Menulisku 2017

Mengawali dunia menulis di tahun 2014, kala itu hanya sebatas menulis puisi-puisi biasa, sajak-sajak sederhana juga banyak sekali menulis hal-hal yang ada di kepala dalam garis waktu.

Menjadi tertarik dengan cerpen ketika pertamakali membaca sebuah cerpen dari pranara yang terunggah di garis waktu. Semakin sering membaca cerpen hingga belajar menulis hanya dengan bentuk sederhana. Tulisan yang singkat.

Saya merasa cerpen saya begitu dangkal dan begitu mentah, hal tersebut membuat saya semakin ingin menenggak ilmu lebih banyak lagi. Keterbatasan akses membuat saya ingin segera keluar dari zona isolasi. Saya pernah mencoba belajar dan mencari ilmu dari salah satu penulis di kota saya tinggal sekarang, Banjarbaru. Namun, harus berakhir dengan pahit karena saya hanya mendapatkan respon acuh dan tak pernah sama sekali ditanggapi dengan cara yang baik. Saya tidak berkecil hati, malah itu saya gunakan sebagai cambukan untuk menunjukan jika banyak ilmu yang bisa saya dapatkan tapi tidak melalui dirinya.

Saya juga pernah bertanya mengenai menulis cerpen ke salah satu penulis (yang saat ini sudah menerbitkan banyak novel dan digandrungi para remaja) ketika ia membuka kesempatan bagi siapapun untuk mengirimkan surel ke alamatnya. Masih sama, saya tidak mendapatkan balasan apapun, yang padahal saya hanya menanyakan mana yang lebih dulu dicari, tema tulisan atau tulisan yang pada akhirnya akanmengerucut menjadi satu tema.

Atas kedua kejadian tersebut, saya tidak pernah menyerah. Saya memperbanyak ilmu dengan sering membuka twiter dan mengikuti akun-akun yang secara cuma-cuma kerap membagi tips menulis. Hingga saya mampu merampungkan satu cerpen dengan struktur sebuah cerpen yang utuh.

Saya tidak merasa puas dengan tulisan saya, dan saya mencoba melihat sampai sejauh mana hasil karya saya jika disandingkan dengan penulis lain. Maka, pada saat itu saya mengirim tulisan saya untuk mengikuti sayembara lomba menulis. Itupun berkat dorongan beberapa teman yang mengatakan jika tulisan saya layak untuk diikutsertakan. Memang benar, saya bukan orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Namun, setelah melihat tulisan saya untuk pertamakali terpilih dan dibukukan oleh komunitas menulis, seolah menjadi penyegar bagi sahara.

Saat itu saya sangat menggemari jika ada lomba yang memberi fasilitas review oleh jurinya. Sebab yang saya perlukan adalah koreksi dari tulisan saya dari orang yang memang benar-benar memiliki jam terbang tinggi dan memiliki banyak karya yang berkualitas bagus. Semua perjalanan tidak mudah tentunya, saya juga pernah mendapatkan kritikan pedas jika tulisan saya hanya mengandung unsur ranjang. Walaupun saya berusaha menyangkal tapi kritikan tersebut saya jadikan untuk membenahi gaya menulis saya.

Terhitung sampai saat ini saya sudah banyak mengikuti lomba menulis, hanya untuk mengasah kemampuan saya menulis dan juga mengetahui seberapa bagus peringkat tulisan saya jika dibandingkan dengan yang lain. Tentu saja setiap lomba memiliki karakter penilaiannya masing-masing. Hingga saya memenangkan lomba dan berhak menerbitkan satu buku di pertengahan tahun 2014 buku kumcer solo saya yang pertama lahir dnegan judul Kamandrah. Buku kedua lahir di awal tahun 2016 dengan judul Renjana. Jika dihitung mungkin sudah berjumlah ratusan lebih cerpen yang saya tulis, sebab sampai saat ini saya sudah memiliki 45 list antologi yang masing-masingnya berisi karya saya. Tentu saja untuk mencapai angka itu harus melewati tahap seleksi terlebih dahulu.

Saya sangat menyukai cerpen karena dalam ukuran sederhana tapi memiliki banyak unsur di dalamnya. Cerpen yang harus padat dan berisi, tidak bertele-tele serta membuat pembaca mampu berdecak hanya dengan membaca beberapa menit saja. Cerpen yang isinya tidak monoton hanya sebatas kisah cinta biasa. Saya akui, saya masih perlu banyak belajar lagi untuk bisa membentuk cerpen yang bagus, tentu saja tidak untuk semua orang sebab seorang penulis tidak akan pernah mampu memuaskan seluruh pembaca karyanya.

Sampai saat ini, saya masih perlu banyak ilmu lagi. Namun, saya akan bersenang hati membagi ilmu menulis sebab saya pernah berada dalam posisi yang diacuhkan oleh seorang penulis hingga saya berusaha untuk melakukan hal yang sama kepada mereka yang datang kepada saya. Barangkali ilmu sedikit saya bisa saya bagikan, mana tau mampu menjadi hal besar bagi penerimanya.

Dalam waktu dekat juga saya akan menerbitkan satu lagi kumcer, yang tentunya berbeda dengan Kamandrah dan Renjana. Setelah itu, saya mulai akan menyusun untuk projek kumcer konvensional. Semoga bisa satu demi satu target saya terpenuhi, Amin.

Banjarbaru, 05 Desember 2017

Cerita sore ini


Sedikit ku tulis di sini,

Aku bukan orang yang pandai merangkai kata dan menjadikannya dalam sebuah sajak cinta.

Aku bukan orang yang berani mengucapkan janji-janji manis kemudian menjadikan seperti mimpi yang tak pernah terwujud.

Padamu aku kisahkan sedikit tentangku, tentang kita jika nanti menjadi satu.

Aku hanya ingin terus memilikimu bahkan sampai “selama-lamanya” seperti ucapmu. Aku hanya ingin terus berada dalam cinta yang nyaman, cinta yang tak harus melewati banyak permasalahan hanya untuk saling berdebat hal-hal kecil.

Aku adalah orang yang nanti akan mencandu pada pelukan kita yang hangat, seolah enggan melepas hanya untuk berpisah sejenak.

Aku adalah orang yang nanti akan menjadikan detak jantungmu sebagai suatu aspirin ketika ku rebahkan kepalaku pada pelukanmu. Sedekat itulah kita nantinya, seperti itulah aku yang akan menghabiskan waktu berbahagia bersamamu.

Aku tidak mampu selalu ada disetiap permasalahan-permasalahanmu. Namun, percayalah setiap kali kau pulang akan selalu ada aku yang menunggumu sebagai rumah untukmu melepas semua lelah.

Aku yang akan mengusap lembut rambut-rambutmu dan memberi kecupan hangat di kening, seolah yang ingin ku sampaikan “tak perlu kawatir, apapun itu akan selalu ada di dekatmu.”

Aku adalah kekasih yang selalu ingat jika hatiku sudah kau miliki dan jika cintaku tak lagi untuk yang lain.

Aku tak mampu selalu ada di dekatmu tapi aku adalah orang yang akan selalu berusaha untuk selalu ada. Aku memiliki keterbatasan-keterbatasan kuasa, tapi setidaknya aku tidak hanya diam untuk membuktikan betapa cintaku untuh untukmu.

Aku adalah rindu dalam diam, resah dalam ketidakberdayaan tanpa kuasa untuk memiliki.

Aku adalah seseorang yang menunggumu datang untuk menjadikan yang biasa terasa tidak biasa. Menjadikan yang asing menjadi kekasih.

Menjadikan aku, sebagai kekasih.

Sisanya ku berikan padamu.

Surat untuk kamu

Pernah terbesit dalam benakku untuk jatuh cinta kepada orang yang begitu memperjuangkan hatiku dengan bersungguh-sungguh. Luluhnya hati seorang perempuan bisa jadi bukan hanya karena cinta tapi juga karena kesabaran yang mampu membuahkan cinta.

Ada beberapa hati yang pernah ku singgahi dan menetap sebelum akhirnya hubungan kami kandas. Pernah terluka teramat sangat hingga tak berada pada diriku sebenarnya, sebab dicintai hanya untuk sebuah ‘pelarian’ itu sungguh menyakitkan. Hingga ia tak pernah tau bagaimana caraku menyembuhkan luka, yang ia tau hanya suatu kepantasan jika meninggalkan seseorang demi orang lain yang masih ada di hatinya.

Lelah?

Iya, dan sangat.

Aku juga pernah menyia-nyiakan orang yang begitu menginginkanku hanya karena aku masih berada dalam fase gamang. Ketika aku sudah yakin akan dirinya, ketika mulai buka hatiku untuknya, seketika itu pula ia berbalik arah dan meninggalkan aku dengan kekecewaan yang mendalam. Ada banyak penyesalan, ada banyak rasa ingin mengeluarkan banyak kata maaf. Sudah ku lakukan, dan di sinilah aku saat ini menuliskan surat ini untukmu.

Kamu, kamu yang tak tau siapa, yang jelas kamulah masa depanku kelak. Orang yang bisa jadi belum ku kenal saat ini. Kamu yang akan ku cintai dengan tanpa keraguan lagi. Kamu yang akan membuatku merasakan dicintai dan dimiliki sepenuhnya.

Dan aku ingin kamu atau aku menemukan dengan cara yang tak begitu rumit, seperti halnya isi hatiku. Banyak impian yang ku inginkan untuk menjalani hubungan yang menyenangkan, hubungan yang tidak selalu membuat aku harus mengerutkan dahi, menahan sesak di dada ataupun seperti yang sering orang sebut dengan makan hati.

Setidaknya kamu nanti yang akan membuatku selalu nyaman dengan penampilanku. Tidak harus aku berusaha sekuat mungkin untuk tampil sempurna di hadapanmu. Seburuk-buruknya hariku, engkau akan tetap menggandeng tanganku dan tersenyum melihat penampilanku yang tidak mewah.

Aku tidak harus mengikuti berbagai program diet hanya karena engkau selalu mengeluhkan berat badanku yang tak setara dengan model-model majalah. Aku juga tak harus kawatir jika satu atau dua jerawat tumbuh di wajahku. Sebab engkau akan selalu menganggap itu semua hanya hal kecil yang tak perlu untuk dijadikan masalah.Tapi bukan berarti aku tidak menjaga penampilan untuk membuatmu nyaman menjadi milikku.

Aku tak perlu menghabiskan waktu untuk cemburu dan bertanya mengenai keberadaan hatimu, sebab caramu mencintaiku sudah cukup menunjukan bagaimana kita saling memiliki dan saling menjaga hati sendiri. Bukan hanya hal kecil saja tapi juga hal-hal besar yang tak perlu lagi ku tanyakan akan selalu kau bagi, sebab kita adalah satu yang akan saling berbagi.

Akan ada ketidaksepahaman, akan ada masalah yang membuat kita saling meninggikan ego dan saling berusaha memenangkan pertengkaran, tapi mau kah kau ingatkan aku jika semua hal masih bisa dipecahkan bersama tanpa harus mendahulukan emosi. Percayalah, akupun tau bagaiman rasanya terluka dan disakiti, sebab itu sebisa mungkin aku akan berusaha untuk tidak melakukannya padamu. Jika harus terus mencari kesalahan satu sama lain, akan habis waktu kita termakan oleh nyeri hati. Seharusnya kita ada untuk menambah kebahagiaan.

Aku tidak bisa menawarkan jika kamu akan selalu baik-baik saja bersamaku, aku hanya mampu menjanjikan apapun yang kan kita lewati kelak, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku juga hanya mampu berusaha untuk dapat membuatmu bahagia. Kesabaranku lebih luas dari egoku, setiaku tak usah kau pertanyakan lagi. Sebab yang ku inginkan hanya menjalani cinta tanpa ada lagi kerumitan.

Cinta yang mungkin saja ada di dirimu yang sedang membaca suratku ini. Smapai bertemu, kamu yang akan menjadi belahan hatiku.

 

Salam sayang,

Aufa.

Bicara luka (KATARSIS)


Luka…

Kali ini mungkin saya ingin bercerita tentang luka.

Setiap orang memiliki kemampuan berbeda untuk merasakan luka. Terlebih luka yang tak nampak oleh mata, luka hati. Luka yang menurutmu kecil belum tentu orang lain merasakan sekecil yang kamu rasa. Sebab itu sebagai keunikan dari manusia yang memiliki rasa berbeda antara satu dan yang lainnya.

Sebagian orang memilih hidup dalam luka dan menemukan sedikit kebahagiaan di dalamnya. Muncul pertanyaan “kenapa ada kebahagiaan di balik luka?” Tidak ada yang tidak mungkin kan?.

Ada juga luka yang sengaja dibuat hanya untuk melihat orang yang kita cintai bahagia. Salah satu contohnya melepas kekasih bersama selingkuhannya.

Sebagian orang mengekpresikan luka cukup jelas dan sebagian lagi menutupnya rapat dan menelan hingga habis.

Menyembuhkan luka bisa dengan berbagai cara, ada titik dimana seseorang akan berada pada nadir terendah menerima luka tersebut. Nangis meraung, berhenti melakukan apapun, juga bahkan ada yang menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan kebahagiaan dari trveling atau shopping.

Lakukan, apapun itu tapi yang jelas jangan sampai semakin membuatmu menghancurkan diri sendiri. Menangislah, hancurlah hanya untuk hari itu saja, jangan sampai berlarut. Sebab jika bukan dirimu sendiri siapa lagi yang mampu menyembuhkan luka itu.

Kerap terjadi menjalani hubungan yang selalu menggoreskan luka, kecil memang. Namun, ketika luka tersebut nyaris kering oleh kata “maaf” tapi tak bertahan lama karna kemudian menerima luka lain lagi. Terluka kecil tapi sering adalah hal yang sangat menyakitkan dan melelahkan.

Terkadang pilihan lain adalah benar-benar menghentikan luka itu dengan cara keluar dari lingkungannya, keluar dari kehidupannya juga dari cerita-ceritanya. Luka juga, berat dan sangat hebat. Namun, jauh lebih baik sebab menyembuhkan luka karna tak ingin terluka lagi.

Mengobati luka bukan perkara BISA atau TIDAK BISA, tapi perkara MAU atau TIDAK MAU.

Melangkahlah jauh, melangkahlah untuk mendapatkan ruang agar mampu bernapas lega. Mendapatkan kesembuhan untuk hatimu sendiri yang sudah terlalu berat kau paksakan untuk tetap bertahan.

Jika sudah jauh, jika sudah mampu tersenyum. Adalah pilihanmu untuk kembali ke dalam arena masa lalu yang sudah pasti kau pernah merasakan berada dalam kondisi itu atau memilih tetap melangkah pergi mencari kebahagiaan baru.

Sebelum kau memilih melangkah pergi, pastikan jika kau sudah melakukan segala cara untuk memperbaikinya. Pastikan kau sudah kehabisan ide untuk mampu menyulam perkara-perkara. Pastikan kau sudah menggunakan cara terakhir dari senjata yang kau punya.

Sulit?

Iya! Sebab tidak ada yang mudah untuk keluar dari zona nyaman. Niat hanyalah wacana basi jika tidak diiringi dengan tindakan.

Bergerak tapi pelan jauh lebih baik daripada diam dan tak memiliki progres apapun

Hanya kamu yang tau bagaimana caranya menuntaskan. Hanya kamu yang harus mengambil jalan ketika kondisi tak memberikan pilihan baik. Setidaknya semesta masih terbuka lebar untuk orang-orang yang berupaya menyembuhkan luka.

Jadi, apa yang akan kau pilih? Tetap berada di zona nyaman berselimut luka atau memilih luka dalam untuk mengakhiri.

Sama-sama berupaya menyembuhkan, bedanya zona nyaman menyembuhkan untuk kembali terluka dengan kondisi yang sama atau melangkah ke jalan lain, menyembuhkan untuk menyudahi luka.

Saya akan menceritakan bagaimana orang-orang mengentaskan lukanya, dalam KATARSIS.

Wait and see

Ini cerita mengenai suka duka menjadi marketing. Banyak pelajaran yang saya dapat di dalamnya sebagai marketing baru. Saya hanya ingin menuliskan agar ketika saya membacanya, maka saya akan tersenyum.

Pengalaman-pengalaman yang saya dapat sebagai seorang newbie di dunia marketing sebuah manufacture.

Beberapa minggu terakhir saya menawarkan kerjasama di salah satu perusahaan besar. Kerjasama yang bersifat mutualisme karna sama-sama menguntungkan.

Biasanya untuk memudahkan dalam pemasaran saya akan support total kebutuhan klien kami. Salah satunya perusahan YYY ini yang sudah saya keluarkan trik dari A sampai X.

Biasanya untuk perusahaan lain saya hanya berhenti di G dan mereka sudah mampu running sendiri. Ya memang tidak sebesar perusahaan YYY.

Hingga sampai trik ke W perusahaan YYY tak kunjung merespon dan mulai menjalankan step-step yang saya berikan. Semacam mereka tidak ada pergerakan. Kasus (saya sebut ini kasus) seperti ini saya coba sampaikan ke atasan saya selaku direktur marketing. Berikut obrolan kami:

Saya sudah sampai W pak tapi ya begitu masih slow respon

Ya sudah, jika begitu hentikan.

Maaf maksud bapak?

Iya, hentikan semua. Menjalin kerjasama bisnis buat saya bukan sekedar omset gede tapi juga kenyamanan kerjasama. Relasi kita itu sama dengan kekasih kita. Jika kita sudah berjuang habis-habisan ya sudah tinggal jalan di X wait and see, Y keputusan akhir dari reaksi mereka setelah kita diamkan dan Z eksekusi yang berarti kita jalan atau mundur.

Mundur? Nyerah dong pak?

Bukan nyerah karna gak mampu tapi nyerah karna ya memang sudah ga ada yang bisa kita lakukan lagi selain menunggu hasil.

Bapak gak takut ngelepas omset besar gitu aja?

Saya lebih takut jika team saya kehilangan semangat untuk mengejar omset lain. Percuma besar jika mereka tak juga sejalan dengan kita, lebih baik yang kecil tapi nyaman. Kita sudah semaksimal mungkin memberikan support.

Jika itu kekasih bapak apa bapak juga akan melepas semudah itu?

Why not? Kita sudah pada titik terendah dan habis upaya. Apa lagi yang mau diciptakan, apa lagi yang mau ditunjukkan. Kembalikan semua kepada dia, dan cukup diam untuk mengatur napas. Untuk apa berjuang jika hanya sendirian. Baik cinta ataupun bisnis jangan lupa sama batasan diri sendiri.

Ya, atas obrolan singkat itu banyak hal yang saya dapat. Termasuk memilih jalan wait and see terhadap perusahaan YYY.

Mengenali sebuah perjuangan


Yang membuat tersadar adalah bukan ketakutan untuk kehilangan, tapi rasa takut jika tak cukup mampu membahagiakan.

Bahkan jika ia lebih bahagia tanpa kehadiranmu, tanpa banyak pertimbangan sebaiknya bersiap untuk pergi dengan kesadaran tanpa satu alasan untuk bertahan.

Percayalah, melihat seseorang yang kita cintai tidak bahagia dengan orang lain itu sangat menyakitkan tapi akan lebih menyakitkan jika mendapati kenyataan ia tidak bahagia bersama kita.

Jika benar cinta itu perihal memberi tanpa menuntut untuk menerima, lantas bagaimana seorang Romeo memilih menenggak racun ketika Juliet sudah tak bernyawa. Lantas bagaimana pula seorang Rahwana menunggu hingga 12 purnama demi mendapatkan sebuah jawaban balasan cinta dari Shinta.

Bukankah Romeo ataupun Rahwana telah memberikan segala yang ia punya, tetap saja untuk sebagian orang (atau bahkan raksasa) memerlukan balasan cinta dan keberadaan orang yang ia cintai.

Sebuah kesabaran untuk meluluhkan hati seseorang dengan ketulusan cinta, dengan apa yang disebut sebagai perjuangan kadang menjadi rancu dengan anggapan hanya sebatas obsesi.

Mengapa harus takut dikatakan sebuah obsesi jika yang kamu perjuangkan adalah perihal ketulusan cintamu, perihal keinginanmu untuk memiliki orang yang kamu cintai.

Selama caramu tidak mengusik, selama yang kau berikan tidak untuk memaksakan dan selama tidak membuatnya terluka. Dan tidak menggunakan arogansi.

Jika memulai dengan cara yang baik dan tanpa sedikitpun niat untuk melulai maka pencipta semesta akan memberikan banyak kebaikan. Begitu juga sebaliknya, jika menyimpan niat ataupun hal yang tak baik maka pencipta semesta akan mengutus karma untuk menamparmu lebih keras. Jangan menantang karma, sebab ia mampu menjelma sebagai hal yang jauh lebih menyakitkan.

Jika ia tak mampu merasakan getaran cinta, jika ia tak selalu mencarimu, jika ia tak sebahagia itu, jika ia kerap merasa jenuh, jika ia masih tak pernah merindukanmu. Jika hubungan yang kalian miliki lebih pantas hanya sebagai pertemanan biasa. Cinta itu berupa letupan-letupan kecil, kegemasan-kegemasan yang alami, greget-greget yang hanya bisa didefinisikan dalam kedekatan hubungan.

Bukan ia, tapi kamulah yang salah. Kamu yang harus kembali menyadari jika keberadaanmu tak bisa mampu membuatnya merasa nyaman.

Menyerah sebab kecewa, itu wajar. Menjadi tidak wajar jika kamu terus memaksanya untuk tetap bersama denganmu.

Cinta bukan sekedar “memberi tanpa menuntut menerima” tapi cinta juga memiliki esensi perjuangan untuk memiliki dan membahagiakan orang yang kita cintai.

Sedangkan perjuangan memiliki batasan waktu. Bukan untuk membatasi sebuah pembuktian namun untuk menyadarkan jika mungkin bukan kamu orangnya.

Sampai kamu sendiri yang merasa lelah, sampai kamu sendiri yang berjanji pada hatimu untuk tidak lagi mencoba pada lintasan yang sama. Sampai habis dayamu. Sampai tak peduli lagi semua tentang dia, perjuangan yang sudah ataupun tentang kekalahan.

Ketika aku bersedia melakukan apapun untuk membuatnya bahagia. Ketika itu pula tetaplah berdiri di sana selama ia tak memintamu untuk pergi. Selama ia masih ingin kau berada di dekatnya. Barangkali ia hanya butuh waktu, selain butuh kamu.

Selebihnya kenali hatimu jauh lebih dalam. Jika bukan dirimu siapa lagi yang mampu mengerti hatimu sendiri.

Berapa lama, hingga akhirnya memutuskan untuk menikah?

Momen Lebaran, bertemu teman lama. Terkadang justru membuat kami saling bercerita hal privasi. Yah maklum saja terkadang jarak dan kesibukan membatasi untuk komunikasi yang intim.

Saya malam itu duduk bersebelahan dengan teman yang bernama Jasmin (sebut saja begitu, seorang perempuan yang kini bekerja di BUMN).

Jasmin teman dekat saya sewaktu kami masih duduk di bangku SMA, ia aktif dalam olahraga basket sedangkan saya diseni drama teater.

Jasmin memiliki seorang kekasih (sebut saja Bisma) sejak mereka duduk di bangku kelas 1 SMA. Pasangan yang selalu dianggap sebagai couple romantis dan bertahan hingga kami duduk di bangku kuliah.

Sejak di SMA Jasmin memang populer dan memiliki banyak teman lelaki. Hubungan asmara Jasmin dan Bisma kerap up and down. Bahkan sampai pada pertengkaran-pertengkaran. Mereka terus bertahan mengingat lamanya hubungan.

Di bangku kuliah ada lelaki lain yang kita sebut dengan Roy berusaha dekat kepada Jasmin. Tapi Jasmin tak sedikitpun menggubris Roy dan hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Roy berusaha menunjukan kepada Jasmin jika ia bisa melindungi Jasmin jauh lebih baik daripada Bisma yang kerap memberikan perlakuan tidak menyenangkan, termasuk ringan tangan.

Jasmin selalu menolak Roy, sampai pada ketika Roy memilih perempuan lain yang secara fisik mirip dengan Jasmin, sayangnya hubungan mereka hanya bertahan 2 bulan.

Tepat di 10 tahun hubungan Jasmin dan Bisma, mereka memutuskan untuk menikah. Mengikat hubungan lebih kuat. Sayapun hadir pada pernikahan mereka. Beberapa teman sebelumnya sudah mengingatkan Jasmin untuk berfikir ulang perihal pernikahan mereka tapi Jasmin menolak. Ia berpikir tidak ada yang lebih mengenal Bisma selain dirinya dan ia beranggapan jika Bisma akan bisa berubah menjadi lebih baik ketika mereka menikah. Perlakukan kasar Bisma hanya dikarenakan ketakutannya kehilangan dirinya, begitu penuturan Jasmin.

Tepat tiga minggu setelah mereka menikah, saya menjemput Jasmin dalam kondisi terisak dari jalan pinggir komplek rumah Bisma dan mengantar Jasmin pulang ke rumah orang tuanya.

Singkat cerita Jasmin divorce setelah ia mendapati Bisma yang selama ini ia kenal setia ternyata bercumbu bersama perempuan lain justru setelah mereka mengingat janji suci.

Recovery Jasmin cukup lama, kami yang selalu membantunya untuk bangkit, juga Roy yang selalu ada walaupun ia sempat berantakan saat Jasmin menikah.

Roy tetap tidak pernah meninggalkan Jasmin, ia selalu sabar mengikuti mood Jasmin yang tak menentu setelah kekacauan pernikahan.

Saya sempat bertanya jauh sebelum ini (dua bulan lalu, 3 bulan setelah ia divorce) mengenai kelanjutan hubungan Jasmin dan Roy,

“Kamu tidak berkeinginan untuk serius bersama Roy?”

“Aku gak tau gimana nantinya hubungan kami, tapi aku nyaman sekarang dengan Roy, aku gak mau dia jauh dari aku”

“Roy yang pernah berkali-kali kamu tolak”

“Iya, Roy yang selalu ada dan tidak pernah memaksakan perasaanku untuk menerimanya. Aku masih ingin meyakinkan diriku sendiri sebelum berani menentukan sikap untuk menggandeng Roy di depan umum. Apa lagi masih ada luka masa lalu yang harus ku sembuhkan.”

“Kamu tidak takut kehilangan orang sebaik Roy? Bagaimana jika tiba-tiba ia lelah menunggu dan menemukan perempuan lain?”

“Banyak orang yang berusaha mendekatiku dan Roy tau itu, tapi Roy juga tau jika satu-satunya orang yang dekat denganku hanya dia. Jika Roy menemukan perempuan lain berarti dia bukan jodohku”

“Kau tidak mencintai Roy?”

“Sejak semula cintaku hanya pada Bisma, tapi aku terus berusaha untuk menyudahi cinta itu serta perlahan memasukan Roy di hidupku”

“Tak ingin mencoba dengan orang lain?”

“Untuk apa, jika yang ada didekatku adalah orang yang sudah terbukti baik cintanya maupun kesabarannya”

Pembicaraan kami yang lalu.

Dan pembicaraan kami semalam, diawali dengan Jasmin yang berucap

“Tahun depan kami akan menikah” sembari menggenggam tangan Roy.

“Alhamdulillah akhirnya….”

“Iya, penantian yang penuh kesabaran” ucap Roy.

Haaahh… yang saya temukan dari cerita itu jika lamanya hubungan tidak menjamin dia adalah jodoh kita sebenarnya. Dan lamanya hubungan bukan berarti kita mengenal dia seutuhnya. Karna manusia bisa berubah karna hati kerap menjadi dominan dari logika hingga kita yang terjerat di dalam ‘rasa’.

Kesabaran Roy untuk menunggu dan membuktikan cintanya. Keteguhan Roy untuk selalu ada di dekat Jasmin mengobati luka-lukanya.

Jasmin nampak bahagia dengan Roy yang bisa menjaganya dengan baik. 10 tahun dengan Bisma kandas tergantikan dengan orang baru yang tiba-tiba hadir di hadapan Jasmin. Mungkin itu yang disebut dengan jodoh.

Sebuah kesadaran


— tulisan yang saya rangkai sembari mendengarkan lagu Ed Sheeran, DIVE —

Banyak yang bilang ketika hati patah harusnya bersyukur, karna dengan begitu ada banyak pelajaran baru yang bisa didapat.

Banyak yang bilang seorang perempuan akan menemukan tambatan hatinya yang terakhir setelah ia benar-benar merasakan luka dalam.

Banyak yang bilang berkali-kali jatuh dan terluka justru akan menguatkan hati itu sendiri.

Ya, banyak yang bilang.

Perkara jatuh hati ataupun jatuh terluka setiap orang memiliki pandangan berbeda. Terkadang apa yang disebut dalam motivasi-motivasi hanya berupa saran basi belaka.

Yang jelas beberapa orang hanya mendapatkan hasil (setelah terluka dan mampu bangkit lagi) jika sudah cukup malas untuk memulai cinta baru yang penuh kerumitan. Malas memulai hubungan dengan pengharapan yang tak pasti. Juga malas jika diiringi dengan drama-drama tidak jelas.

Salah satu teman baik saya pernah berujar (sebut saja dia LC, seorang penulis): gw sudah cukup tua Fa, gw gak mau memulai cinta dengan menghabiskan banyak energi tanpa kepastian. Tapi sekali gw memiliki dia maka gw akan benar-benar pegang komitmen untuk membahagiakannya dan menjaga hatinya baik-baik.

Menjaga hati, tidak akan menjadi sebuah usaha yang berat jika ia adalah orang yang kau cintai. Sedangkan menjaga hati sendiri jauh lebih penting, juga tidak akan menjadi urusan sulit jika benar hatimu sudah kau serahkan pada orang yang kau cintai.

Tidak ada yang salah dengan berjuang untuk meluluhkan hati seseorang, akan menjadi salah jika kau tidak tau batasan. Hingga dirimu sendiri yang hancur hanya karena hal yang sudah tidak mungkin dimiliki.

Kadang kita lupa perihal mengejar orang yang bisa menjadikan kita lebih baik lagi atau hanya sebatas obsesi sampai pada akhirnya menjadi tak peduli atas kebahagiaan sendiri. Seolah memiliki ia sudah cukup, hal-hal menyakitkan lainnya bisa tersapu.

Adalah salah jika mendekap hati seseorang hanya untuk mempertahankan ego atas keinginan memilikinya.

Memiliki, berjuang ataupun terpuruk semua ada batasannya.

Pernah juga (seorang bankir) ada yang memilih melepaskan cinta yang sudah lama ia miliki dan memilih menata kembali kehidupan dengan yang lain, ia berucap: aku tau sampai kapanpun aku gak akan pernah bisa bersatu di dunia ini. Dia yang sangat ku cintai namun semesta berkata lain. Aku memilih menghabiskan sisa usiaku bersama orang lain yang lebih bisa menjagaku.

Ketika saya bertanya bagaimana dengan cinta, apakah ia sanggup melepas orang yang sangat ia cintai dan memulai dengan orang baru yang tidak begitu besar ia cintai, ia menjawab: cinta itu bisa ditumbuhkan perlahan, tapi memaksakan diri untuk mengejar orang yang tak bisa dimiliki jauh lebih tidak mungkin. Apa salahnya menjalani dengan orang yang sebegitu inginnya membahagiakanku dan aku tau ia mampu menjadikanku lebih baik lagi.

Tidak LC ataupun bankir itu, sayapun akan memilih untuk menjalani cinta yang bisa memberikan kenyamanan. Ya, saya sudah cukup lelah menepaki jalan-jalan yang tak memberikan kepastian.

Bukankah menyenangkan jika hubungan penuh tawa, hangat dan tak perlu menanam curiga atau menyimpan amarah.

Pada batas saya berdiri dengan segala upaya, adalah logika yang menggiring untuk meminta kepastian atas pengakuan sebuah hubungan.

Sebelum terlanjur dalam, sebelum terlanjur hancur.

Suatu saat akan ada jemari-jemari tangan yang menyisip di sekat-sekat jemari saya. Ada debar cinta di sana, ada rasa untuk saling memiliki dan membahagiakan tanpa ada keinginan untuk saling melukai. Dengan nyaman, dengan tenang dan dengan sebenar-benarnya hubungan.

Jadi, kapan bisa kita mulai?


Hai,

Apa kabar hatimu hari ini? Masih dengan berbagai kesibukan-kesibukanmu bukan?

Sepagi ini aku menuliskan surat yang hanya bisa ku simpan di blog, sebab ku tau aku takkan pernah bisa menyampaikan secara langsung padamu.

Sudah lama sekali ingin ku tuangkan dalam sebuah cerita, namun mimpi semalam ketika bibirku bersujud dalam kecupanmu menjadikan aku begitu bersemangat untuk menuangkan sebuah isi hati dari kepala yang terlalu riuh.

Aku masih dengan aku yang selalu mengagumimu. Aku masih dengan aku yang masih tak pernah lelah ingin menjaga hatimu.

Apa yang bisa ku janjikan dari seorang yang hanya kaya dengan aksara (itupun setengahnya sudah ku patri dalam manuskrip fiksi tentang caraku mencintaimu).

Jika nanti engkau ingin bersamaku, ketahuilah jika aku tak mampu menjanjikan untuk dapat membahagiakanmu. Namun, aku bisa berjanji untuk terus berusaha membuatmu bahagia. Aku juga akan selalu ada dalam kondisi bahagia ataupun tidak, untuk terus menggenggam tanganmu.

Aku bukan sesorang yang hidup dalam belantara glamour kehidupan kota, tapi aku bisa hidup setiap waktu setiap detik hanya pada satu hati, yaitu hatimu.

Aku memiliki banyak kesibukan yang bisa menyertakanmu tapi ada juga yang harus ku tinggalkan pesan singkat “kangen” di sela-sela kesibukanku.

Aku bukan seseorang yang penuh kejutan-kejutan ketika kita sedang tak dalam kesepakatan yang sama, tapi yakinlah aku bukan orang yang rumit untuk kita saling menyatukan pikiran-pikiran. Sebab untukku dari dua perbedaan pasti akan selalu ada jalan tengah. Di situlah kita akan tetap saling berbagi hal nyaman dan mengerti hal yang memang harus sedikit dikalahkan.

Aku adalah orang yang tidak akan melarangmu untuk bersosialisasi menjadi dirimu sendiri ketika hal tersebut tidak membahayakan hubungan kita. Justru aku adalah orang yang akan setia menahan kantuk dan menunggumu pulang.

Kau bisa manjadikanku sahabat untuk bercerita banyak hal, saudara untuk mengisahkan mengenai keluarga, rekan kerja yang selalu ingin banyak tau pekerjaan serta kerumitan di dalamnya bahkan juga musuh untuk saling menbangkan pada kesempatan berbeda. Namun, aku tetaplah bagian darimu yang selalu haus oleh cinta dan kasih sayangmu.

Jangan risih ketika aku sesekali merengek untuk sebuah rindu, sebab setegar-tegarnya aku tetap akan butuh pelukanmu untuk mengatakan jika kau tetap bersamaku.

Akupun akan butuh segala hal tentangmu. Sebab aku ingin selalu hidup di antara kesibukan hari-harimu.

Aku ingin kau tau jika semua tentangmu adalah keutuhan lengkap yang akan ku dekap.

Sebagian dari semua yang bisa ku tuliskan untukmu.

Jadi, kapan bisa kita mulai?

Banjarbaru 16 Juni 2017

Dari aku, yang penuh rindu.

150617

Bertambah lagi satu tahun dari jumlah usia. Semenjak beberapa hari yang lalu sudah sedikit membuat keriuhan bertebaran ucapan doa dan semua saya terima dengan mengucap ‘Amiiin’.

Alhamdulillah punya banyak orang-orang baik yang selalu ada kapanpun saya butuhkan. Punya orang-orang yang dengan tulusnya “mau dikasih kado apa?” Juga ada yang sengaja hunting hal yang saya sukai sebagai “buat hadiah kamu nanti”. Terlebih untuk orang-orang yang sampai dengan sengaja menahan kantuk agar tepat di pukul 00.00 mengucapkan doa.

Saya sangat bersyukur memiliki mereka-mereka yang tak pernah lelah untuk melindungi saya dari luka, mereka yang sanggup memperbaiki hal-hal buruk di saya.

Tidak hanya itu, saya juga bersyukur atas beberapa orang yang sudah mute linimasa saya juga blok akun saya. Awalnya merasa gelisah dan berakhir dengan ketidakpedulian. Ya, semacam masa bodo untuk mereka-mereka yang tidak saya kenal.

“Semoga harapan dan doa yang diucapkan hari ini terkabul semua” subuh tadi, seseorang membisikan ini kepada saya.

Harapan dan doa, ntahlah. Sepertinya dua hal tersebut sudah luruh bersama tangis yang saya simpan rapat semenjak subuh dan tumpah begitu saya berada di kantor.

Seolah tidak ada hari lain untuk menangis.

Bukan cara yang indah untuk mengawali perayaan hari ulang tahun, memang. Tapi bukan cara yang salah jika air mata tersebut mampu menjadikan saya lebih dewasa.

Terimakasih untuk semua doa, terimakasih untuk yang sudah sebegitunya peduli dengan saya. Semoga pemilik semesta mengabulkan doa-doa.

Bahkan untuk diri sendiri, saya masih belum menyiapkan kado istimewa.