenjak ibu menikah lagi dengan juragan karet kehidupan keluarga kami di atas rata-rata. Ayah tiriku tidak pernah membeda-bedakan aku dengan anak kandung mereka.

Derajat kehidupan kami menjadi terangkat pula karena penilaian kedudukan warga desa masih menganut faham jika harta adalah tolak ukur utama pemberian status di desa. Ayah sangat mencintai ibu, walaupun pada awalnya tidak jarang tetangga memandang negative pernikahan mereka tapi ayah tidak pernah berpaling dan mampu menunjukkan pada mereka jika cinta sejati dari hati bukan sekedar harta ataupun fisik belaka. Ayah sering bepergian ke kota untuk menjual langsung karet mentah.

“ Korban lagi tadi malam… “ kalimat yang keluar dari mulut ibu mengawali pagi

“ makhluk itu? “ jawabku

“ iya, kali ini berada di bawah lantai rumah panggung menurut keterangan korban hilangnya makhluk itu ke perbukitan arah selatan dekat rumah Aminah “

“ mereka terlalu mengada-ada ibu, bukankah Aminah yang membantu proses persalinannya lalu kenapa harus dikaitkan dengan lokasi jatuhnya makhluk itu tanpa terbukti kebenarannya ” menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimat ” Tak ku dengar kegaduhan suara apapun, apa lagi lembur mengerjakan proposal perbaikan sekolah tadi malam “  jawabku sambil menguap dan meregangkan otot punggung dengan tarikan tangan ke atas kepala

“ Jangan pulang terlalu malam Di, kasian adik-adik mu di rumah apalagi ayah masih di kota “ jawab ibu sambil menyuguhkan segelas kopi hitam pada gelas bening, kopi bikinan ibu memang tiada duanya.

“ bukankah sebaiknya ibu tidak usah buka warung kopi sampai senja bu, apa lagi Ardi sudah bekerja jadi ibu bisa istirahat saja sambil mengurus adik-adik, ayah pasti tidak berkeberatan bu “ jawab ku sambil memperhatikan ibu yang walapun sudah memiliki empat orang anak tapi masih terlihat gesit.

“ Ibu tidak ingin sepenuhnya menggantungkan diri pada ayah, apalagi jarak warung kan tidak jauh dari rumah, selama ibu masih bisa berusaha apapun untuk kalian anak-anak ibu akan dengan rela ibu lakukan agar adik-adik mu pun bisa menjadi seorang sarjana kelak, tidak ingatkah kau ketika dulu mereka merendahkan kehidupan kita nak  “ bening mata ibu terbasuh buliran air mata, menghadirkan nuansa kaca.

“ Aku tau bu, bahkan tidak pernah ku lupa ketika mereka sering meludahi ku dan menyebutku anak haram tapi sekarang ada ayah yang akan melindungi kita, aku sangat menghawatirkan ibu, apa lagi kondisi desa sedang dalam bahaya setiap malam ibu “ kekawatiran ku semakin tergambar jelas

“ Tidak usah kawatir Di, makhluk itu tidak akan membahayakan ibu, karna memang dia hanya mencari sumber kehidupannya ya…. dari darah kotor, ibu lebih menghawatirkan usia mu yang sudah matang untuk menikah anakku, cobalah mengenal para gadis muda desa yang selalu menanyakan tentangmu di warung ibu “ jawab ibu berusaha mengalihkan pembicaraan kami

” Gampang saja itu ibu ” Jawabku tersenyum

” Di, gadis seperti apa lagi yang kau inginkan? Bahkan kembang desa seperti Ratmi anak mandor tanam juga tak kau beri kesempatan ”

” Tunggu waktu yang tepat ibu ” jawaban singkat ku mengakhiri obrolan kami siang itu.

***

Sudah beberapa bulan terakhir memang desa kami diteror oleh makhluk misteri dengan penampakan kepala wanita berambut panjang tanpa tubuh dan hanya membawa bagian dalam perut saja, terbang melayang di malam hari mencari darah segar, darah kotor tentunya.

Para wanita yang melahirkan atau mereka yang membuang darah menstruasi sembarangan menjadi sasaran utama makhluk yang mereka sebut kuyang. Makhluk ini memerlukan darah kotor sebagai sumber kehidupannya, dan digunakan sebagai ilmu pengasih, penampakan wujud utuh sebagai manusia dia akan mendapat perhatian dan belas kasih dari setiap orang yang melihatnya. Rasa iba akan menjadikan korban berada di bawah kendali magis makhluk tersebut, bahkan untuk kaum hawa akan melihatnya lebih memikat pada perwujudan manusianya.

Semenjak santer kejadian penampakan makhluk itu di jam malam sekarang diberlakukan jadwal jaga malam, namun kadang kala masih saja tidak efektive selain karena jarak antar rumah warga yang berjauhan dan masih didominasi oleh semak belukar juga kondisi cuaca penghujan yang sering menghambat cakupan area jalur lintasan mereka. Tak jauh beda dengan kondisi siang, desas desus warga menimbulkan rasa saling curiga atas terror kuyang mengenai tubuh inang atau pemilik ilmu hitam tersebut.

***

Mengendarai sepeda motor hasil pemberian ayah tiriku di setiap pagi menuju ke sekolah tempatku mengajar, rute perjalanan selalu ku tempuh lebih jauh dari normalnya, karna aku lebih senang melewati perkebunan karet ayah, bukan untuk mengontrol jumlah getah yang terperangkap kaleng susu pada batangnya tapi untuk melewati rumah panggung yang terbentuk dengan bahan dasar kayu ulin berwarna coklat tua.

Rumah besar milik Aminah yang baru saja menjadi bagian dari warga desa kami setelah dipersunting pemilik lumbung, sebelum kematiannya 98 hari lalu. Kabar burung mengatakan suami Aminah meninggal karena terpeleset hingga kepalanya membentur batu kali ketika hendak mencuci kaki di saluran pembuangan air di belakang rumah milik mereka.

Pohon beringin besar yang tumbuh di depan rumah Aminah selalu menjadi kawasan favoritku karna di sana aku selalu menemukan senyum Aminah di pagi hari, sejuk nampak teduh pada bola matanya. Tajuk beringin yang rimbun mentup sebagian penampakan halaman rumah hingga menjadi penghalang alami cahaya mentari yang tak pernah sampai pada pinggiran teras rumah sekalipun.

Aminah menjadi primadona, walapun usia ku terpaut tujuh tahun lebih muda tapi tak pernah menyurutkan rasa sayang kepada Aminah yang kini menjadi bagian dari hatiku. Sebagai lelaki memang aku belum berani mengutarakan kisah cinta ini kepada ibu, mungkin nanti setelah satu purnama lagi terlewati.

Pagi ini aminah ku dapati di bawah beringin dengan serantang bekal makan siang yang nantinya menuhi lambungku.

“ Maaf aga kesiangan ya hari ini Yang ” sambil mematikan mesin sepeda motor.

“ Tak apa ka, aku tetap menunggu kakak, semur jengkol seperti pesanan kakak “ jawabnya dengan lengkungan manis di bibir sambil menyerahkan bekal makan siang

“ Waaahh…. jadi pengen nyantap sekarang Yang, oiya Yang tadi malam ada korban lagi, hati-hati ya kalau malam, warga bilang makhluk itu jatuh di sekitaran sini “ sambil ku masukan bekal dari Aminah ke dalam tas.

“ Ka Ardi… apa kakak juga percaya sama rumor seorang dukun beranak mengkaji ilmu kuyang yang sering ibu-ibu bicarakan? “ tanyanya gusar.

“ Tentu saja tidak Yang, apa lagi aku mengenalmu biarkan mereka bicara apa saja, bukankah selama membantu proses persalinan sang ayah bayipun ikut mendampingi mu, jadi apa lagi yang mereka ragukan, jikapun selalu ada tragedi buruk bukankah itu juga setelah kau sampai di rumah, percayalah aku akan coba meyakinkan ibu untuk segera meminangmu, agar mereka berhenti berfikiran buruk “ ku genggam erat tangan Aminah yang kububuhi kecupan lembut dipunggung tangannya

“ Aku lelah atas gunjingan mereka, ingin rasanya aku diamkan saja setiap kali mereka mengetok pintu rumah dan merengek agar aku membantu proses persalinan kerabat atau istrinya “ tutur Aminah pelan

“ Jangan risaukan selama itu tidak benar sayang “ berusaha menenangkan Aminah walaupun aku tau tak sepenuhnya dia merasa tenang.

***

Pukul sebelas malam, basah terguyur hujan menambah guratan kelamnya bersama lolongan suara anjing dari kejauhan, hari yang melelahkan di sekolah besok akan ada kunjungan dari Bupati, sudah menjadi tanggung jawab ku membantu membersihkan perkarangan sekitar sekolah.

Selama beberapa jam setelah pertemuan dengan Aminah masih terbayang olehku pembicaraan kami siang tadi, menurutku mereka hanya berasumsi salah, bukankah membantu persalinan ibu hamil adalah pekerjaan yang mulia, dan kenapa harus selalu dihubungkan dengan mistik sebagai tersangka utama pemilik ilmu hitam.

Masih terjaga mataku atas kegusaran yang ditambah lagi dengan ketidak bekerjanya pusat pikiran untuk memulai pembicaraan dengan ibu perihal hubunganku dengan Aminah. Segelas susu yang selalu disajikan ibu sudah tidak hangat lagi masih dalam posisi di atas meja kecil sudut kamarku, biasanya selalu ku habiskan dan terlelap jauh sebelum jam 11 malam ini.

Ibu dan Aminah, dua wanita yang selalu ingin aku jaga, walapun bisa aku bayangkan jika ibu pasti akan menetang hubunganku dengan Aminah, tapi mungkin nanti aku akan coba bicara pada ayah, menurut ayah sebagai lelaki yang pernah menikahi ibu dengan status janda juga pasti akan lebih mengerti.

Bukan hanya itu saja, seharusnya aku bisa membuktikan jika terror desa selama ini bukanlah dari Aminah, tapi bagaimana aku bisa seyakin itu jika sampai sekarang wargapun masih belum menemukan pemilik kuyang.  Jemari tanganku memijit pada kening, rokok kretek habis terhisap angin, baru sekali ku hisap tapi ternyata lamunanku lebih menarik untuk diselami.

Tooookk…. Toookkk…. Toookkk…… bunyi kentongan batang bambu menggema dan suara riuh di luar rumah terdengar beberapa orang berlarian, memecahkan lamunanku bergegas ku beranjak dari tempat tidur dan menuju pintu depan menghampiri beberapa orang yang melewati depan rumah ada yang membawa parang, bahkan tombak dari kayu yang diruncingkan bagian ujungnya.

“ Mang… ada apa ? “ tanyaku kepada salah satu pria menggunakan jas hujan

“ Ada korban lagi, kali ini kami akan mengepung rumah janda Aminah, harus dimusnahkan malam ini juga kuyang itu “ jawabnya dengan nada emosi

“ Bakar aja pak, kita hentikan terror ini “ jawab salah seorang lagi dengan emosi

Bibirku kaku terbata, Aminah… benarkah mereka menyebut nama Aminah?. Aku harus bergegas ke rumah Aminah. Aku berlari masuk ke dalam rumah mengambil jaket hitam yang tergantung di belakang pintu kamar, meraih kunci sepeda motor yang tergeletak di atas meja, setengah berlari aku mencari ibu untuk memberitahu beliau agar tetap berada di dalam rumah.

“ Ibu… ibuuuu… “ ku bentur-benturkan kepalan jemari tangan kanan pada pintu kamar ibu beberapa kali, tapi tak juga terdengar balasan ibu, aku buka pintu kamar ibu setengahnya dengan tangan kiri, namun itu tidak nampak ada di atas kasur yang terlihat tidak jelas karena gelap tanpa penerangan lampu di dalam kamar.

Ku buka lebih lebar pintu kamar ibu agar aku mampu menemukan ibu, pintu kamar tak bisa terbuka sepenuhnya. Ada penghalang di belakang pintu, ku langkahkan kaki kiri masuk ke kamar ibu lebih jauh beberapa meter. Ku tutup kembali pintu menuju sisi kanan mencari saklar lampu, agar dapat melihat lebih jelas bagian dalam kamar ibu barangkali ibu tertidur, ternyata ibu tidak ada di sana, tapi ibu ada di balik pintu kamar lututku gemetaran, mataku terbelalak cekat pada tenggorokan hampir tak percaya atas apa yang kulihat, bukan ibu sepenuhnya hanya sebagian tubuh ibu tanpa kepala, ternyata ibu ku yang…

 

 

 

 

Debur ombak hati

Namanya Debur Ombak Selatan.
Oke, orang tua macam apa yang menamai anaknya Debur Ombak Selatan. Namun begitulah dia mengenalkan diri kepada ku. Lelaki tanpa menggunakan pakaian dan hanya mengenakan celana pendek basah berwarna merah, tinggi badan ku hanya sebatas bahunya saja. Lelaki ini berhasil mencuri perhatian ku bukan hanya pada ketika dia menyebutkan namanya yang tak lazim diberikan. Kulit tubuhnya berwarna coklat, tak hanya celananya saja tapi seluruh badannya basah. Keunikan lain dari dirinya terletak pada sekat jemari kakinya yang tersambung oleh selaput tipis seperti pori kulit, tapi pada tatapan matanya yang teduh dan terlihat begitu penuh rona kebahagiaan pada lengkung bibir dan ekor mata yang selalu mengikuti gerakan ku. Lelaki yang menjadi goresan emas pada jingganya cerita kedatanganku di Jogja.

Pertemuan kami di pesisir parangtritis pantai selatan kabupaten Bantul memulai sebuah cerita yang hingga kini tersimpan di sudut hati. Mentari tak lagi berada pada puncak kepala ketika aku masih disibukan dengan memasukkan kaleng bekas minuman dingin atau juga plastik-plastik pembungkus makanan kecil yang ditinggalkan para pengunjung pantai ke plastik hitam berukuran lebih besar dari tubuh ku. Aku mencintai senja di pantai tapi aku sangat tidak menyukai jika pantai dinodai dengan sampah-sampah. Pilihan yang tepat di ujung field trip kantor memilih pantai indah ini sebagai tujuan akhir perjalanan kami, tidak sia-sia menghadiri event yang diadakan kantor perwakilan Jogja yang harus memaksaku jauh bertandang dari Jakarta. Bukan hanya senja dan pantai tapi juga Debur Ombak Selatan alasanku memilih meninggalkan kelompok rombongan agar mampu lebih membebaskan diri menyelami gulungan perjumpaan kami.

Untung saja aku memang mempersiapkan membawa hot pants biru laut dengan motif kerang berbagai warna dan mengenakan kaos hitam V neck yang dipadu dengan sandal japit merah, cepolan rambut yang menjadikan leherku tampak jenjang dengan sunglasses bersarang di atas kepalaku. Daily activities kerjaku yang membuat aku semakin tenggelam menjadi budak kapitalis, berangkat tekita matahari belum tampak dan pulang ketika senja tak lagi bersisa. Bertemu dengan rekan kerja yang bisa dibilang itu-itu saja. Hal tersebut yang membuat aku selalu menyenangi bertemu dengan orang baru dan saling bertukar cerita, seperti warna lain pada sepotong rainbow cake di etalase toko kue. Tak jarang weekend pun ku habiskan dengan menyelesaikan pembukuan kantor, pekerjaan yang selalu aku kerjakan di jam extra karena memang semenjak kakakku melanjutkan study di Luar Negeri aku harus menghandle semua pekerjaan yang selama ini menjadi tanggung jawabnya.

“ kamu penjaga pantai ? “ tanyaku

“ iya tapi bukan seperti mereka “ jawabnya tersenyum seraya menunjuk para lifeguards yang memegang teropong tak jauh dari kami. Debur Ombak Selatan membantuku mengikat ujung plastik dengan kedua sisi yang dia jadikan simpul, kerutan keningku tak serta merta hilang mendengar jawban singkatnya.

“ Terimakasih sudah membantuku mengumpulkannya sampah-sampah ini “

“ Sudah tugas ku juga “ jawabnya tersenyum dan duduk di sampingku yang berapaskan pasir pantai yang hitam.

“ Ombak, kamu petugas pembersih pantai ya? “ tanyaku kembali, mencuri pandang ke arahnya.

“ Aku melakukan semua hal di sini “ singkat namun aku tetap saja menyukainya.

Jingga terhampar luas pada lembayung langit pantai, sungguh perpaduan yang sempurna antara deburan ombak berkejaran habis di ujung jemari kakiku. Namun Debur Ombak di sisi kiri ku tak pernah habisnya mengejar deru degup jantung di ujung cakrawala meleburkan jingga menjadi merah jambu. Ornament merah jambu menyeruak seketika oleh mu, Ombak. Terlalu dini untuk disebut cinta namun tidak salah jika aku memang menyukai Ombak pria berkaki selaput ini.

“ Kau suka senja? “ tanyaku

“ aku menyukai orang sepertimu yang peduli pada pantai, apa kau tau akan selalu ada penjaga pantai di parang tritis ini untuk menjaga rumahnya agar tak terusik oleh manusia dengan racun yang mereka tinggalkan begitu saja di halaman kerjaan mereka “ jawabnya.

Tiba-tiba kali ini dia mengeluarkan lebih banyak kata, dan aku hanya menggigit bibir menggelengkan kepala dengan pandangan yang masih tertuju pada senja, namun aku tau kali ini dia yang memperhatikan aku. Mungkin jika dia menanyakan masalah debur ombak hati maka aku akan menjawab lebih panjang dari kalimat yang barusan dia lontarkan, hanya saja sepertinya gemuruh ini kurang menggema hingga hanya aku yang mampu mendengarkan dan belum tersampaikan pada halaman hatinya. Apalagi jika ketika dia memujiku atas kepedulianku terhadap kebersihan pantai, sorot mata tidak beradu dengannya namun indera pendengar tetap terfocus utama pada suaranya.

“ Dimana rumahmu ? “ tanyaku ketika senja mulai terenggut oleh malam perlahan.

“ Di sini “

“ Di Bantul maksud mu ? “ perlahan muncul keresahan karena senja mulai terenggut paksa oleh langit gelap, dan itu berarti Bus rombongan yang aku tumpangi akan segera meninggalkan pantai Parangtritis ini. Pada detik terakhir aku tak ingin menyiakan kesempatan agar nanti kami selalu dapat berkomunikasi.

“ Iya, di sini “ Ombak tersenyum dan beranjak dari posisi duduknya.

“ Apa kau tidak memberiku nomer ponsel atau sosial media agar kita dapat berkomunikasi setelah ini? “ tanyaku melihat tubuh jangkungnya yang nampak lebih tinggi karena posisi duduk ku.

“ Apa itu ? “

“ Nomer telpon “ belum selesai ucapanku dan dia berjalan perlahan meninggalkan aku, akupun berdiri mengikutinya dari belakang seolah enggan menyudahi perjumpaan kami.

“ Aku tidak tau apa itu, aku harus pulang, perjalananku jauh “

“ Ombak, apakah kita akan bertemu lagi, atau kau bisa menumpang Bus milik rombonganku“

“ Debur Ombak Selatan adalah namaku dan aku penjaga pantai parangtritis ini, di sinilah rumahku, kedua kaki katakku sudah cukup membantuku menuju rumah, saatnya aku pulang Jingga “ sedetik aku memperhatikan bagian kaki Ombak yang berselaput di antara sekatan jari, kemudian menatap senyum pada lengkung bibirnya.

Jilatan ombak pantai semakin memburu, senja tak lagi bertahan dengan jingganya. Belum lagi aku mendapatkan nomer ponsel atau akun sosial media milik Ombak namun terus berjalan menuju air pantai. Jingga, dia menyebut namaku, dari mana dia mengetahui namaku sedangkan selama pembicaraan kami tak pernah ku sebutkan namaku. beberapa crew rombongan sudah meneriakan namaku memanggil beberapa kali.

Bergegas aku berlari kecil berbalik arah mengambil kantong plastik sampah di dekat tempatku duduk bersama Ombak sebelumnya, dan ketika pandanganku kembali ke arah pantai dimana Ombak berdiri, tidak ku temukan sosoknya pada posisi itu. Akupun tersenyum dan meninggalkan cerita penjaga pantai yang mampu merasuk dalam hatiku tanpa dia sadari, namun mungkin kelak akan ku temukan sendiri penjaga hatiku mungkin di pantai lain ketika debur ombak menjaga senja yang jingga tau mungkin juga ditempat ini.

Lingga!

1. Lingga

“ hah… Pindah?? Ke kalimantan?? mengapa kau memutuskan besok untuk mengambil pekerjaan di pedalaman Kalimantan ling? “

“ harus pertanyaan itu aku jawab? Sudah sore, pulanglah nay, besok hari besarmu, alasan apa yang akan kau berikan jika mereka mengetahui keberadaanmu di sini “

“ jakarta – bandung, masih bisa ditempuh setiap dua bulan sekali kau selalu di sini, bagaimana dengan Kalimantan – bandung ling? “

“ dimanapun aku berada bukankah selama ini kehadiranku selalu tak pernah absen di tab mention mu Nay, wajahmu pucat sayang ”

” kalimantan jarak yang jauh Lingga.. ”

” apa yang kau takutkan dari jarak geografis atas kepindahanku Nay? Bukankah untuk jarak hati kau terlebih dulu berkemas ”

” Lingga, tidak semudah memindahkan karakter dari akun twiter yang satu ke yang lain, begitu juga dengan hati yang sudah berumah padamu ”

@LingLung: tak semua cinta mampu dimiliki, hanya cinta sejati yang tak pernah mati

Nayla rendrani, yang ku kenal melalui social media berlogo burung biru, tak banyak dimengerti memang tapi benar adanya cinta mampu hadir bahkan ketika kita belum pernah melihat sosoknya. Menjalani hubungan layaknya pasangan lain yang mengutuk jarak mereka sebut Long Distance Relationship. namun benar adanya jarak raga tak menjadi soal ketika rasa tak berjarak. Satu tahun kehadirannya di hidup ku, layaknya tanaman yang memerlukan hujan, dengan kehadiran ku setiap dua bulan sekali adalah kesejukan bagi rindu kami.

Namun desember ini bukan lagi bulan kami, seharusnya memang aku belajar berenang sebelum menyelami hatinya, seharusnya aku membawa serta antiseptic ketika hendak bermain dengan cadasnya tebing hati. Tidak ada yang salah dari kami, cinta ataupun keadaan, karna semu cinta seperti permainan dunia nyata justru hati selalu nyata. Nayla rendrani gadis mungil yang tak lebih tinggi dari bahu ku, memiliki rambut ikal dan bermata bening hitam, sungguh ku cintai.

“ setelah besok, apakah kau akan meninggalkan ku juga? Bukankah selama inipun kita masih mampu berjalan bersama “

“ yang jelas setelah besok aku bukan lagi sebagai orang ke tiga dari pasangan pacaran tapi kamu sudah menjadi istri sah dari Yusda, kaupun sudah akan pindah dari status menikah Nay “ aku tersenyum pada Nay dan beranjak pelan keluar dari lobby hotel untuk menuju taksi berwarna hijau yang baru saja tiba di pintu depan hotel agar Nayla segera meninggalkan hotel.

“ sampai berjumpa besok pagi nona, jangan lupa singgahlah ke apotik. Wajah mu begitu pucat belilah obat untuk asam lambung mu segera “

“ apa kau tidak ingin memiliki ku sepenuhnya Ling? “

“ pertanyaan atau sekedar basa-basi di waktu yang terlambat?, kamupun pasti tau seberapa besar cintaku“ aku mengerutkan kening dan menutup pintu taksi

@LingLung: kebahagiaan mu @NayLove  adalah yang utama untuk ku, tersenyumlah sayang

            @NayLove: Apapun yang terjadi jangan pernah pergi dariku @LingLung

2. Nayla

@NayLove: Cinta itu tidak untuk menyakiti, aku merindukan mu

Lingga Anggara, bukan hal gampang menjatuhkan hati pada sosok yang selama ini mengisi hati. Lelaki lulusan teknik geologi yang selalu mengenakan kemeja flannel dan sepat converse dekil, sederhana namun nampak istemewa untukku. Lingga yang tak pernah meninggalkan tas ransel berisikan buku bacaan kesayangannya tentang revolusi Negara tetangga ataupun sastra menjadi terlihat makin sempurna di mataku. Seharusnya memang sejak awal aku menceritakannya tentang komitmen ku dengan pria yang lebih dulu ada, Yusda seorang kapten kapal pesiar yang selalu disibukan perihal pernafkahan dengan rute pelayaran lintas negara. Kekosongan itu yang membuat sebagian hati terbagi oleh kehadiran Lingga yang aku kenal melalui jejaring sosial.

Perubahan bentuk fisik yang semakin berisi sesungguhnya membuatku kawatir atas komentar beberapa sahabat, mungkin saja karena tingkat depresi menekan hormon hingga mengabaikan irama jadwal makan dan lebih mengisi silabu kepala dengan segala hal tentang kebersamaanku dengan Lingga bukan Yusda calon suamiku.

Tak banyak yang aku tau tentangnya karna memang selama ini aku lah yang selalu bersandar hingga aku lupa mengenal dia yang aku cintai. Tentang hari pernikahan tidak bermaksud menyembunyikan dari Lingga, hanya saja tak kuasa aku melihatnya terluka namun seharusnya aku jujur tentang ini. Andaikan saja Lingga menahanku untuk tidak memasuki altar prosesi besok dan membawaku pergi pastilah aku akan sangat bahagia memilih jalan itu, namun ku sadari mungkin dia tak sebegitu cintanya denganku.

@LingLung: hai nona @NayLove sempet ke apotik kan? Minum obat dan tidurlah

            @NayLove: iya tuan @LingLung aku ke apotik tapi tidak membeli obat, temani aku sejenak

            @LingLung: pukul 2 pagi nona @NayLove, besok aku akan menjadi tamu pertama untukmu

Tentang harapanku yang tersimpan pada tetes hujan yang mengetuk jendela kamar, ingin rasanya aku berlari menuju hotel Lingga berada, menampar hatinya agar tersadarkan jika aku sangat mencintainya dan bukan Yusda yang ku inginkan esok hari mengucap sumpah pernikahan. Aku sangat merindukannya, pelukan hangatnya ketika sehelai selimut menutupi tubuh ku, betapa sungguh kenangan yang tak pernah ku lupa, kami menghabiskan malam dengan cinta, seperti senyumannya ketika tepat berada di atas tubuhku. Tidak semua yang terjadi di dunia maya tidak berasa nyata, masalah hati misalnya dan itu bukan sekedar permainan belaka. Lingga yang selama ini menjadi pengantar tidurku, bahkan dialah yang dengan sabar selalu merawatku jika demam mulai mengusik, Jakarta – Bandung bukan hal sulit baginya walapun hanya sekedar memastikan aku baik-baik saja. Ku tinggalkan sejenak Lingga yang membalas mention teman maya seraya mengambil kantong plastik dari apotik menuju kamar kecil terasa berat, terlebih lagi air mataku tak berhenti mengalir, dengan bunyi notif dari gadget membuat kesadaranku tetap terjaga jika Lingga masih di sana, di tempat pertama kali aku mengenalnya. Rasa kantuk dan letih tak lagi tertahan hanya mampu melihat mentionmu

@LingLung: aku sangat mencintai mu @NayLove, dan tak akan pernah terpungkiri

            @LingLung: selamat menempuh hidup baru cintaku, bahagialah

            @LingLung: Semua cerita indah akan selalu tersimpan

3. Lingga

Beberapa kaleng bir tergelatak di samping televisi yang masih menyala, aku menemukan diriku dengan air mata yang tak henti duduk beralaskan ubin putih, masih tentang kenyataan yang tak mampu ku terima, baru saja kemarin aku rasakan bahagia memiliki seorang yang sangat ku cintai, tapi besok harus ku hadapi dengan kenyataan menghadiri pernikahannya, siapalah aku yang hanya sebagai selingannya saja, bahkan untuk memintanya bertahanpun tak ada hak. Aku hanya berfikir jika memang harusnya dia bahagia walau tanpa ku, sedetik ku urungkan niat untuk menghadiri hari pernikahannya yang juga hari kehancuran. Ku raih laptop dan mulai saja jemariku menuliskan surat elektrik untuknya

To: Naylaprayapta@yahoo.com

From: LinggaLung@yahoo.co.id

Sayangku Nayla, aku tau sekarangpun kau sudah terlelap hingga tak kau tau betapa hancurnya hatiku saat ini. Maafkan aku, aku tak mampu hadir di gereja berada pada barisan depan bangku itu, aku hanya tak ingin merusak kebahagiaanmu. Apa yang terjadi di antara kita adalah keindahan yang tak terganti, aku sangat mencintaimu hingga keinginan memilikimu selamanya adalah ego. Namun mungkin aku tersadarkan jika tak pantas untuk ku menghancurkan masa depan kalian. Nayla sayangku, rasanya terlalu sepi kamar hotel ini tidak seperti ketika kita menghabiskan malam dengan dekapan erat pelukan ku. Yusda bukan aku, tapi dialah yang nanti akan memilikimu sepenuhnya, cintai dia yang ada saat ini walapun tak mampu memiliki cinta kita, berbahagialah Nay. Akan ku permudah semua jalan untuk kebahagiaan mu, malam ini adalah kisah terakhir dari cinta kita. Mungkin semuanya sudah terlambat tapi aku begitu mencintaimu Nay, dengan seluruh hatiku. Alangkah cantiknya esok kau akan mengenakan gaun putih itu. Kau bukan hanya kesenangan sesaat, hanya saja aku yang terlena hingga sangat dalam cinta ini. Aku tak ingin menatap penuh luka hari bahagiamu, akan aku ikhlaskan semuanya, berbahagialah kekasihku.

Withlove, Lingga J

Sent.

Pukul 4 dini hari, ku kemasi semua barang, dalam tas ransel, ku keluarkan sim card dari gadget dan meletakkannya di atas meja kecil, dan meminta receptionis untuk menyiapkan mobil menuju Bandara Soekarno Hatta. Bukan hanya raga yang harus pindah tapi juga hati yang ku kemas kembali, mematikan laptop dan meninggalkan hotel, kulakukan hal terakhir sebagai penutupnya, menghapus akun jejaring sosial, *delated*

4. Nayla

Kepalaku terasa berat seperti ratusan beton menggelayut setelah perdebatan dengan Lingga semalam, terbangun aku oleh suara ketukan pada pintu kamar, tak lain adalah suara ibuku yang memberi perintah agar aku mempersiapkan diri akan kedatangan para juru rias pengantin. Perlahan mata ku buka, jemari tangan masih tergenggam test pack dari apotik yang tadi malam baru ku gunakan, iya aku bukan membeli obat asam lambung tapi alat test kehamilan, mata ku bergerilya dan melihat garis merah dua, seketika bibirku mengucap pasti “ LINGGA!! “

Ibu, aku pulang

Huufff….. dengan perasaan jengkel aku membuka pintu kamar mess yang terletak di dekat pabrik tempat ku bekerja, mess ini terdiri dari beberapa kamar yang memang disiapkan oleh perusahaan untuk menunjang fasilitas tempat tinggal bagi beberapa karyawan, ini kali pertama aku memutuskan untuk meninggalkan rumah setelah berkali-kali pertengkaran dengan adik lelaki yang berakhir dengan pembelaan ibu jatuh di namanya. Lelah aku dengan suasana ketika tidak ada keadilan lagi, apakah mungkin hukum tak jelas jika seorang kakak harus selalu mengalah kepada adiknya juga berlaku, bagaimna dengan dikumpulan keluarga lain?, entah lah yang pasti hari ini kejengkelan ku di batas puncaknya.

Kasih sayang ibu sedari kecil tak pernah sepenuhnya aku rasakan, dulu ibu tidak pernah menanyakan kabar aku sepulang sekolah ataupun sekarang ibu juga tidak pernah memeluk disaat penatnya mengurus pekerjaan kantor. Iya, masalah di pabrik yang sering kali ada ancaman tindak kriminal seperti halnya ancaman yang bersentuhan dengan hukum atas sikap kecewa para karyawan menerima peraturan baru perihal penambahan jam kerja, yang tidak bisa menempatkan otak lebih dahulu dari pada otot. Walaupun hanya sekedar ancaman namun cukup membuat karyawan seperti aku untuk lebih waspada lagi. Tapi justru neraka dunia dan ancaman keselamatan justru aku temukan di rumah, yang kata mereka tidak ada tempat ternyaman selain rumah, tapi tidak berlaku untukku.

Semenjak kecil aku selalu membantu ibu memenuhi kebutuhan hidup seharu-hari, bangun kala mentari belum menyentuhkan raga pada bumi, yang bahkan sebagian besar anak seusiaku mungkin masih meringguk di dalam selimut tapi aku sudah membantu ibu menyiapkan dagangan. Hingga dewasa kinipun aku masih membantu ibu demi menjaga kepulan asap di dapur agar tetap hangat, oh bukan itu saja tentunya demi batangan rokok dan pulsa yang harus selalu terisi milik adik ku.

“ Berantem lagi dengan Wahyu? “ tiba-tiba Rosi temen satu kantor penghuni kamar sebelah yang sudah terbiasa mendengarkan keluhanku masuk ke dalam kamar sambil mengunyah keripik singkok dengan bungkus berwarna kuning yang masih ada di tanggannya. Rosi dan aku memiliki jabatan sama selevel supervisor beda shift kerja, dan memiliki keuntungan bisa menggunakan mess kapan saja.

“ iya, dan kali ini lebih parah dia mengambil jam tangan ku dari kamar dan menjualnya dengan menukar sebotol minuman keras, dia saat aku tanya dengan nada tinggi dia malah melemparkan asbak ke arahku, tapi yang sangat aku sesalkan lagi-lagi ibu membelanya “ jawab ku kesal.

“ kan semua masih bisa dibicarakan, pulanglah… kasian ibu mu tanpa kamu bagaimana beliau ke pasar membeli dagangan atau siapa lagi yang akan membantu setiap pagi ? “ nasehat rosi

“ ada saja anak ibu yang gagah dan tidak mau bekerja itu, ibu tidak pernah menyayangiku dan justru menyalahkanku dengan alasan aku tidak berhati-hati menaruhnya, lagian untuk apa terlalu ngoyo berjulan sedangkan kebutuhan harian ibu juga sudah aku penuhi, ibu bekerja banting tulang cuman untuk dikasih ke Wahyu saja “

“ Mira, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya dan… “

“ udah ros, aku mau mandi dulu, aku masuk pagi kan hari ini “ belum juga Rosi menyelesaikan kalimatnya aku sudah memotong dan menenteng handuk putih masuk ke kamar mandi ujung kiri kamar berukuran 10 x 15 meter itu.

***

Dua hari sudah aku tak pulang ke rumah dan ironisnya ibu tidak juga mencari dengan cara menelpon atau mengirimkan pesan singkat, mungkin dengan kepergianku adalah cara terbaik menyudahi pertengkaran dan dengan begitu juga ibu tidak perlu memarahi atas kesalahan yang seharusnya bukan menjadi bagianku. Ku samarkan kepedihan pertengkaran terakhir kami dengan cara melarutkan dalam tumpukan pekerjaan kantor. Sambil meraih nasi bungkus yang selalu Rosi tinggalkan di gagang pintu kamar aku membuka pintu kamar dan menyantap sebungkus nasi dengan lauk sambel goreng hati, tumis kacang serta ayam crispy dengan sedikit sambal mentah. Rosi memang sahabat yang mengerti kondisi serta selera lidahku, selama beberapa hari ini selalu dia menyiapkan sebungkus makan malam ku.

Kenikmatan sambel goring hati kesukaan ku terasa begitu perih di tenggorokan saat sepintas kerbayang kembali kejadian pertengkarang dengan ibu kemarin, mungkin saja aku bukan anak ibu hingga setelah kepergian ayah semua kasih sayang ibu hanya diberikan kepada adikku saja. Untuk anak lulusan Sekolah Menengah Atas menurut ku sudah tak sewajarnya dia menggantungkan hidup hanya kepada ibu. Seberapa banyakpun uang yang dia terima selalu habis hanya untuk makan di café bersama pacar ataupun berfoya-foya di kawasan perbelanjaan bersama temannya. Mungkin sepotong steak yang dia gigit terasa sangat asin karna di dalamnya ada keringat seorang ibu, tapi sayangnya ibu tidak merasakan sedih melihat kondisi anak lelakinya itu, justru aku yang tak pernah berhenti selalu mencoba membicarakannya dengan ibu agar member teguran kepada Wahyu untuk mulai bersikap dewasa setidaknya mencari pekerjaan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

“ mir… miraaaa….. “ tergopoh-gopoh Rosi berlari membuka tanpa izin pintu kamarku.

“ duh Ros wei weeiii calm down girl… kek dikejar hantu aja deh, apaan sih… “ jawabku sambil membereskan sisa bungkusan nasi

“ kamu harus pulang! Ibu mu masuk rumah sakit ! “ dengan nafas masih tidak beraturan

“ ga ah, kan ada dokter di sana. Lagian buat apa kalau mereka perlu aku pasti akan menghubungi aku bukannya kamu Ros “

“ Mir, mana hp kamu, coba cek dulu aktif ga “ seraya mengambil hp ku di atas meja dan menunjukkan layar lebih dekat dengan mataku.

“ oh iya mati habis baterei, nanti deh Mir, aku tau pasti ibu pun tidak memerlukan aku “

“ jaga bicara mu Mir, ibu mu sangat menyayangi mu bahkan dengan cara yang tak pernah kau tau, kau fikir selama ini dari mana asal nasi bungkus yang kamu makan setiap malam ? itu ibu mu yang jauh-jauh sengaja datang ke mess untuk menggantungkan makan kesukaan mu “

“ kamu bercanda kan Ros ? “ nafasku terasa sesak mendengar ucapan Rosi

“ tidak ada yang harus dibercandain saat ini, dan asal kau tau saja ibu mu sakit karna terjatuh dari sepeda saat pulang dari mess sore tadi “

Rosi menepuk bahuku pelan dan tanpa berfikir panjang akupun memutuskan untuk pulang ke rumah, aku tidak mengerti tentang kemasan kasih sayang yang ibu berikan pada ku, tapi kejadian hari ini cukup membuatku tersadar jika saat ini tubuhku sangat ketakutan dan yang aku harapkan hanyalah sampai dengan cepat di rumah. Aku mengutuk diriku sendiri atas semua sikap ketidak pedulianku terhadap ibu.

Sesampai di rumah, aku menuju kamar ibu dan aku dapati ibu terbaring lemah dengan beberapa anggota keluarga yang kemudian mereka meninggalkan ku berada dalam kamar ibu, ku pandangi lekat rambut ibu yang mulai memutih, kerutan di sudut mata, aku sentuh perlahan kening ibu yang tertidur, dan tangan ibu bergerak pelan memegang jemari tanganku erat.

“ nak, maafkan ibu.. ibu bukan tidak menghubungi mu, tapi itu semua karna ibu tidak berani mengganggu sendiri mu. Dan pula hp ibu jual untuk menebus jam tangan yang dijual adik mu. Selama ini ibu bekerja hasil dari dagangan ibu tabung nak, untuk tambahan beli sepeda motor agar kau tidak lelah setiap hari naik angkot ke kantor. Ibu tidak pernah membedakan kasih sayang hanya saja ibu memiliki cara yang berbeda untuk menjaga kalian. Kamu adalah kebanggaan ibu, kekuatan ibu, sedangkan adik mu memang perlu perhatian lebih dari ibu “

Bibirku terkunci, bening air mata yang menetes tanpa henti, aku tak pernah menyangka sebegitu besar pengorbanan ibuku, malaikat pelindungku yang dalam diamnya selalu menjagaku. Aku yang selama ini buta dan tidak pernah tau sebegitu besarnya perhatian ibu.

“ nak, ibu tidak ingin kalian selalu bertengkar, maafkan ibu jika masih belum cukup bisa menunjukkan kasih sayang ibu, hanya kalian yang kini ibu punya. Ibu selalu ingat makanan kesukaan mu, ibu selalu kirim nasi buat makan malam barang kali kau rindu masakan ibu, setiap malam ibu selalu menangis merindukan mu nak “

Tubuhku dingin, tangisku semakin membasahi rasa bersalah, yang aku pikirkan kini hanya ingin membahagiakan dan menjaga ibu, yang ku inginkan kini selalu berada di dekat ibu. Ternyata Tuhan mengirimkan aku seorang malaikat tanpa sayap yang selalu mengajari aku tentang kesederhanaan, tentang menjadi orang yang kuat di atas tempaan hidup, dan ibu pula yang mengajarkan aku tentang ketulusan.

“ ibu, aku sekarang sudah pulang “ jawabku.

 

Keberuntungan yang mengelepar

Cerita ini di awali dengan peranan penting seorang anak tunggal dari konglomerat pemilik perusahaan batubara dan hampir menguasai sebagian besar area pertambangan di pulau Kalimantan. Seorang pemuda yang memiliki gelar magister of business administration dari Harvard university di usia terbilang muda, bukan hanya pengaruh materi yang dimiliki oleh orang tuanya tapi dengan kemampuan kinerja isi kepalanya hingga mendapat predikat lulus dengan sangat memuaskan. Semenjak bapak Wiryawan ayahnya mengalami heart attack tahap pertama setahun lalu, maka seluruh kepemimpinan perusahaan kini berada di tangan Selvano pasifik wiryawan. Untuk ukuran pria yang memiliki wawasan cukup luas belajar memegang perusahaan raksasa bukanlah hal yang sulit, Ryan Harjuno sahabatnya yang selalu membantu tiap batu sandungan dalam dunia bisnis. Ryan merupakan anak dari sahabat bapak wiryawan. Ryan memiliki pengalaman cukup lama dalam dunia bisnis, karna semenjak lulus dari Fakultas ekonomi universitas pajajaran dia sudah berkecimpung dalam arena bisnis dan menunda jenjang pendidikan berikutnya. Bagi bapak wiryawan Vano adalah kebanggaan seperti posaidone pada lautan birunya.

Vano selalu menghabiskan delapan puluh persen dari 24 jam nya di kantor, cozy place untuk vano di ruangan berukuran 15 x 25 meter yang jika siapapun memasuki ruangan ini dapat menebak hobby vano secara langsung. Dinding samping kiri pintu dipenuhi oleh beberapa foto tertempel di tembok dengan bingkai kayu coklat, beberapa diantaranya memperlihatkan moment vano ketika berhasil mengangkat jorang berbagai macam expresi kegembiraan vano memegang makhluk mata rantai medium di lautan sekelas giant travelly atau flying fish, namun ada juga ketika vano memegang ujung kail yang tertelan oleh seekor clown fish. Di bagian depan sudut pandang dari pintu ruangan vano terdapat meja kecil dengan miniature perahu pinisi buah tangan Adriene seorang dokter muda di rumah sakit swasta kota kembang yang bulan depan akan menjadi istrinya. Dan beberapa foto dalam satu bingkai antara dia adriene dan ryan yang merupakan teman sepermainan sejak kecil yang kemudian Bapak Wiryawan sekeluarga memutuskan untuk hijrah ke kota megapolitan Jakarta, dan Vano melanjutkan study di Amerika meninggalkan kekasih dan sahabatnya di kota kembang. Meja kerja vano di ujung bagian kiri foto kedua orang tuanya dan samping kanan glasess bowl berisi seekor ikan koi kecil seukuran kelingking jari orang dewasa yang memiliki warna merah hitam. Bagian belakang meja kerjanya terdapat lemari untuk memajang koleksi wine yang dia bawa dari beberapa negara, vano menenggak wine hanya untuk semacam selimut tipis kala dingin malam menusuk pori kulit.
Vano selalu datang pagi bahkan lebih pagi dari karyawannya, tapi aku begitu special hingga berada dalam satu ruangan yang sama dengan vano. Walaupun sudah berada di ambang perkawinan tapi pesona vano selalu mendapat perhatian lebih dari kaum hawa, pun begitu dengan Terry sekretaris pribadinya. Bentuk rahang vano yang simetris ditopang dengan leher kokoh dan jambang tipis terawat menghiasi rahang hingga dagunya. Pria yang memiliki bibir kemerahan dan kulit bersih perpaduan indo sempurna campuran Amerika dan jawa. Sayang sekali aku vano tidak pernah bisa mengalahkan aku dalam hal berada di dalam ruang kerja, aku selalu menjadi pemenangnya. Hari ini lelaki yang memakai kemeja putih itu terlihat lebih berantakan dari biasanya, aroma bvlgari aqua tak pernah hilang dari tubuhnya, tumpukam kertas file sedari tadi tak juga tertata rapi, sambil menghentikan gerakan jemarinya di permukaan laptop, Vano menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat.

“ hari ini begitu banyak yang harus aku kerjakan, big projek berbulan-bulan deadline besok dan tender itu tetap harus aku dapatkan, bantu aku ya “ vano tersenyum ke arahku, sungguh menenangkan, belum sempat aku membalas ucapannya vano sudah berbicara melalui line telpon

“ Ter tolong appoitmen saya hari ini di cancle semua, saya harus menyelesaikan deadline “ ujung jempol kanan vano menekan pusat keningnya, tampaknya terry berada di ujung pembicaraan.

“ no… no ter, tanpa terkecuali ok! Nanti biar saya telpon Adriene supaya Ryan saja yang jemput ke bandara “ sepertinya terry berusaha memberikan penjelasan namun nada suara Vano sedikit meninggi dan diakhiri dengan mengembalikan gagang telpon pada tempatnya.

Ryan berada di Jakarta sejak beberapa hari lalu dengan dalih ingin menyelesaikan beberapa urusan penting, namun Vano masih belum memiliki waktu untuk menjumpai sahabat kecilnya itu. Vano ingin terlihat sempurna sebagai seorang keturunan Wiryawan yang kemampuan memegang perusahaan harus mendapat pujian dari ayahnya. Adriene hari ini landing di soeta airport dari Bandung. Sudah sangat jarang mereka bertiga bisa berkumpul bersama sekedar quality time seperti masa SMP dulu.

Senja tak pernah ingkar menyapa, walaupun hanya sejenak namun senja adalah janji semesta yang tak teringkari dan tak terelakkan. Apalah arti senja bagi seorang Selvano pasifik wiryawan yang lebih mengutamakan pekerjaan dari pada mengisi perutnya dengan sepiring nasi padang di ujung blok perkantoran dan menguapnya janji untuk menelpon calon istrinya. Sindrom pranikah, benarkah itu yang menyebabkan tingkat stress vano semakin meningkat atau hanya ambisi untuk mengejar prestasi kerja yang membuatnya semakin tenggelam diantara tumpukan kertas-kertas kerja. Apalah aku yang membuka mulut untuk mengingatkan makan siang pun tak berdaya, hanya mampu ku curi pandang guratan wajahnya yang tak jarang tampak lelah, hingga senja menjemput diamku bersama pujaan hati yang ku cintai sendiri. Crowdednya suasana kantor mulai berkurang seiring dengan satu persatu lampu ruangan menyala, pertemuan alas sepatu dengan lantai kantor menciptakan bunyi berirama memecah diantara konsentrasi kerja Vano ketika pintu ruangan terbuka.

“ Adriene… hunny… kamu.. kamu ada di sini “ dengan terbata Vano menghampiri Adriene yang masih berdiri di depan pintu. Aaahh… betapa aku tidak menyukai pemandangan ini, baru saja ingin aku habiskan malam ini dengan Vano tetapi kehadiran Adriene yang mengenakan dress merah maroon nampak sepadan dengan heels 17 centimeternya. Adriene memiliki paras cantik dengan keanggunan khas perempuan berdarah sunda. Tas jinjing berwarna merah jambu diletakkan di atas sofa sambil berjalan menuju arah ku, dapat ku perhatikan Adriene menghindari pelukan dari Vano. Adriene tersenyum ke arahku berdiri di sudut meja kerja Vano, tapi sedikitpun aku enggan membalas senyuman itu dengan ketulusan.

“ Vano.. sebenernya aku berharap tadi kamu yang jemput aku ke bandara, bagi kamu mungkin sepele tapi aku cuma pengen di yakinkan hari ini jika masih ada rasa peduli mu terhadapku ”

“ maaf sayang… aku beneran sibuk hari ini, tapi ada ryan kan? “

“ Van, kapan kamu punya waktu untuk ku? Bahkan kamu tidak pernah peduli akan pernikahan kita, iya Ryan selalu ada kapanpun saat kehadiranmu hanya sebatas janji tak berkesudahan“

“ tidak bertanya keadaan mu bukan berarti juga tidak peduli terhadap kehidupan mu “ Vano duduk di sofa dan melonggarkan ikatan dasinya, terasa sesak.

“ Bagaimana bisa yakin aku akan baik-baik saja karna ketika absensi kekawatiran yang kau lewatkan terisi oleh kehangatan lain “

“ apa maksud mu sayang ? semua yang ku kejar saat ini hanya untuk mu bahkan aku selalu merindukan mu“

“ Vano.. aku menyerah, ternyata kesibukanmu sudah menenggelamkan keyakinan ku untuk merajut mimpi indah satu kapal pernikahan, hadiahi aku dengan hati bukan dengan harta yang masih bisa ku cari sendiri “ air mata adriene menetes pelan

“ tunggu sayang.. katakan jika ini hanya lelucon, tidak… tidak bisa semudah ini, pasti salah “ Vano mendekat ke arah Adriene dengan wajah pucat sepertinya seluruh aliran syaraf darahnya tak bergerak normal

“ tidak ada yang salah Van, aku memiliki mu tapi aku tidak memiliki hati mu. Semua terasa hampa sampai pada ketika Ryan yang kau utus untuk menemaniku justru mengisi kekosongan itu perlahan, iya Vano aku ingin membatalkan pernikahan kita, tak kutemukan nuansa cinta di antara kesibukanmu memupuk kekayaan hingga kau lupa harta mu sesungguhnya “ Adriene mengelus pundak Vano yang terpaku tanpa reaksi sedikitpun.

“ kenapa Ryan, kenapa baru sekarang, bagaimana pernikahan dan orang tua kita, cintaku satu dan itu hanya untuk mu “ kedua tangan menyentuh permukaan meja hingga menopang tubuhnya.

“ sekedar cinta saja itu belum cukup, bagaimana bisa kau katakana cinta jika tak pernah kau pedulikan tentangku, sebelum ke sini aku sudah mampir ke rumah orang tua mu van, aku sudah menjelaskan semua ke mereka dan aku juga sampaikan jika aku sendiri yang akan menyampaikan ini kepada mu “

“ tidak…. Tidaaakk… aku tidak bisa terima ini Adriene… sakit rasanya.. “ tangan Vano mencengkram kuat lengan Adriene, namun adriene menepisnya dengan elakan menuju sofa mengambil tas dan perlahan meninggalkan Vano.

“ Vano, temukan perempuan lain, sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi sahabat kami…”

” Aku bisa perbaiki ini Adriene, aku janji akan menjadi apapun yang kamu mau ” Vano berusaha meyakinkan

” Sudah terlambat Vano, sejak dulu tidak pernah ada aku di hati mu ” lirih suara Adriene dan melangkah lebih cepat dari sebelumnya meninggalkan Vano bersamaku.

Malam itu raungan tangis vano tak terbendung lagi, sungguh luka yang dalam tercipta oleh belati di balik pelukan sayap cintanya, ingin ku hampiri dan memeluknya kemudian mengatakan jika semua baik-baik saja, nafasnya terisak seakan jauh dari kehidupannya. Vano kalap atas kesedihan, kertas yang tersusun rapi di atas mejanya terhempas berantakan, foto orang tuanya pun turut medarat ke lantai keramik dan bowl glasses terjatuh hingga pecah berkeping dan memuntahkan air di dalamnya, mengelepar terasa sesak. Vano tertatih meninggalkan ruangan, vano pergi meninggalkanku tanpa menggubris ku sedikitpun, vano tak peduli dengan aku yang hanya seekor ikan koi merah hitam yang selalu ada menemaninya, yang selalu menunggu senyumnya dan tak pernah mengecewakannya sedikitpun. Hari ini hatikupun hancur mengelepar bersama ragaku. Aku lah kebanggaan Vano yang tersia-siakan seperti hatinya saat ini.

Kedatangan terakhir

” Apa kabar daffa ? “
Kata itu yang pertama ku dengar ketika sore ini menjumpaimu di salah satu coffee shop favorit kita yang terletak di lantai dua sebuah mall, nampaknya coffee shop ini mulai marak bagaikan cendawan di musim hujan. Hanya terdapat beberapa pengunjung sore ini, selain pasangan remaja menggenakan jaket couple yang sedang berbincang di sisi kanan dan juga kawanan pemuda yang sibuk dengan gadget mereka di sisi pintu masuk, sungguh teknologi yang membatasi komunikasi dengan dunia nyata, saling kenal namun tampak asing satu dengab yabg lain. Serta tak luput para eksekutif muda di beberapa meja lain. Hujan sedari tadi mengguyur tanah kering, meja bundar kecil di balik dinding kaca yang bersentuhan langsung dengan udara luar menciptakan embun basah. Ku alihkan tatapan mata pada jemari kecil tangan mu, bergerak menggabungkan aksara DAFFA. Bening bola matamu menatap kosong aksara yang kau toreh, rambut hitam panjang yang selalu kau ikat layaknya ekor kuda, dengan balutan jaket hitam yang pas di badan, jam tangan gucci silver selalu kau kenakan di pergelangan tangan. Merah jambu bibir mu sungguh karya Tuhan paling indah senada dengan putih bersih kulit tubuh mu.

Kepulan asap belum habis di cangkir keramik putih yang bahkan coklat panas di dalamnya pun tak kau sentuhkan juga dengan indera pengecap, iya kamu adalah yang mengganti segelas kopi dengan coklat panas setelah berulang kali mendengar larangan ku jika kopi hanya menimbulkan efek kurang bagus untuk kesehatan asam lambung mu. Entah karena rasa sayang terhadap kesehatan mu atau karena kepatuhan mu kepada ku, aku tak tau, yang aku tau jika aku senang kala kamu mulai mendengarkan ku. seperti halnya cinta yang mengharamkan kata ‘tidak’ ketika permintaan terucap. Walapun bukan kopi dan hanya coklat panas untuk mu tetap saja kau selalu menggandeng tangan ku untuk mengajak “ngopi” setibanya aku dari bandara untuk menjumpai mu. Tidak terlalu sering memang tetapi beberapa barista pun hampir mengenali kita karna mungkin aku dan kamu selalu menjadi pusat perhatian dengan obrolan konyol dan tawa mu hingga meneteskan air mata setiap kali mendengarkan cerita konyol ku.

Cincin perak masih melingkar di jari kanan mu, cincin yang mirip seperti kepunyaan ku. Saat aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu kau pun mengatakan jika tidak pernah kau rasakan cinta yang begitu besar selain bersama ku. Berbagai macam batu sandungan tak pernah kita lalui dengan mudah memang tetapi selalu ada kita yang akan saling melengkapi dan mengisi. Kota yang berbeda selalu takluk dengan rutinitas telpon dua kali sehari ataupun debar di dada setiap kali melihat mu menjemput ku di pintu kedatangan bandara, dua bulan sekali setidaknya. Saat inipun tatapan ku masih sama, aku melihat mu sebagai seorang revi khaif yang sedang jatuh cinta. Kata pujian bahkan tak pernah cukup melukiskan keindahan mu.

“ Revi khaif, awalnya aku ragu mengenai hubungan kita karna berbeda keyakinan tapi tak pernah bisa ku pungkiri jika kamulah perempuan yang selama ini aku inginkan, yang selalu ingin aku jaga. Walapun aku tau takkan pernah mudah jalannya dengan segala rintangan jarak dan harus back street dari orang tua kita, tapi terimakasih sayang sampai saat inipun kamu masih bersama ku “ ku genggam erat jemari tangannya. Kamu yang sedari tadi menerawang ke arah rintik hujan memalingkan wajah ke arah ku dan tersenyum melihat lebih jauh, ku palingkan tatapan mataku mengikuti garis pandang mu, ternyata terlihat pasangan berjaket couple sedang bercanda hingga menumpahkan gelas kopi di atas meja mereka. iya, kitapun pernah melakukan hal yang sama bukan?

Hujan masih juga belum berhenti, semakin derasnya hingga pertemuan ion negative dan positifnya menggelegarkan bunyi nyaring, aku menutup ke dua telingaku dengan telapak tangan ku, ketenanganmu masih seperti biasa, sambil mengaduk coklat yang sudah tidak panas lagi dengan sendok plastic kecil searah jarum jam yang bahkan lebih lamban dari jalan santai kawanan siput, kau hanya memejamkan mata sedetik ketika petir berikutnya tak kalah arogan, nampaknya zeus sedang murka.

“ apa kamu sekarang masih takut petir daffa ? “ Tanya mu, yang hanya ku jawab dengan anggukan pelan mengiyakan pertanyaannya. Aku tidak takut, ini hanya phobia ku terhadap petir, tapi kenapa petir kali ini berasa lebih menakutkan karna tak ada pelukanmu seperti biasanya ketika dia mulai menyapa. Alunan music di coffe shop, terdengar samar. Revi ku sayang, apa itu, kenapa hujan juga membasahi pelupuk mata mu, sejak kapan kau merasa sedih ketika mendengar petir, apakah petir juga melukai mu? Tidak mungkin itu air mata bahagia sedangkan aku tidak sedang bercanda ataupun mengeluarkan expresi konyol sedari tadi.

Kamu segalanya tak terpisah oleh waktu
Biarkan bumi menolak ku tetap cinta kamu
Biar mama mu tak suka, papa mu juga melarang
Walau dunia menolak, ku tak takut
Tetap ku katakan ku cinta diri mu
(Judika – mama papa larang )

“ daffa pulanglah, aku akan menjaga diriku dengan baik, kisah kita sudah usai, biarkan sekarang ak jalani semua, terimakasih sudah menjagaku selama ini. tunggu aku di sana “ mata beningmu menghamburkan air mata, mata mu memerah namun tubuh ku hanya terpaku, terasa dingin hingga jantungku, lidah ku kaku tak bersuara. Dengan kode dari mu datang seorang barista membawakan bill, dan kau mengeluarkan lembaran rupiah, walaupun tanpa melihat tagihannya kau sudah ingat berapa harga secangkir cokelat panas yang hingga dingin tak berkurang isinya sedikitpun.

“ mana masnya yang biasa menemani mbak ? “ Tanya barista itu sambil menerima beberapa lembar uang dari mu

“ meninggal tepat sebulan yang lalu, kecelakan waktu mau ke bandara nyamperin saya ke kota ini “ jawab mu

” maaf mba ” si barista itu menjawab perlahan

” tidak apa mas, saya ikhlaskan dia hari ini ” dengan senyuman singkat sebelum melangkahkan kaki meninggalkan barista, bukan itu saja, tapi juga meninggalkan aku melenyap di sini, perlahan sosok ku memudar dan melayang. Revi ku sayang, aku menunggu mu, aku akan selalu menunggu mu di rumah ku.

Surat yang tak pernah di tulis

1.

EDELWEIS namaku. Apa kau tau artinya? Jika kau buka di kamus bisa diartikan sebagai (bunga) abadi, ayahku sering bercerita ketika aku masih kecil beliau memiliki cinta yang tulus dan menginginkan sesuatu yang abadi sebagai perwujudan cintanya kepada ibuku, maka ketika aku terlahir di muka bumi, ayah menamakan aku edelweiss.

Kata ayah sejak kecil aku sering menunjukkan sifat ketulusan ku seperti tidak pernah merasa sedih jika ayah harus memberikan mainan kesayanganku untuk anak teman ayah yang kebetulan seumuran dengan ku, aku memang seperti edelweiss yang lebih menyukai ketenangan dari pada keramaian, aku menjadikan susunan aksara sebagai keramaian, aku menjadikan bait kata sebagai keindahan karya, yang walaupun aku juga seperti anak kecil lainnya yang selalu senang memegang permen dan menikmati kenyamanan duduk di pundak ayah menyusuri keramaian pasar malam, saat ini mungkin lebih logis disebut sebagai expo.

Ayah menyukai bercocok tanam setelah kelelahan beliau dari pekerjaan kantor ayah menyukai tanaman anggrek yang terjajar rapi di samping kiri rumah serta tergantung cantik pada pohon jambu air di depan rumah, ayah menyebutnya anggrek bulan, atau yang tertanam dalam pot hijau kata ayah itu anggrek kalajengking dengan corak berwarna kuning, tetapi ayah cuma memiliki satu bunga cinta abadinya yaitu edelweiss.

Ayah memanjakanku melebihi dua kakak ku yang lainnya, apa lagi semenjak ayah kehilangan mereka, maksudku kehilangan yang tak mampu tergantikan. Aaahh aku enggan menceritakan sebabnya, mungkin lain kali akan aku tulis lebih banyak lagi tentang mereka. Ayah tak pernah lupa membawakan jajanan yang aku suka taupun makanan kesukaan ibu setiap kali pulang dari kantornya, dan asal kalian tau ya ibuku selalu menyajikan menu makan malam favorit ayah, kata ibu itu di dalam masakan ibu terdapat bumbu special agar ayah selalu mencintai kami, sewaktu aku tanya ibu hanya membalas dengan senyuman dan menjawab “ ketulusan cinta seorang istri untuk suaminya anak ku “. Ayah dan ibu bekerja pada kantor yang sama, manufacture textile terbesar di kota tempat ku lahir, hanya saja tak jarang mereka mendapatkan day off yang berbeda, tentunya seingatku waktu itu aku sering kehilangan moment menikmati liburan keluarga dengan mereka.

Ayah menceritakan jika memutuskan menikah dengan ibu setelah perjodohan mereka serupa dua arus sungai yang belum saling mengenal cinta satu sama lain bertemu pada satu lautan untuk mematrikan kisah cinta dengan perkawinan di usia muda, bahkan usia ibu tidak lebih dari 20 tahun saat menerima pinangan ayah. Entah masih ada kebahagiaan disela kesibukan mereka atau tidak tapi di hari pertama aku mulai menginjak halam taman kanak-kanak tidak ada kebahagiaan terpancar, kala itu usiaku lebih muda satu tahun dari yang lain, tak ada genggaman tangan dari ayah atau ibu.

Aku ingat di hari pertama itu aku terjatuh dari ayunan hingga kepalaku mendarat dan terbentur pada tanah terlebih dahulu, aku menangis sekuat tenaga hingga bulira air mata mengaburkan pandangan dan aliran sungai kecil di kedua lubang hidung bercucuran bagai air terjun, sangat lambat tentunya. Tidak ada yang menggubrisku, tidak ada ayah, ibu dan tidak ada yang memeluk ataupun mengusap perih di telapak tangan yang terluka tentu saja cairan merah sedikit menghiasi tangan kecilku. Mungkin para ibu yang berada di sekitarku lebih menghawatirkan antrian demi memperoleh bangku terdepan di kelas atau mereka sama halnya dengan ibu ku yang lebih mementingkan hal lain dari pada aku. Kecerdasan dan keriangan ku mampu menjadikan ku murid kesayangan ibu guru dan tak jarang justru ibu guru menghampiri ke rumah setiap pagi agar aku bisa berangkat dengan beliau dan meminta mang kusman supir ayah agar tidak perlu mengantar ku ke sekolah. itulah masa kecilku.

Kini, kala satu jerit ketakutan atas luka yang tak terobati, saat lampu kamar ku nyalakan ternyata aku sendiri, dan walaupun lampu dunia menyala, masih juga sama. Sering ku dengar suara gaduh dari bibirku yang terdiam. Kereta bahagia sudah berlalu, mencari alamat stasiun berikutnya, dia berlari menyeru ke arahku “ cinta tiket mu “

2.

EDELWEIS sayang, entah ini surat keberapa yang tidak juga kau balas dalam dua bulan terakhir ini. Seharusnya dengan kepergianmu meninggalkan kota ini sejak delapan tahun lalu, sama seperti kau meninggalkan lubang kecil di hati ayah. Tahun ini kamu tidak menjenguk ayah, mungkin peta rumah kita tak kau temukan lagi di saku mu nak, atau harus ayah tunggu di pintu depan bandara agar kau tidak tersesat seputaran mall dan kembali ke piring nasi mu.

Ayah sudah menyiapkan kado spcial untuk ulang tahun ke 23 mu tapi hingga enam putaran purnama tak juga kau ambil. Maaf maksud ayah bukan talak ketukan palu meja hijau sebagai pertanda putusnya hubungan antara ibu dan ayah yang menjadi hadiah ulang tahun mu tapi adalah waktu yang ayah siapkan untuk menemanimu mendaki puncak dan memetik bintang pada lengkung gulita langit.

Bukan rahasia bagi ayah atas kekecewaanmu terhadap segala keputusan ayah, jika boleh ayah memilih mungkin akan lebih baik kita membicarakan ini dengan empat mata pada secangkir susu coklat hangat yang selalu kau habiskan bahkan sebelum dingin menyeretnya ke dasar cangkir. Adalah cara lain untuk menjelaskan kepada mu anakku tentang perihal petualangan cinta ayah. Jangan pernah tidak kau selesaikan pengakuan ayah pada lembaran ini anakku, mungkin akan mampu mengembalikan edelweiss di ufuk subuh puncak meratus.

Hari itu entah tahun tanggal dan hari apa ayah tidak begitu ingat, keceriaan edelweiss berubah menjadi sosok tertup dan seringkali pertanyaan ayah hanya kau jawab dengan diam, tidak ada lagi riuh tawa atau ocehan-ocehan mu bercerita tentang koki yang berenang atau jumlah teman baru yang ayahpun sampai tidak sengaja lupa nama teman-temanmu, karna begitu banyak memori yang harus ayah siapkan untuk menampung itu. Tidak ada juga teman sepermainan yang singgah untuk sekedar bermain denganmu.
Sejauh ini ayah hanya bisa menduga-duga apakah sakit hatimu masih tersimpan ketika hari itu tanpa kau kabarkan kepada ayah jika sekolahmu dipulangkan lebih awal dihari yang sama day off ayah, tak menyangka jika setibanya di rumah kau berlari dan memasuki kamar ayah, dan yang kau lihat adalah tubuh telanjang ayah menindih tante Mer sekretaris ayah dalam keadaan telanjang pula. Bagai kilat di siang bolong ayah terbelalak dan berlari mengejar mu keluar setelah menutup tubuh dengan baju yang layak, tanpa menggunakan alas kaki langkah ayah menuju jerit tangis mu di dalam got depan rumah kau menangis sekencang-kencangnya mentup kedua telinga dengan tangan mu, seragam putih menjadi merah oleh darah yang bercucuran dari pelipis kirimu, atas benturan dengan sudut luar tembok pagar rumah. Ayah membopong tubuhmu dan menyampaikan berita jika kau terpeleset saat bermin ketika ibu mu menunggu dokter memberikan beberapa jahitan pada pelipis. Percayalah sampai sekarangpun ayah selalu ingat kejadian itu setiap kali melihat luka yang tak bisa hilang pada pelipis kirimu itu. Untungnya hanya tante Mer saja yang pernah menjadi kenangan buruk mu, walapun memang ada beberapa setelah dia.

Anakku sayang, percayalah ibu mu sangat mengurus kita dengan baik namun ada hal yang saat itu belum bisa ayah jelaskan, mengenai ranjang kami yang tak lagi hangat, ada trauma mendalam atas kepergian kedua kakak mu, membuat ibu semakin hambar ketika kami membuat cinta kala kau terlelap pada bulan yang basah dan malampun meresah. Seolah ayah berhenti mencintai ibu, bukan karena tak cinta lagi tapi cinta yang ayah berikan tidak digubris lagi. Keraguan secuil upil menjadi perkelahian sebesar karang hingga biduk perahu kami terombang ambing dan seorang nahkoda seperti ayah terlalu lelah memegang kemudi sendiri.

Permainan yang ayah mulai justru menjadi bumerang bagi diri ayah sendiri terlebih ketika cinta ayah mulai berakar pada wanita lain yang kini menjadi ibu muda mu. Maaf maksud ayah kak Rika, walaupun usianya hanya lebih tua lima tahun dari mu tapi tetap saja kamu akan bersedia memanggilnya ibu bukan?. Ayah selalu mengharapkanmu berada di sisi ayah bukan mengutamakan ibu muda ataupun anak yang dibawa serta ke rumah kita, tapi percayalah walaupun dia bocah lelaki itu lebih tua dari usia perkawinan kami dia tidak beda dengan kamu, anak ayah.

Pengakuan yang terlambat memang, tapi semoga masih mampu meredupkan luka di hatimu. Ayah merindukan tawamu, ayah rindu keceriaanmu akan hal sesederhana ketika kita berlarian dibawah hujan, kau bukan berlari tapi kau menari. Anakku walaupun engkau enggan pulang tapi ayah sangat berterima kasih yang akhirnya ayah mampu menceritakan rahasia yang sangat menyiksa ayah, maafkan ayah sayang, berhentilah untuk menyimpan luka itu dan ayah yang akan menebusnya nanti. Pulanglah sayang, pulang dan ambil kebahagianmu sendiri, terlalu lama sudah kau pakai topeng badut namun hatimu tetap menangis. Tengoklah ayah, barang sejenak minta izin kepada ibu dan ayah mudamu untuk menyapa Bapak.

Edelweiss kau bukan sesuatu yang sulit diraih tapi kaulah kebanggaan tertinggi ayah, kaulah keindahan yang abadi namun sempat terkeping oleh kesalahan seorang ayah, tapi ayah tidak akan pernah berhenti untuk mengembalikan keceriaanmu yang hilang sampai terhenti oleh maha dahsyat takdir. Pelukan selamat pagimu selalu membangunkan tidur ayah di kamar pavilium aster kemudian ayah dapati pelukan yang kosong.

3.

EDELWEIS anakku, barangkali belum terlambat jika ibu memintamu pulang sejenak di tanah kelahiranmu, sudah terlalu lama kau berada di puncak meratus, pastilah kakak-kakak dan Wira ayahmu sangat merindukan kedatanganmu, walaupun hanya tertinggal nama mereka pada nisan tertimbun gundukan tanah di bawah kamboja, tetap saja harus kau tengok nak. Luapkan segala perih hati namun tinggal saja di sana, tak ada kesalahan yang tak termaafkan, seperti ketika ibu mendampingi mu memandikan jenasah Wira enam bulan lalu. Ibu kubur semua pesakitan atas nama ikhlas agar semakin menerangi jalannya, sebagaimana dia pernah memberikan kebahagiaan untuk kita.

Apa yang masih mengganjal dalam lukamu hingga tak pernah ada celah sedikitpun agar ibu bisa menyentuh kesendirian mu. Lupakan saja masa silam, semua sudah mengering bagai dedaunan yang berjatuhan di musim kemarau dan terurai menjadi humus yang akan menyuburkan tunas indah. Sedalam apa membekas di hatimu ibu pun tak tau, yang ibu tau saat ini ragamu di sini tapi tidak dengan jiwamu yang entah bagaimana ibu bisa mengembalikannya lagi.
Dulu ataupun kini masih saja ibu tak ada ketika kau menangis tapi bukan berarti ibu tidak peduli dengan air mata, tangan ibu terjerat oleh tuntutan dapur yang harus selalu mengeluarkan asap selain untuk membeli gincu tentunya.

Tak pernah mencarimu ketika kau tak pulang bukan karena tidak peduli tapi justru kaulah hal yang mampu ibu percayakan kepada Tuhan agar selalu menjagamu dan limpahan kepercayaan jika kau bisa menjaga dirimu sendiri. 24 jam masih belum cukup waktu hingga tak tersisa semenitpun agar ibu bisa bertanya “ apa yang kau kerjakan hari ini nak ? “ karena kau sudah terlebih dahulu mengunci dengan diam, diam adalah teman baikmu saat ini bukan.

Apakah masih belum juga berkurang luka hatimu sehingga semua kenangan itu memenjarakan kelopak edelwais dari sentuhan keramaian, bukan bising nak tapi seperti warna pelangi yang meramaikan gelap langit.

Meninggalkanmu dulu di kota itu bukanlah keinginan ibu sepenuhnya, namun itulah cara ibu menghentikan bahtera rumah tangga yang tak kuasa lagi dipertahankan. Tidak hanya sekali tangis saja tapi tangis ibu dua kali lipat lebih dalam, tamparan tangan dari Wira yang selalu ibu terima hingga memar pada wajah tidak sebegitu sakit jika dibandingkan dengan melihatmu menangis di pojokan tak lebih nyaring dari suara perdebatan kami. Bukannya pelukan yang ibu berikan padamu tapi lebih memilih sibuk dengan amarah, tidak sibuk sebenarnya tetapi menjadi sibuk karna selalu Wira lah yang terlebih dahulu kau cari.
Berikutnya semakin memburuk setelah kedudukan Wira pada puncak tertingginya, silih berhanti parfum wanita di kemejanya, sering juga nama meri, dewi, siska dan siapa saja selalu disebut bawah sadar ketika dia tertidur. “ semua baik-baik saja “ sambil tersenyum ibu selalu menyembunyikan pertikaian kami jika siapapun bertanya, percayalah dalam hal ini ibu adalah pembohong yang cukup handal selain puluhan alibi memar yang bukan karena benturan lemari tentunya.

Ibu akhiri dengan jalan singkat berlari meninggalkan semuanya, dengan harapan kecil agar kau mencari ibu setelah dewasa nanti, karena pertumbuhanmu masih memerlukan kemegahan istana memupuk masa depan yang seharusnya membuatmu nyaman. Benar adanya, bahkan sebelum dewasa usiamu kau sudah mencari ibu, namun masih saja tampak jauh jiwamu terpenjara bukan dipuncak gunung dan bukan pula di kota tempat kau lahir tapi di masa lalu.

Diammu apakah cara untuk menutupi hatimu yang menangis nak? Percayalah jauh di dalam hati ibu, berjuta rasa syukur selalu tercurah karna memiliki edelweiss berhati malaikat, dengan keringat dan air mata kau selalu berusaha untuk membahagiakan ibu dan lelaki yang kini kau panggil Bapak. Kadang jarak kita hanya sebatas petak rumah yang tak lebih luas dari ujung gulungan ombak dan bibir pantai, namun hatimu lebih jauh dari pasir pantai pada palung terdalam dari samudera. Rambut ibu mulai memutih tapi kasih sayang ibu tak pernah berkurang untuk buah hati. Perjuangan tidak akan pernah usai, jangan takut untuk melewati malam, banyak senyum menanti saat fajar terbit, menunggu mu yang tenggelam kemarin sore.

4.

EDELWEIS cintaku, keabadian seperti terlukis pada guratan namamu adalah abadi seperti ketulusan yang kau miliki. Kamulah bunga di puncak cintaku, pada ujung rindu tertinggi menyentuh cakrawala terlindungi awan agar menjadikan indah walaupun terik lebih dekat menyentuh jiwa. Mengenal edelweis bukanlah ketidak sengajaan yang direncanakan, tapi sebuah perjuangan seperti pijakan kaki pada puncak gunung sebagai suatu tantangan bagi para pendaki.

Masih kau ingat cinta, dengan caramu sendiri kau sentuh tiap jengkal merah jambu di hati, kau lah yang membantuku bangkit dari luka. Uluran tangan dengan senyuman saat aku tersungkur meratapi luka, kau yang mengajariku tentang menata ulang hati dan menghentikan ketukan melodi bernada perih atas hati.

Di penghujung tanggal akhir satu siklus bulan ganjil, kata cinta membisik lembut memintaku untuk menemanimu menjalani langkah di depan, tak pernah terpikir untuk memberikan penolakan. Kau mungkin tak menyadari, setiap hal yang kau ucapkan selalu aku lakukan atas nama cintaku untukmu. Saat menyadari ketidak mampuanku untuk jauh darimu adalah kekuatan agar ku selalu memeluk mu.

Sifatmu yang ceria melahirkan banyak senyum dan tawa untuk bunga-bunga pada taman sosialmu, aku tau cinta jika hatimu menangis, aku mengerti jika kau menyimpannya jauh lebih dalam seolah kotak itu tak akan pernah kau buka lagi. Tapi apakah kau juga tau justru kau harus membuka dan membebaskanya pergi cinta?, boleh kita bicarakan ini tanpa diam ataupun seperti kau sedang sibuk melakukan sesuatu yang penting tapi sebenarnya tidak penting dan menjadi penting agar tidak seperti katamu dengan sebutan membuka luka lama.

Masa lalu goresan luka hati, biarkanlah ku siram dengan cinta seperti air yang menyiram bunga hampir mati dimakan musim kering, walaupun serangkai edelweispun tak akan pernah mati termakan zaman. Hangat genggaman tanganku ketika resah menggelayut harimu, semoga mampu meyakinkan jika kau tak sendiri cintaku.

Tepat di akhir bulan 31 aku berlari mendapati mu dan menyeru ” cinta tiket mu ” tiket kebahagiaan sebelum kau berlari menuju stasiun berikutnya. Maha berat luka dengan segala kesempurnaan tangis tinggalkan saja di sini, gerbong berikutnya telah menanti, izinkan aku selalu menjadi pundak sandaranmu melewati setiap stasiun berikutnya. Untukmu yang kucinta, seterjal apapun puncak gunung akan tetap ku daki, agar keindahan edelweis tetap berada pada pelukanku.

Menangislah jika memang perlu tak hanya tersedu meraungpun boleh jika itu mampu membawa semua luka lama yang tak pernah kau biarkan seorangpun menyentuh untuk mencabut perakaran benalu dari ketakutanmu sendiri. Temukan semua jala yang mampu membawa kembali kebahagiaanmu, keceriaanmu dan segala sosok edelweis tercinta. Akulah hatimu yang tak pernah membiarkan masa lalu memasung kesendirian.
***

Puncak meratus : puncak pegunungan di borneo