Bak gemintang


Begitu banyak definisi cinta di dunia, literatur yang memaparkan kekhasanahan sebuah cinta ataupun makna cinta yang keluar dari bibir-bibir para pelaku.

Aku, tak mengambil banyak tentang makna cinta dari buku ataupun dari yang ku dengar. Aku hanya tau jika cinta adalah sesuatu yang ada di diriku dan ingin ku wujudkan dalam bentuk memilikinya.

Mencintai bukan berarti memiliki.

Benar, sebab cinta dan kepemilikan dia (yang kita cintai) tak selamanya selaras.

Mencintai ya cukup memberikan apa yang terbaik, apa yang membuatnya bahagia dan apa yang ia butuhkan.

Aku, bukan orang yang pandai untuk menggambarkan cinta juga bukan ahli dalam mengungkapkan rasa cinta. Tapi setidaknya aku pernah memiliki cinta yang benar-benar seperti yang ku butuhkan.

Alasan untuk mengapa mencintainya, sampai saat ini aku tak mampu menjawab dengan pasti. Yang aku tau, kehadirannya membuat lubang hatiku tertutup. Keberadaannya membuatku ingin selalu mewujudkan bahagia-bahagia bersama.

Bahkan pada titik, aku tak peduli atas apa-apa saja yang menjadi kekurangannya sebab aku mencintainya dengan utuh, dengan segala yang ada di dirinya.

Bagaimana dengan “Aku bahagia melihatnya bahagia walaupun tanpaku”

Suatu pernyataan yang sebenarnya lebih tepat jika berada dalam kondisi dia yang kita cintai merasa tertekan dengan konsep cinta yang kita berikan. Ia selalu mengeluh, selalu bertikai dan selalu menghadirkan sikap tak nyaman. Bukankan benar seharunya berada dalam kalimat bahagia asal ia bahagia walaupun tanpa aku.

My love for you bigger than my ego.

Aku tak pernah bisa memaksakan kehendak di hadapannya, aku tak pernah menunjukan sikap marah yang tarlampau kasar atas sedikit berdebat dengannya. Aku juga tak pernah menguatkan ego ketika menyampaikan apa yang harus dan apa yang tidak.

Aku mencintainya dengan segala rasa yang ada di hati. Aku bahagia melihatnya tertawa dan menunjukan jika sangat membutuhkanku.

Aku menyukai dia yang selalu memintaku untuk tetap berada di dekatnya. Caranya memberi perhatian, caranya mendengar setiap kesukaran-kesukaran pekerjaanku. Aku mengagumi segala tentangnya, kepandaian isi kepalanya, kehangatan interaksi bersama orang-orang sekelilingnya.

Tidak ada sedikitpun yang membuatku berpikir untuk tidak mencintainya.

Sampai pada ketika ku sadari jika langkanya semakin jauh dan aku tertampar pada kesadaran jika aku hanya mampu mencintainya dari jauh, tangan-tanganku terlalu pendek untuk dapat meraihnya. Ia jauh berada di langit dan berkelip bak gemintang.

Aku hanya mampu memandanginya dan tak untuk memilikinya.

Aku yang pernah mencintaimu 14 Mei 2017

Dua tahun merayakan 14 Mei bersamamu.

Selamat ulangtahun, semoga kebahagiaan terlimpah untukmu. Semoga Tuhan menjauhkan apa-apa yang tidak bahagia untukmu.

Aku masih ingat tahun pertama mengirimkan 1 set buku bumi manusia sebagai hadiah ulangtahun.

Mengunjungi mu dari Kalimantan ke Sumatra bukan perjuangan sederhana. Harus melewati transit Jakarta menunggu beberapa jam. Hal paling aku tidak suka berada dalam pesawat yang membosankan. Itu semua bukan hal yang membuatku berhenti untuk berjuang.

Bersama denganmu menghabiskan banyak waktu adalah hal yang sangat membahagiakan untukku. Berkali-kali kau pernah mengatakan tidak pernah merasakan cinta seperti yang kau rasakan padaku.

Masih ku ingat jelas kita hanya bertemu saat sarapan bersama kemudian kamu harus segera kerja pagi sekali.

Aku tak kehabisan ide, setiap pagi selalu olahraga melintasi tempatmu bekerja, rumah sakit swasta terbesar di sumbar.

Aku tak pernah mengeluh setiap hari keberadaanku di Sumbar hanya memiliki sedikit waktu bertemu denganmu. Menunggumu pulang di cafe rumah sakit, melihatmu tersenyum dengan pakaian dinas. Mendengarmu berbincang ramah dengan para pasien.

Aku pernah secinta itu denganmu. Aku pernah sebahagia itu bersamamu.

Tahun berikutnya sengaja ku lewatkan bersamamu bahkan sebelum 14 Mei sudah ku langkahkan kaki di Sumbar. Menyiapkan kejutan sederhana. Mencari birthday cake yang aku benar-benar tidak pernah tau arah kotamu.

Birthday cake yang baru bisa kau tiup lilin ketika malam hari, sebab harimu tersita untuk pekerjaan. Tahun itu, justru aku yang mendapat kejutan, perihal pernikahanmu.

Ada sesak, ada sakit ada nyeri yang tak tertahankan. Ada tangis, ada luka ada kata yang sudah tak bisa dinegosiasi. Rencana pernikahanmu dengan orang yang sudah dipilihkan keluarga besarmu.

Seolah aku menyerahkan hati untuk terluka jauh lebih dalam tahun itu, hari ulangtahunmu.

Seolah aku sengaja ingin melihat kau tusukkan belati itu secara langsung tepat di hatiku.

Aku membawa hatiku yang terluka beberapa hari menjauh darimu, di hari lamaranmu, hari dimana kakiku berada di kotamu.

Patah hati tersakit yang pernah aku rasakan. Perihku menjerit tanpa ampun. Aku seorang kekasih yang tiba di Sumatra kotamu dan ternyata hari itu adalah hari istimewa (lamaran)mu.

Aku tak hanya menangis, sayang. Aku melihat hatiku berkeping perih. Aku pulang dengan airmata meninggalkan kotamu. Aku pulang dengan luka yang sulit untuk pulih.

Kau tak ada ketika aku terpuruk menjerit perih, kau ada hanya untuk “kamu bisa dapat yang lebih baik dari aku.”

Atas nama hatiku yang terluka aku berjanji saat itu akan segera bangkit dan mendapatkan yang lebih baik darimu, dengan tertatih.

Aku berjanji untuk bahagia seperti kebahagiaan-kebahagiaan mu.

Aku berjanji untuk tidak membiarkan hatiku sedikitpun mengingat luka perihal pernikahanmu.

Aku berjanji untuk ikhlas.

Dan, aku capai semua itu.

Hari ini, hari dimana aku pernah menangis. Hari ini hari kebahagiaanmu dan saat menulis ini aku tersenyum mengingat sebegitu besarnya aku pernah mencintai juga pernah patah sepatah-patahnya.

Tahun ini kau kembali hadir dengan cerita jika perjodohan tak selalu bisa berjalan seperti harapan keluargamu.

Tetaplah berjuang untuk masa depanmu. Tetaplah berdiri dengan kakimu.

Dengarlah, jika aku pernah bangkit dan berdiri sendiri ketika terpuruk dengan pernikahanmu. Maka kaupun bisa bangkit dari keterpurukan itu.

Kau seorang anak yang patuh terhadap aturan adat keluarga. Kau yang tak pernah ingin melihat keluargamu merasa tak nyaman. Kau yang mengajari ku tentang lebih dalam mengerti agama. Kau dengan isi kepalamu kerap menjelaskan perihal penyakit-penyakit yang ingin ku mengerti. Kau dengan bibir lembutmu.

Terimaksih sudah pernah ada, terimakasih kita pernah bahagia bersama. Saling menjaga dan menertawakan hal-hal bodoh bersama. Terimakasih untuk cintamu yang juga sebegitu besarnya.

Selamat ulangtahun. Semoga Allah selalu menjagamu.

Naskah terbit


Jika seorang editor mengeluhkan editing naskah yang katanya bisa bikin naik darah,Lantas kenapa naskah tersebut bisa lolos seleksi penerbit?

Tiba-tiba pertanyaan tersebut terlintas di benak saya ketika melihat cuitan keluhan dari seorang editor. Ia mengatakan jika mengedit naskah buruk bisa menyebabkan naik darah.

Seharusnya memang secara logika jika naskah tersebut kurang baik dan bisa menyebabkan naik darah seperti ungkapan sang editor, kenapa bisa diterima oleh penerbit?

Menerbitkan naskah bak mencari jodoh dan rezeki. Bisa jadi berjodoh tapi jika tidak rezeki juga tidak mendapatkan respon yang bagus.

Ada banyak hal kenapa para penulis bisa menerbitkan naskah, diantaranya:

1. Faktor keberuntungan

Ada beberapa penulis yang memang baru pertamakali mencoba kirim ke penerbit ternyata naskah tersebut terpilih untuk diterbitkan, hal tersebut tentu dibarengi dengan kualitas tulisan yang baik. Ada juga yang memang benar-benar beruntung walaupun tulisan kurang mumpuni.

Berlaku juga untuk beberapa public figure sekalas selebtweet atau selebriti yang memili lebih banyak faktor keberuntungan.

2. Relasi

Terlepas dari tulisan itu baik atau tidak, biasanya relasi sangat bisa menentukan. Contohnya jika kamu bisa dekat dengan salah seorang editor senior atau memiliki koneksi dengan penerbit terkait. Tidak butuh waktu dan perjuangan lama.

3. Jatah

Yang dimaksud sebagai jatah di sini adalah untuk mereka-mereka yang biasanya bekerja di penerbit. Beberapa diantaranya memang menawarkan kesempatan menerbitkan buku kepada karyawannya. Bagian ini juga lebih cepat proses terbitnya.

4. Kualitas/prestasi

Bukan dari faktor keberuntungan, relasi ataupun jatah. Benar-benar dikarenakan kualitas tulisan yang bagus. Banyak yang bisa lolos untuk poin yang 1 ini. Itu sebabnya buku yang mereka hasilkan juga berkualitas. Ada sebagian yang memang harus kerja keras dulu untuk bisa sampai di fase ini.

Ada banyak faktor-faktor lain yang bisa menjadi latar belakang penerbitan sebuah buku.

Seorang penulis hanya bertugas menulis, untuk penerbitan serahkan kepada nasib dan bantuan semesta.

Biarkan naskah itu berjuang untuk dirinya. Yang lebih penting dari naskah berhasil diterbitkan adalah konsistensi dalam menulis. Alangkah sayangnya setelah naskah bisa terbit namun intensitas menulis menjadi menurun.

Suatu saat kualitas dari seseorang akan terlihat dari isi buku yang ia hasilkan.

Tetap tulis, tak perlu kawatir mengenai diterbitkan atau tidak.

Tak harus selalu aku

Jika kelak engkau jatuh cinta padaku, mengertilah jika aku tak mampu utuh untukmu.

Ada banyak hal yang harus kita saling mengerti. Engkau memiliki kehidupan lain selain itu. Engkau memiliki cita-cita yang sudah tergantung sejak lama.

Jika kelak engkau jatuh cinta padaku, aku akan tetap ingin melihatmu menjadi apa adanya dirimu.

Bertemulah dengan banyak orang, berkembanglah dengan potensi yang ada di dirimu.

Aku akan mengiringimu untuk mewujudkan yang kau cita-citakan. Aku akan selalu menjadi rumah untuk kau pulang dan melepas lelah setelah bertemu dengan banyak orang.

Sadarilah, ada duniamu yang luas dan tak harus kau tinggalkan.

Ketahuilah, ada sebagian tawamu yang juga menjadi milik mereka-mereka.

Namun, hati serta cinta dengan utuh adalah aku menjadi pemilik tunggal.

Kita adalah aku dan kamu.

Kamu adalah aku, dirimu dan mereka.

Aku adalah aku juga kamu serta aku yang selalu ada untukmu pulang.

Ketahuilah sayang, ada banyak hal yang tak harus selalu aku. Namun, bukan berarti semua hal harus berjalan tanpa cinta kita yang mengiringi.

Aku menyukai ketika mereka memujimu, aku menikmati mendengar kisah-kisah mereka dari bibirmu. Aku juga tak pernah ingin kau kehilangan apapun yang sudah ada.

Aku sebagai pelengkapmu, bukan aku sebagai penggerus kebahagiaanmu.

Jika kelak engkau jatuh cinta denganku, izinkan aku mengenal rasa dimiliki (lagi).

Sejarah mencintai konvensional

Ini yang baru saja saya baca sebelum menulis blog.
Hanya dari ulasan tersebut tiba-tiba saya merindukan gaya menulis saya yang konvensional.

Walaupun sudah banyak menulis cerpen saya masih terus belajar untuk menjadi benar-benar seorang cerpenis.

Bermula dari kecintaan saya terhadap seni drama. Bisa dianggap saya belajar sudah tertinggal jauh, tepatnya saat SLTA. Saya begitu tertarik dengan dunia teater. Bahkan setelah lulus saya masih mengasah kemampuan seni pertunjukan itu di kampus. Dan saya juga menjadi salah satu penulis naskah juga pelatih (sekaligus penggarap di SLTA favorit kota Banjarbaru.

Lumayan bertahan lama, bahkan sampai saya masuk dunia kerja juga masih menjadi pelatih di sana.

Sembari itu saya menggeluti puisi, hanya sebagai konsumsi pribadi juga teman-teman dekat. Beberapa buku tebal berisi banyak tulisan saya dan teman-teman. Juga fase tersebut masih saya jalani ketika awal mula membikin twitter.

Sampai akhirnya saya mengenal tulisan bernama cerita pendek (cerpen). Fase yang sama saya menulis cerpen hanya untuk lingkup pribadi dan isinya masih berisi curcol.

Akhirnya ada seorang (mantan) pacar yang selalu minta saya untuk memasukan cerpen saya dalam lomba karna dia pikir karya saya pantas untuk diikut sertakan. Tidak hanya sekali, tapi dia selalu membujuk dan saya selalu menolak dengan alasan kurang percaya diri.

Saya sempat memasuki fase menggilai novel dan membeli beberapa novel (yang sudah saya hibahkan), tapi memang saya kurang menyukai tulisan panjang.

Saya mudah bosan, itu sebabnya saya bukan penggemar novel.

Demikian alasan utama saya. Walaupun saya memang membaca novel karya Haruki Murakami, Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Sapardi Djoko Damono juga beberapa penulis pemula saat itu.

Untuk urusan cerpen saya juga melahap kumcer dari berbagai tipe penulis. Dari pemula, senior hingga maestro. Saya mencoba menemukan mana yang sangat saya gemari. Sebab cerpen memili banyak sekali ragam warna.

Jatulah pilihan saya pada cerpen-cerpen konvensional. Gaya menulis saya juga cenderung ke arah konvensional. Hanya saja ilmu saya masih minim untuk belajar menggabungkan unsur-unsur lain. Saya menulis selugasnya cerpen konvensional.

Untuk cerpen nuansa metropop, tentu lahir anak saya berjudul RENJANA. Saat menciptakannya sayapun tidak ingin ia terlahir dalam bentuk hanya kisah-kisah cinta biasa. Saya memasukan berbagai pengetahuan kecil dengan gaya penulisan unik setiap bagian cerpennya.

Jujur, saat itu memang saya tertantang untuk menulis cerpen metro yang manis. Penerimaan pembaca yang sangat saya tidak duga, di atas prediksi awal. Bahkan Renjana terpilih dalam kumcer terbaik dan mendapat penerbitan gratis dari indi, Alhamdulillah.

Saat inipun saya sedang menyiapkan satu kumcer metro (lagi) yang masih belum juga rampung. Mohon doanya agar saya bisa mengerjakan dengan maksimal.

Baik, kembali ke topik awal. Membaca epilog Maman S Mahayana Potret Indonesia dalam Cerpen, membuat saya merindukan kekonvensionalan saya,

Barangkali, setelah satu buku yang saya kerjakan ini usai maka saya akan menulis lagi cerpen-cerpen konvensional. Saat ini saya akan memperdalam ilmu dengan belajar dan terus mencari tau perihal cerpen-cerpen konvensional.

Lain kali akan saya bahas personal tips yang saya gunakan dalam menulis cerpen. Hanya saya gunakan pada diri saya tentunya. Salah satunya kenapa karya saya tidak banyak kata-kata yang nyastra. Dan teknik-teknik ‘jangan bolong logika’.

Tolong ingatkan untuk menuliskannya 🙂


Bagilah ilmumu maka semesta akan memudahkan kamu untuk mendapat ilmu-ilmu baru.

Kata-kata tersebut adalah hasil chit chat saya bersama salah satu selebtweet yang akan meluncurkan kumcer di bulan ini. Bahkan secara tidak sengaja kumcernya pun berjudul kata renjana, namun ia revisi karena banyak pertimbangan salah satunya karena buku saya sudah terbit terlebih dahulu dengan kata tersebut.

Saya ataupun dia, kami sama-sama memulai dari bawah. Bedanya dia memiliki banyak support keistimewaan lain.

Terimakasih banyak.
Aufa.

Hari ini, kau buat aku kecewa


Cukup saja hari ini untuk pertama dan terakhir kali.

Semula kau membuatku nyaman, sebab itu aku memilihmu untuk menemani hariku. Sebagai penopang hal-hal tersembunyi dariku.

Semula aku menduga kau akan lama menyertaiku dalam melawan hari. Kita bersama menaklukan lelah dan menggapai cita-cita.

Semula aku tak pernah sepercaya ini jika tidak denganmu.

Kamu begitu terlihat sempurna, persis seperti apa yang ku butuhkan.

Kamu adalah kekuatanku untuk menahan beratnya bagian yang ku banggakan.

Sungguh tak dapat ku duga, hari ini tepat di hari ini kau membuatku kecewa.

Aku tak percaya jika ternyata kau sama saja dengan yang lain bahkan jauh lebih cepat.

Kau membuatku sedih, kecewa dan tak ingin lagi aku mengenal serta menyertakan mu lagi dalam hari-hariku.

Kau membuatku kecewa dengan tali yang tiba-tiba longgar dan turun dari bahu. Kau bra yang tak ingin lagi ku kenal. Cukup saja sampai di sini.

Kau patahkan kepercayaanku. Kau tak sebanding dengan penampilan yang justru kau membuatku risih.

Cukup saja hari ini.

MENGUBAH RASA


Satu helaan nafas panjang,

Setelah beberapa hari disibukan dengan kerjaan, projek nulis yang bahkan belum 50% juga perkara riuh-riuh lainnya.

Terkadang aku ingin menuliskan semua di sini, agar karyaku tak rancu dengan sekedar isi curahan hati.

Begitu riuh, isi kepalaku.

Entah benar atau tidak cara yang ku gunakan selama ini tapi yang jelas aku sudah berlari cukup jauh dan sangat jauh.

Dia datang menyapa dengan luka dan lebam yang akupun tak tau jauh lebih buruk atau tidak daripada aku yang kala itu terluka olehnya.

Aku sudah berlari jauh dan sangat jauh. Bahkan untuk sekedar mendengar perihnyapun seolah enggan melakukan.

Bukan, bukan berhenti untuk peduli. Bukan juga bersikap terlalu membentengi diri.

Hanya saja aku merasa semua tak adil, dia tak pernah ada ketika aku menangis terisak untuk caranya meninggalkanku. Hanya untuk masa lalu. Itu yang pertama.

Dan bahkan iapun tak pernah ada ketika aku menjerit perih atas pernikahannya yang begitu sempurna menusuk tepat pada hati juga jiwaku.

Aku melepas dan bangkit tertatih tanpa dia, tanpa dia yang pernah ku cintai dengan begitu hebatnya.
Aku terluka dan sangat amat terluka tanpa pernah lagi sedikitpun ia peduli.

Kini, ia datang bersimbah luka.

Maaf, aku hanya akan ada untuk semua kerumitan yang tak berbicara tentang hati.

Aku sudah pernah ada dua kali di hatimu. Dan takkan pernah ku biarkan hatiku kembali memasuki luka untuk ketiga kalinya.

Maaf, peduliku hanyalah sebatas teman, biasa. Tak lebih, dan takkan pernah lebih.

Walaupun dulu pernah sebegitu dalamnya rasaku.

Semua sudah ku hapus. Pun dengan amarah serta tiada penyesalan atas apa yang sudah terjadi.

“Aku tak punya siapa-siapa lagi selain kamu”

“Aku ada untuk mendengarkanmu, tapi tidak untuk perkara hati.”

Pos Cinta, terimakasih.


Teruntuk Pos Cinta
Kerap bertanya siapa pencetus program menulis surat cinta yang mampu menyedot banyak perhatian massa.

Untuk Pos Cinta,

Begitu banyak rasa terimakasih yang ingin ku sampaikan.

Berkatmu juga setidaknya dalam 1 tahun aku memiliki kekonsistenan untuk menulis dan mengisi blog.

Walaupun bisa dikatakan kualitas tulisanku jauh dari kata bagus.

Untuk Pos Cinta

Terimakasih sudah mengenalkan kami banyak Bosse. Yang rela meluangkan waktu untuk membaca satu demi satu surat dan bahkan mengirimkan kepada tujuan.

Untuk Pos Cinta

Sayangnya, tahun ini hanya 7 hari waktu menulisnya. Berbeda dengan biasanya yang hingga 30 hari banyak cinta-cinta tersebar merah jambu di timeline.
Terimakasih untuk Pos Cinta,
Semoga tidak hanya berhenti hingga tahun ke-7 saja. Nanti dan nanti akan banyak sekali para pecinta yang ingin menyampaikan kisah-kisah mereka.

Surat untuk mu yang tak pernah cela di mataku


Untuk mu yang tak pernah cela di mataku.



Seharusnya surat ini aku tulis besok tepat di tanggal 14 ketika banyak cinta menyeruak.
Namun, pada program spesial #PosCintaTribu7e besok adalah tema khusus, hingga aku menuangkannya hari ini.

Benar, kata mereka jika cinta tak harus hanya di tanggal 14 Februari. Dan juga benar jika perayaan semacam ini tidak perlu dengan hal yg glamour. Tapi bukankah benar juga jika aku hanya memberi apa yang ku ingin sampaikan.

Aku tidak lagi memiliki hak apapun untuk langsung menyampaikan kepadamu. Sebab tiada kepantasan dari seorang sepertiku.

Melalui surat terbuka ini aku hanya ingin menyampaikan apa-apa yang ada di hati adalah kebenaran dari rasa cinta.

Aku tak pernah menyesali apapun, dan tak pernah mengutuk apapun selain kebodohanku sendiri untuk tak mampu menumbuhkan cinta di matamu.
Penyesalanku hanya karena tak lagi memiliki kesempatan untuk memperbaiki ini semua.
Semua begitu cepat, semua begitu perih ketika ku sadari kita telah usai.

Segala yang sudah kita lewati tetap akan menjadi memori yang tersimpan dalam hati.

Terimakasih sudah banyak melakukan hal asik, untuk segala kepedulian juga rasa yang pernah hadir walaupun hanya singgah sementara.

Terimakasih untuk membagi kisah sebagian hidup dan sempat memasukan aku menjadi bagian terindah di dalamnya.

Aku mengerti batasan, akupun tau perihal perjuangan.

Aku melepaskan apa yang tak lagi mungkin bisa ku gapai. Ku ikhlaskan hingga aku tak ingin menemukan hal lain terkecuali kebahagiaanku sendiri.

Kamu yang sudah berada di pelukan orang yang tepat. Sebab kesabarannya yang selalu kau agungkan memang bukan bagian dari ketulusanku yang bahkan belum sempat teruji.

Aku percaya, kau akan selalu mendapatkan orang yang baik, sebab kau pun sungguh baik.

Aku juga percaya semesta akan mendengarkan doa-doaku untuk kebahagiaanmu.

Tersenyumlah, senyum itu yang pernah aku lihat pertamakali ketika kita bertemu.

Senyum yang mampu mengguncang riak hatiku.
Valentine untukmu, selalu banyak cinta dan harapan-harapan baik. Semoga selalu bahagia dengannya.

Dari aku yang pernah menjadi bagian hidupmu, walau hanya sementara.
Dari aku yang hanya mampu mengucapkan happy valentine hanya melalui surat saja.
Dari aku yang selalu merindukanmu dengan sesak setiap malam.

Aufa.


Memilih diam


Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menyikapi luka.

Kadang aku juga tidak mengerti bagaimana imun pada hatiku bisa bekerja.

Yang jelas, terkadang aku bisa merasakan sembuh dari luka tidak terpengaruh oleh waktu. Ya, walaupun kata mereka time heals all wound.
Aku juga sempat berfikir terbentuk dari apa diriku, ketika aku memiliki sifat mudah memaafkan.

Memang seharusnya begitu, tapi sikap pemaaf itu membuatku berkali-kali jatuh ke lubang yang sama.

Aku kerap lupa atas perlakuan buruk yang pernah orang lain lakukan kepadaku.

Orang yang berbeda, kejadian yang sama. Kerap menyapaku bak deja vu.

Patah hati?

Banyak membuatku diam dan menangis, itu saja.

Tidak menebar kata-kata buruk atau mencaci dia yang melukai dengan perkataan buruk.
Sedangkan untuk dia yang merebut kekasihku?

Ah, sudahlah. Sebab aku tak pernah membencinya. Hanya kesal, sedikit.

Karena bagiku perselingkuhan sekecil apapun takkan terjadi jika kekasihku memang bersetia tak hanya di mulut saja.

Akan ada banyak godaan di luar sana, terlebih 24 jam kita bukan semua tentangnya.

Sebab itu, semua kepercayaan, semua rasa sudah ku berikan kepadanya untuk dijaga.
Alhasil, memang menjaga diri sendiri jauh lebih sulit tinimbang menjaga orang lain. Dan terbukti mana yang mampu atau tidak mampu.

Jatuh cinta adalah cara terindah untuk melukai diri.

Cepat atau lambat, luka akan hadir.

Bahkan perjuangan untuk menaklukan hati ada batasnya.


Siapa yang tau batasan itu? Tentu saja diri kita.

Membatasi dengan mengontrol atau membatasi dengan menyudahi.

Caraku membatasi dengan mengontrol.

Sebab aku akan memilih diam jika sudah tak digubris.

Sebab aku akan memilih tenang jika sudah tak dianggap.

Sebab aku akan menjadikannya biasa ketika hadir orang lain di sisinya, walaupun ia tak pernah sekedar biasa di hatiku.

Sebab aku akan membiarkan cintaku pudar dan terkikis habis bahkan tanpa perlawanan.

Tiada nyali untuk kembali mengetuk pintu yang sudah tertutup rapat.

Tiada daya untuk bertahan dalam kepingan rasa yang semakin meresah.
Hanya diam, menulis barangkali menyembuhkan.

Ku tuliskan semua dalam bentuk surat, ku patrikan melalui pos cinta. Agar aku bisa membacanya selalu.
Masa recovery adalah kisah dimana ada tangis dan juga perjuangan untuk tetap berlari.