Parade kematian

Senja, jingga penuh tanya

Iringan tandu kematian sudah di ujung cakrawala

Senyap tanpa lisik yang berisik
Hujan, tanpa petir di sudut mata

Gemuruh perih, redam dalam dekapan sesak

Percuma, senja datang terlalu dini.
Lelah, menyerah.

Malaikat maut tertawa riang.

Ajal sudah dalam rencana manismu, sayang.

Usai sudah langkah tegar Juliet.

Bibirnya bersabda “atas nama cinta”.
Soneta-soneta bernyanyikan duka.

Bukan aku, resahku yang bersenandung.

Parade kematian menutup cerita.

Tak hanya hati, jiwapun turut tenggelam,

Dalam kematian paksa.
Kokohkan saja tajakan nisan.

Kemudian semesta akan menuliskan

“Telah bersemayam hati yang pernah mencintaimu dengan tulus layaknya seorang Juliet”

Ambang batas lelap

Apa yang kau mimpikan hingga lelapmu sebagai pertanda menyatu dengan kawanan ilusi.

Pintamu untuk menghadiahkan sebuah puisi sederhana. Bagaimana bisa, sebab kesederhanaan menjadi begitu agung jika ku selipkan sedikit saja rasa pada kata.

Apa yang kau doakan hingga tidurmu bak hamparan ketenangan yang tak terusik. Seolah lelah menjadi pemicu, sedangkan resah adalah aku.

Sebut saja aku penyusun kata yang mengisi jemarinya dengan rindu. Ketika kantuk kau utarakan seketika itu juga rinduku menjela menjadi pengusik kecil.

Bukankah menyebalkan bersama dengan kantuk yang terjaga hanya oleh rengekan. Tapi percayalah, rengekan kecil itu pula yang akan menjadi alasanmu tersenyum ketika ber deja vu.

Menjagamu dalam tidur adalah kesunyian yang mengutuk rinduku semakin pekat. Bukankah ku sampaikan jika secangkir kopimu tak lebih pekat dari rindu.

Tanpa perlawanan tetap saja membuat kantukmu meraja.

Katamu “Rindumu akan berteman dengan debaran jantungku selama aku terlelap”.

“Bukankah kafein jauh lebih mengusik tidur tinimbang rinduku” tanyaku.

Kau hanya tersenyum berucap jika kafein dalam secangkir kopi tak menjadi candu dan takkan mengusik. Namun rindu, mengusik kesepian dan kau menyukai itu.

Tiada yang tertinggal selain detak jantungmu. Tidak, tidak hanya berdetak tapi ia menemaniku dalam sekat rindu. Menunggumu hingga terbangun dengan senyuman.

Tidurlah sayang, aku hanyalah pengusik kecil yang menjadikan lelapmu sebagai kesetiaan. Kan ku jaga hingga kau terjaga.

Mimpilah sayang, biarkan sunyi menjadi rahasia kita. Ambang batas antara rindu yang meresah dan tidurmu yang tak tergoyah.



Jingga cawan aksara


Bias rona jingga menggelayut pada langit senja,

Gemersik dedaunan terombang-ambing tiupan angin syahdu.
Antara kebodohan untuk terus mengobati luka serta keharusan menuntaskan satu perkara.

Tiada upaya tanpa daya untuk membungkam cerita.

Aku meradang dalam bulir-bulir nista hingga menyerpih bak jelaga.
Bukan perkara mudah untuk memiliki cinta, sebab rangkaian camar yang berteriak pada bibir pantai kala senja tak jua mengartikan sebuah ‘pulang’.
Aku ingin menjadi penghuni yang terlelap dalam hatimu, tempatku pulang.

Aku ingin membuang penat dan bersandar tanpa harus mengecap lagi sebuah luka.

Aku ingin menjadi silabu-silabu yang wangi seperti aroma cinta. Cinta yang tak lain adalah tentang kita.

Wahai semesta, leburkanlah malam, kembalikanlah senja. Sebab tak ingin ku biarkan cintaku terkarang hanya untuk ornamen pantai gigil gulita malam.
Mari…. Mari ku ceritakan cinta yang bukan sebuah dongeng.

Sebab keyakinan adalah muara dari sikap serta ucapan bibir.
Jutaan emosi ku tuang habis dalam cawan aksara.

Balut saja dengan senyuman.

Walau cadas namun tak akan meretas.
Jangan biarkan lentera cinta padam ketika malam merenggut senja.

Sederhana adalah aku, tapi tak usang. Sebab kunang-kunang bersama gemintang akan tetap utuh memberi terang selagi rembulan dalam sabit kecil.
Teruntuk jingga pada senja, aku tak ingin hanya diam menanti tanpa deru.

Renggut saja pecahan resah, larungkan bersama tamparan gelombang pantai.

Dari kolong langit malam, aku hanya ingin mendekap erat cintamu utuh.

Tempatku pulang, tempatku menyalakan cahaya.

Tempatku menumpahkah air mata.

Tempatku tertawa juga bercerita banyak rupa.

Masih tak nyamankah lenteraku?

Sebab cintamu berbahasa kelu.

Segenggam Resah

Jika suatu saat aku berhenti mencintaimu, bukan karena niat yang bahkan tak pernah terbesit seujung kukupun. Bukan pula karena cinta yang mudah habis walaupun terabaikan. Namun, karena sikapmu yang membungkam cintaku hingga tak bernyawa.

Merindukamu bukan lagi kuasaku sebab untuk memikirkan sebuah rindu untukmu sudah bukan lagi perkara yang pantas.

Sejatinya kita jatuh cinta di bawah kolong langit. Tanpa ada tuntutan ataupun sebagai hal yang patut dikorbankan. Setidaknya menutup kisah cinta bukan dengan cara membuka lubang pertikaian.

Ada yang habis memang harus diakhiri begitu saja, dibiarkan tanpa obat hingga mengering sendiri. Tapi, luka bukanlah sebatas luka. Tidakkah terlihat ada hati yang jauh lebih terluka namun tak pernah kasat mata.

Percayalah tidak akan pernah ada cinta yang nyata dari seorang pecinta ketulusan jika hanya untuk melukai. Sebab baginya menjaga hati yang ia cintai jauh lebih penting dari sekedar ego memiliki hanya untuk bermain sementara.

Selalu ada pertikaian dengan malam kelam, sebab ia tak pernah lagi mampu menikam gemuruh kepalaku dengan rasa kantuk. Setelah tiada lagi kau di sini.

140516


Pendar nyala lilin kecil, tamaram menuju satu jenjang. Nyala dengan hati, tiup sajalah sebagai pertanda kita pernah ada.
Lihatlah kepulan asap kecil yang lesap. Menyimpan harap atas harapan.
Gubahan doa terapal jelas. Bukan mantra yang terpatri. Ada napas ketulusan, ada aroma wangi cinta.
Biarkan lidah api padam sebelum mengecap manisnya sepotong roti.
Katamu tak perlu mengucapkan selamat ulang tahun, sebab satu usia ditambahkan.
Jawabku hanya tersenyum, adalah cara menenangkan gemuruh.
Sudah habis pendar lilin tak begitu dengan cinta. Sebab hangat yang tertinggal pada ruangan adalah debar jiwa.
Nyanyikan sajak kebahagian hingga tik tok akhir batas.
140516
Adalah kamu sumber cerita yang tak ingin ku lewatkan begitu saja.
Kali kedua bukan ukuran pantas untuk sebuah kecukupan.
Semesta memiliki caranya sendiri, mengaminkan doa yang dalam diam ku sebut “semoga bahagia”

Kidung Sendiri

Aku pernah mencuri senyummu walau ternyata jutaan senyum baru mudah sekali merekah tanpa mengurangi keindahannya. Adalah balada kehilangan yang justru membuatmu merona.

Aku pernah berada dalam rumah yang selalu memanggil ketika aku tersesat. Rumah yang begitu nyaman seperti pelukan seorang yang jatuh cinta.

Tak ku sangka di rembang senja harus meninggalkan rumah dan mengembalikan senyum itu. Pengembara yang terampas haknya, tidak lagi gemerisik angin membisik untuk bertahan.

Aku tak ingin bicara pada siapapun sebab menyerahkan rahasia luka hanya untuk dikontrol sebagai alih membantu menjaga. Jika tidak serapah menghujam laiknya tak mengenal budi. Seolah budi ingin digdaya setelah karma.

Hingga menulis tanpa arah, seperti menggoreskan sandi-sandi perihal kehilangan. Membongkar paksa rumusan bahagia.

Bukankah percuma menelusup kerumunan hari jika hanya untuk memburu yang tersudahi. Bukan inginku, ranggas sudah naluri untuk berjuang.

Kidung tak lagi menarik ketika sendiri. Perih mengental seiring pudarnya guratan senyum. Bukan kalah dalam medan laga hanya saja sudah berada di garis akhir.

Munajat ‘Hidupku’

Munajat cintaku padamu tak lekang oleh zaman.

Katamu cinta, jawabku iya. Katamu sedikit heran jawabku tetaplah disana dan kecap saja keindahan cinta. Tak usah bertanya untuk hal diluar logika karena cinta bekerja begitu istimewa bahkan tanpa akal yang kita sadari.
Katamu rindu, jawabku sama. Katamu tak mungkin, jawabku rindu adalah tasbih yang terwujud ketika hati melepas keinginan satu tujuan sama. Sujudkan saja dalam semesta yang akan menyampaikan pada doa baik.

Katamu temu, jawabku iya. Katamu kapan, jawabku bersabarlah. Ujung bungapun tak ingin cepat tumbuh agar tak mudah luruh. Bakda tutup bulan, pastikan saja kita bercengkrama pada senja yang menua. Pada alas pasir yang akan menyuarakan cemburu romantisme dalam kecupan hangat bibirku padamu, di bibir pantai.

Katamu setia. Ku munajatkan sebagai mukadimah dengan khatimah bahagia.

Katamu tak ingin patah, jawabku pun dengan ku. Katamu begitu berat, jawabku begitulah rindu yang terlahir pada hati yang sangat mencinta. Fasihkan tasbih rindu dalam aksara yang tak perlu lagi dilafal. Rindu perlu dituntaskan. Cinta perlu disiram soneta. Raga perlu didekap. Dan kamu, perlu ku patri.

Katamu terbentur dan kau akan lupa. Jawabku setia dan menjadikan ‘hidupku’ agar zaman tak pernah lagi merenggut apa-apa saja yang termakan waktu.

Khitbah saja cintaku, agar rindu makhthubah untukmu saja.

Risalah ku hanya padamu, peram sejenak untuk sebuah temu yang mustajab.

Kapan lagi aku bergulat dengan zaman hanya untuk ‘hidupku’.

Tetaplah Hidup, untukku.

Balutan aksara bahagiamu

Bertambah satu usiamu. Segala kebaikan berdendang atas syukur tanpa jemu. Cerita yang pernah terpatri pada memori masa lalu. Adalah napas dari semesta yang pernah teramu.

Doa terbaik tak kunjung henti. Semoga semua cita kan selalu kau dapati. Temali tak akan terpilin tanpa kehendak hati. Walaupun telah menjadi kenangan namun takkan pernah mati.

Tiup lilinmu, ucap harapan yang tersembunyi dalam sanubari. Lawan saja rintangan untuk menggapai bahagia setiap hari. Jika resah mengusik jelaga, biarkan aku menghibur dan menari. Mana tau temali kembali bertaut dari ujung jemari.

Kamu, terbalut aksara rindu. Sederhana tak lagi mengenal sendu. Seolah mentari pagi adalah kawanan serdadu. Tetaplah di sana, mungkin kamu adalah candu.

Jakarta napas sanubari. Bukan bising hutan beton yang ku cari. Kemasan dalam puisi mengharap kau kemari. Semoga tak ada hati yang masih bersembunyi bagai misteri.

Selamat ulang tahun lelaki dalam jarak. Gubahan puisi adalah rindu yang pernah berserak.

Selamat ulang tahun lelaki terbaik. Semoga kelak terengkuh hati yang baik.

Semoga selalu bahagia pada pertambahan usia.

— end —

Note: puisi ini ditulis atas permintaan @imititaniuuum untuk lelaki terbaiknya 🙂 selamat ulang tahun untuk dia.

Sajian cinta yang mati

Ingin menuliskan puisi cinta, tapi sayang hati terlanjur patah.

Sejenak bermain logika tanpa arah.

Bukan tulisan tentang cinta karena walaupun rasa itu ada sebisa mungkin harus dibunuh.

Terluka dengan rasa sendiri, walaupun enggan membaca perihal hati namun sudikah untuk tidak membuatnya semakin mati dalam keadaan sia-sia?

Sungguh tak ada hal yang tanpa disadari, begitu juga dengan tulisan yang pernah terkemas menjadi hadiah dari hati.

Sungguh tak ada ketulusan yang berhenti dengan keluhan.

Jangan tertawakan, cukup lihat saja tarian kebodohan yang masih menyajikan manisnya ‘cinta’

Kau menikmatinya? Habiskan saja hingga tegukan terakhir. Setelah itu mari berkisah mengenai pengorbanan yang sengaja dipilih hanya demi lengkung senyummu. Layaknya seorang prajurit melakukan bom bunuh diri untuk cinta kepada negri.

Masih belum cukup?

Baiklah, teruskan dan semesta yang akan bicara.

Tak ada permintaan, bukankah terbalut tuntutan?. Isi saja dengan ego karena ketulusan akan selalu terkalahkan. Anggap saja kakimu adalah sebaik-baiknya tempat di atas hati. Lebih tepatnya hati yang berada di bawah telapak kakimu.

Langit tak berarak, angin tak sepoi lautan tak biru dan hati tak merah.

Menggelepas dan menjerit dalam senyuman. Tak mendengar apapun? Tentu saja jangankan indera pendengar, seatom hatipun tak tersisa.

Biarkan saja mati, biarkan saja, karena setelah itu ia akan bangkit dan berlari. Kataku perih, katamu tak peduli namun kau tau apa katanya?

Tetap indah dan terbaik.

Tambah usia

  

Diantara angin mendayu, langit berarak menjadikan teduh. Di antara kejauhan bumi, ku tulis sebuah kado dalam bingkai puisi.

Menulis perkaramu dalam sebuah manuskrip, mukadimah pun tak kunjung berhenti. Merangkai aksara sungguh ku belajar. Menuntaskan pinta adalah langkahku.

Semesta berdoa pada pertambahan usia. Semoga dewasa mengiringi langkah. Semoga sembilu tak lagi bersama dan senantiasa ucap syukur atas kasih.

Katamu “Banyak kerikil tajam”, bukankah perjuangan adalah melewati kerikil. Biarkan saja malam mengecup lembut mimpimu, biarkan siang memagut erat cinta.

Akan banyak hari dimana kau bernyanyi, tanpa ada sepi merenggut sendiri. Tetaplah indah walau perih masih tertahan, cukuplah sudah mengenal cinta yang luka.

Tak harus menjadi sempurna jika melukai hati, untuk apa mengejar ego jika merampas diri. Berteriaklah jika terasa penat, menangislah jika itu membasuh hampa.

Tiup lilin pada sepotong kue, nyalakan lentera penerang jalan.

Selamat ulang tahun, teman.

–end–

* dirangkai sebagai permintaan dari teman yang berulang tahun di 11 April