Pos Cinta, terimakasih.


Teruntuk Pos Cinta
Kerap bertanya siapa pencetus program menulis surat cinta yang mampu menyedot banyak perhatian massa.

Untuk Pos Cinta,

Begitu banyak rasa terimakasih yang ingin ku sampaikan.

Berkatmu juga setidaknya dalam 1 tahun aku memiliki kekonsistenan untuk menulis dan mengisi blog.

Walaupun bisa dikatakan kualitas tulisanku jauh dari kata bagus.

Untuk Pos Cinta

Terimakasih sudah mengenalkan kami banyak Bosse. Yang rela meluangkan waktu untuk membaca satu demi satu surat dan bahkan mengirimkan kepada tujuan.

Untuk Pos Cinta

Sayangnya, tahun ini hanya 7 hari waktu menulisnya. Berbeda dengan biasanya yang hingga 30 hari banyak cinta-cinta tersebar merah jambu di timeline.
Terimakasih untuk Pos Cinta,
Semoga tidak hanya berhenti hingga tahun ke-7 saja. Nanti dan nanti akan banyak sekali para pecinta yang ingin menyampaikan kisah-kisah mereka.

Surat untuk mu yang tak pernah cela di mataku


Untuk mu yang tak pernah cela di mataku.



Seharusnya surat ini aku tulis besok tepat di tanggal 14 ketika banyak cinta menyeruak.
Namun, pada program spesial #PosCintaTribu7e besok adalah tema khusus, hingga aku menuangkannya hari ini.

Benar, kata mereka jika cinta tak harus hanya di tanggal 14 Februari. Dan juga benar jika perayaan semacam ini tidak perlu dengan hal yg glamour. Tapi bukankah benar juga jika aku hanya memberi apa yang ku ingin sampaikan.

Aku tidak lagi memiliki hak apapun untuk langsung menyampaikan kepadamu. Sebab tiada kepantasan dari seorang sepertiku.

Melalui surat terbuka ini aku hanya ingin menyampaikan apa-apa yang ada di hati adalah kebenaran dari rasa cinta.

Aku tak pernah menyesali apapun, dan tak pernah mengutuk apapun selain kebodohanku sendiri untuk tak mampu menumbuhkan cinta di matamu.
Penyesalanku hanya karena tak lagi memiliki kesempatan untuk memperbaiki ini semua.
Semua begitu cepat, semua begitu perih ketika ku sadari kita telah usai.

Segala yang sudah kita lewati tetap akan menjadi memori yang tersimpan dalam hati.

Terimakasih sudah banyak melakukan hal asik, untuk segala kepedulian juga rasa yang pernah hadir walaupun hanya singgah sementara.

Terimakasih untuk membagi kisah sebagian hidup dan sempat memasukan aku menjadi bagian terindah di dalamnya.

Aku mengerti batasan, akupun tau perihal perjuangan.

Aku melepaskan apa yang tak lagi mungkin bisa ku gapai. Ku ikhlaskan hingga aku tak ingin menemukan hal lain terkecuali kebahagiaanku sendiri.

Kamu yang sudah berada di pelukan orang yang tepat. Sebab kesabarannya yang selalu kau agungkan memang bukan bagian dari ketulusanku yang bahkan belum sempat teruji.

Aku percaya, kau akan selalu mendapatkan orang yang baik, sebab kau pun sungguh baik.

Aku juga percaya semesta akan mendengarkan doa-doaku untuk kebahagiaanmu.

Tersenyumlah, senyum itu yang pernah aku lihat pertamakali ketika kita bertemu.

Senyum yang mampu mengguncang riak hatiku.
Valentine untukmu, selalu banyak cinta dan harapan-harapan baik. Semoga selalu bahagia dengannya.

Dari aku yang pernah menjadi bagian hidupmu, walau hanya sementara.
Dari aku yang hanya mampu mengucapkan happy valentine hanya melalui surat saja.
Dari aku yang selalu merindukanmu dengan sesak setiap malam.

Aufa.


Lannesiana Wilson

Dear Lannesiana Wilson

Bagaimana keseruanmu hari ini? Masihkah dengan Murakami atau justru sedang disibukan oleh Lady Arwen elf yang kau puja?

Andaikata kau berada di sini, pasti aku akan menceritakan kisah lain dari Pramoedya Ananta Toer. Tetralogi pulau buru tentunya. Aku sangat mengagumi kisah cinta antara Minke dan Anne, singkat dan merangas.

Oiya, bagaimana dengan kebiasaanmu tertegun berjam-jam menatap kosong cendela kaca? Ku harap itu sudah tak pernah kau lakukan lagi. Bukankah ada Bagas yang selalu ada di dekatmu.

Ah, Lanne tak perlu kau sampaikan akupun tau jika bukan Bagas yang kau inginkan. Tapi ketika cinta sejati kita tak mungkin lagi untuk dimiliki hanya ada dua pilihan bertahan menunggu hancur atau melebur mengejar cinta yang baru.

Lanne, aku tau bagaimana rasa sakitnya ketika ditinggal oleh orang yang kita cinta. Namun, sebisa mungkin aku tak memilih sepertimu yang tenggelam dalam lara.

Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengguruimu sebab akupun masih selalu tak ingat caranya untuk move on. Dan lagi, kau adalah Lanne dan bukan diriku yang memiliki karakter berbeda.

Bedanya, aku tidak membunuh hatiku sendiri. Aku pun merasakannya Lanne, memang tidak semua cinta kita sadari jika sudah tumbuh semakin besar dan berakar kuat. Bak cintamu kepadanya, yang mulanya kau anggap biasa saja namun justru tak terkira berakar ketika ia mencoba mencabut dari hatimu.

Maaf Lanne, tiada aku bermaksud untuk menanamkan luka pada kehidupanmu. Justru aku menulis saat aku sedang jatuh cinta. Hanya saja, kisah cinta tak harus berakhir manis bukan?

Aku menciptakan itu padamu agar mereka para pecinta mengerti bagaimana luka hati mampu menghancurkan jiwa. Agar mereka tau jika sebisa mungkin jangan sampai melukai orang yang merajut cinta bersama kita.

Lanne, walaupun kau hanya tokoh cerpen Nae Saian Luume yang ku tulis dalam buku Renjana. Namun, rasa banggaku kepadamu adalah sebenar-benarnya ketulusan.

Aku menciptakanmu dengan hati, aku menulis dengan senyum ketika aku jatuh cinta.
Kini hatiku tak lagi utuh Lanne, berkeping dan ku biarkan berserakan.

Aku kehilangan museku. Tapi aku tau jika aku tak pernah kehilangan kamu dan tokoh-tokoh lain.
Aku bahkan tak ingin mengubah apapun kemegahan ide ceritanya, walaupun harus ku kemas kau dalam duka.

Sebab Lannesiana Wilson adalah sakura merah jambu yang selalu hadir tanpa ingkar. Sakura yang selalu ditunggu oleh banyak mata. Sakura yang selalu memiliki keindahan tak terbantahkan.

Lannesiana Wilson, adalah sakura.

Lanne, bagian darimu kini sudah berada di luar sana. Berjuanglah Lanne untuk cerita cinta yang sudah ku tuangkan.

Terimakasih sudah menjadi bagian penting hidupku.

Penulismu,

Aufa.

Memilih diam


Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menyikapi luka.

Kadang aku juga tidak mengerti bagaimana imun pada hatiku bisa bekerja.

Yang jelas, terkadang aku bisa merasakan sembuh dari luka tidak terpengaruh oleh waktu. Ya, walaupun kata mereka time heals all wound.
Aku juga sempat berfikir terbentuk dari apa diriku, ketika aku memiliki sifat mudah memaafkan.

Memang seharusnya begitu, tapi sikap pemaaf itu membuatku berkali-kali jatuh ke lubang yang sama.

Aku kerap lupa atas perlakuan buruk yang pernah orang lain lakukan kepadaku.

Orang yang berbeda, kejadian yang sama. Kerap menyapaku bak deja vu.

Patah hati?

Banyak membuatku diam dan menangis, itu saja.

Tidak menebar kata-kata buruk atau mencaci dia yang melukai dengan perkataan buruk.
Sedangkan untuk dia yang merebut kekasihku?

Ah, sudahlah. Sebab aku tak pernah membencinya. Hanya kesal, sedikit.

Karena bagiku perselingkuhan sekecil apapun takkan terjadi jika kekasihku memang bersetia tak hanya di mulut saja.

Akan ada banyak godaan di luar sana, terlebih 24 jam kita bukan semua tentangnya.

Sebab itu, semua kepercayaan, semua rasa sudah ku berikan kepadanya untuk dijaga.
Alhasil, memang menjaga diri sendiri jauh lebih sulit tinimbang menjaga orang lain. Dan terbukti mana yang mampu atau tidak mampu.

Jatuh cinta adalah cara terindah untuk melukai diri.

Cepat atau lambat, luka akan hadir.

Bahkan perjuangan untuk menaklukan hati ada batasnya.


Siapa yang tau batasan itu? Tentu saja diri kita.

Membatasi dengan mengontrol atau membatasi dengan menyudahi.

Caraku membatasi dengan mengontrol.

Sebab aku akan memilih diam jika sudah tak digubris.

Sebab aku akan memilih tenang jika sudah tak dianggap.

Sebab aku akan menjadikannya biasa ketika hadir orang lain di sisinya, walaupun ia tak pernah sekedar biasa di hatiku.

Sebab aku akan membiarkan cintaku pudar dan terkikis habis bahkan tanpa perlawanan.

Tiada nyali untuk kembali mengetuk pintu yang sudah tertutup rapat.

Tiada daya untuk bertahan dalam kepingan rasa yang semakin meresah.
Hanya diam, menulis barangkali menyembuhkan.

Ku tuliskan semua dalam bentuk surat, ku patrikan melalui pos cinta. Agar aku bisa membacanya selalu.
Masa recovery adalah kisah dimana ada tangis dan juga perjuangan untuk tetap berlari.

Kau anggap aku seperti mainan

Lagi,

Kamu kenalkan aku kepada teman-temanmu. Satu demi satu kau ceritakan betapa bangganya kamu memiliki aku.

Seolah aku masuk dalam lingkungan dan menyatu dalam bagian terkecil kehidupanmu.

Aku tak kenal mereka, aku tak tau cara berinteraksi dengan mereka selain hanya berada dalam dekapan dan senyum seadanya. Aku lebih banyak diam. Bukan! Aku bukan tak memiliki etika berkenalan, hanya saja aku bingung bagaimana cara mengeluarkan suara.

Sungguh, aku mencandu pada belaian lembut tanganmu. Usapan hangat dari jemarimu begitu membuatku nyaman. Segala tentangmu, ku suka.

Aku tak ingin kehilangan semua tentangmu. Mungkin ini yang mereka sebut dengan cinta.
Aku tak ingin sendiri tanpa ada kamu.

Namun, waktu ternyata mampu merubah semua. Tanpa hati kau begitu tega mempermainkanmu. Persis seperti mainan boneka. Kau mencampakkanku begitu saja, setelah kau mengenal dia bersuara lembut.

Tak pernah lagi kau mengajakku kemana-mana. Tak ada lagi kebanggaan yang pernah kau lontarkan di hadapan mereka. Sunggu sakit, nyeri betapa sangat menusuk.

Aku kehilangan segala, aku tak memiliki arah. Kau anggap aku hanya sebagai mainan, walaupun aku memang hanya boneka Stitch biru yang pernah kau dekap di Bandara.

Kau mencampakkanku begitu saja.

Seharusnya aku mencintaimu sejak awal

Hai, apa kabar?
Apa yang kau lakukan di sana? Mari keluarlah, tak ada yang perlu ditakutkan.

Huh, terdengar cukup aneh “tak ada yang perlu ditakutkan” bukan?

Iya, sebab aku tau aku tak pernah bisa menjagamu dengan baik. Aku yang kerap melukaimu, aku yang selalu ingin kau terlihat baik-baik saja.

Menjadi lemah ketika kalah, adalah suatu kewajaran. Namun, aku hanya tak ingin kau terlihat lemah dengan sembunyi dalam kegelapan.
Tidakkah di sana dingin? Tidakkah kau butuh keriuhan dalam getar-getar tawa.

Sungguh, aku ingin memelukmu erat. Aku ingin mencintaimu dengan sebesar-besarnya cintaku kepada orang lain. Aku ingin mengenalmu lebih lekat, agar aku tak lagi melukai dengan dalih tak sengaja.

Lusa kemarin, aku hanya terdiam bisu ketika kau menangis dan menjerit. Seolah aku ingin mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Tapi aku salah, justru secepat itu kau menyembunyikan dirimu dalam ruang yang gelap. Tidakkah itu terlihat begitu putus asa?

Aku tau kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri, tapi ketahuilah jika dadaku terasa begitu sesak saat kau terluka. Aku merasakan itu dan aku juga meneteskan air mata.

Aku ingin mencintaimu dengan angkuhnya, hingga tak satu setanpun yang mampu menggoyahkan niatku.

Aku ingin menjagamu dengan setulusnya, hingga tak ada lagi yang lebih ku utamakan selain dirimu.

Hingga aku tak tau apa yang kau butuhkan agar mampu mengembalikanmu seperti sedia kala.

Aku tak kehilangan apa-apa. Namun, kau menjerit ketika kehilangan rumah.

Aku menjadi tak berguna seketika itu.

Maaf, maafkan aku yang kerap mengabaikanmu.
Sungguh aku ingin mencintaimu, hatiku.

Maaf, maafkan aku yang selalu menggunakanmu dan terus memintamu untuk bekerja, sebab itulah aku yang tak bisa melangkah tanpa menggunakan hati (menggunakan mu).

Seharusnya aku mencintaimu sejak awal, sebelum ku jatuhkan kamu (hati) pada orang lain.

Aku menuliskan surat ini, barangkali kau ingin mendengar apa yang ku pikirkan.
Percayalah apa-apa yang akan menjadi milikmu pasti tak akan tetap mendapatkanmu.

Akupun berdoa kepada langit agar selalu diberikan yang terbaik untukmu, semoga semesta turut mengaminkan.

Semoga kau bisa mengerti, hatiku.

Untuk kang pos Elikah

Untuk kang pos
Surat kali ini saya tulis untuk kang pos @.ikavuje yang sudah dengan baiknya hendak mengirimkan surat-surat kami. Banyak surat setiap hari masuk ke mention mu. Entah dalam kondisi kesibukan apapun kau selalu mengantarkan surat yang sudah kami kirimkan.
Begitu beruntungnya saya mendapati kang pos yang selalu membaca surat-surat kami. Bagian yang tak kalah penting adalah memberi komen setiap surat. Mungkin hal tersebut terlihat sepele dan sangat sederhana. Namun hal itu jualah yang menjadikan pemicu semangat bagi kami menulis.
Seolah kami menulis tidak sekedar menulis. Surat yang bahkan belum tentu dibaca oleh orang yang kami tuju. Tapi setidaknya kami memiliki satu orang yang tak absen membeca. Terimakasih banyak untuk segala waktu dan komen yang sudah diberikan.
Jujur saja saya baru mengikuti program ini tak lebih dari lima hari. Dikarenakan pada tahun ini terjadi hal tekhnis yang menjadikan saya tidak mengaktifkan social media. Tulisan pertama yang saya kirimkan ternyata mendapatkan respon dari kang pos. Terlihat mungkin euforia menulis surat tahun ini berkurang dari tahun sebelumnya namun semoga hal itu tidak menyurutkan semangat kang pos untuk tetap memberikan perhatian kepada surat kami.
Begitu banyak hal yang ingin diceritakan sebanding dengan begitu banyaknya rasa terimakasih yang ingin kami sampaikan. Tulisan-tulisan itu tak sepi sebab memiliki pembaca dan meresapi isinya. Terimakasih banyak. Semoga tahun-tahun berikutnya akan bermunculan kang pos-kang pos baru yang juga memberi perhatian ke surat-surat yang diberikan.
#30HariMenulisSuratCinta , semoga kang pos @ikavuje menerima banyak cinta dari doa-doa aksara yang tak terabaikan. Lebih banyak cinta dan lebih dari 30 hari. Terimakasih banyak.

Gunjingan juga butuh panggung

Aku tuliskan surat ini agar semakin jelas dan mengerti. Untuk kamu, agar tak selalu merung dalam duka. Ada saatnya jatuh dan ada saatnya harus bangkit. Tidak ada yang harus di sesali dari kehilangan. Memang menjalin hubungan kasih dan tak bertahan sudah menjadi hukum pertemuan.

 
Terkadang bukan trauma atas kehilangan cinta tapi justru omongan banyak mulut nyinyir yang tak bisa dibendung. Setidaknya dengan begitu kamu menjadi tau, siapa teman yang benar teman atau bukan teman yang pura-pura menjadi teman. Menjadi baik belum tentu baik pula di mata orang lain. Apa lagi ketika kamu tidak dalam kondisi baik. Banyak mulut yang akan menertawakan.

 
Tidak ada yang salah dengan membanggakan kekasih. Tidak ada yang salah pula dengan menangis ketika kehilangan dia. Akan menjadi salah jika kamu masih tidak dapat membedakan yang mana teman dan yang mana bukan teman namun berpura-pura menjadi teman. Mereka berhak bicara dan kamupun berhak menutup telinga.
Semesta menyeleksi tidak hanya pada cinta tapi juga dalam hal pertemanan. Apa yang bukan milik memang sudah sepantasnya dilepas. Akan tiba saatnya diganti oleh orang-orang baru, hati-hati baru juga kisah baru yang tak kalah menarik. Jika suatu saat terjatuh lagi? jangan takut. Sebab esensi terbesar dari hidup adalah dengan terus menemui kisah indah ataupun buruk. Roda berputas, siklus tak pernah berhenti. Jatuh cita jangan dihindari pun dengan patah hati.

 
Mereka yang tertawa dan menjadikan bahan ejekan, biarkan saja. Bila perlu sediakan panggung. Sebab hidupnya tidak akan pernah bahagia tanpa mengusik kebahagian orang lain. Bukankah memberi kesempatan orang bahagia adalah kebaikan yang akan terus dicatat. Berbaiklah pada orang yang menertawakanmu ketika jatuh. Tidak kekurangan apapun juga bukan?.

 
Tetap berbahagialah Tuhan membukakan mata justru pada saat ketika umatnya jatuh. Jangan jadikan gunjingan orang lain sebagai beban yang justru memberatkan langkah. Balas segala hal yang tidak baik dengan prestasi dengan sabar dan juga dengan tidak menjadi seperti mereka.

 
Sudah, aku tidak akan menulis bagian ini lebih banyak lagi, sebab kamu butuh bahagia bukan kerisauan oleh nyinyiran yang mencari panggung. Kejar bahagia, capai prestasi lebih bagus dari sebelumnya. Ingat, kamu tidak perlu hati yang terluka untuk mampu membuat sebuah karya. Jadi berhentilah meratap. Ada banyak karya yang belum lahir dari jarimu. Ada banyak buku yang menanti untuk kau lahap. Berbahagialah.

 
Dari aku yang sangat menyayangimu,

 
Dirimu sendiri.

Melawan ketakutan

Surat yang ku tulis untuk ntah siapa. Sebab aku hanya ingin menulis.

Beberapa penulis mampu menghasilkan karya saat hatinya terluka. Seolah pena imajinasi menjadi lebih liar. Jelas bukan kerena lukanya. Tapi penulis itu memiliki banyak waktu untuk mencari kesibukan lain. Katakan saja ketika kita terluka itulah waktu yang tepat untuk lebih peka dan dekat dengan hati. Berkubang luka dan menghasilkan karya, tidak ada salahnya. Semua memiliki caranya masing-masing untuk masa penyembuhan, recovery.

Aku memang bukan penulis. Sebab karya yang ku hasilkan masih tidak pantas untuk disebut dalam jajaran penulis. Anggap saja aku seseorang yang belajar menulis. Masih banyak ilmu yang ingin ku dapatkan dari proses menghasilkan sebuah karya. Saat bahagia, aku tidak dapat menggerakan pena, seolah bahagia memiliki kekasih memerlukan waktu yang lebih banyak. Ketika terluka, ah tentu saja bukan pertama kali aku terjatuh dan terluka oleh cinta.

Aku sebut ini sebagai luka yang jauh lebih sakit. Walaupun setiap luka tentu saja menyakitkan. Aku tak mampu menghasilkan karya, karna untuk menulis aku butuh cinta yang tenang. Gejolak rindu awal jatuh cinta mengusik penaku, pun dengan gemerisik perih kala hati terbelah. Aku tau jika aku benar-benar kepayahan. Luka di hati ibarat hantu yang terus menggelayut tiada kenal rotasi waktu.

Luka memang butuh obat. Sejatinya obat tak selalu masis seperti sirup. Jika memang ada yang manis dan tidak merusak luka jauh lebih dalam kenapa harus diabaikan. Sebagian menunggu luka itu kering sendiri. Sampai kapan? Entahlah. Waktu tidak bisa ditebak. Ia bergulir semaunya tanpa mengenal ampun. Sebuah lirik lagu “They say that times supposed to heal yeah but I aint done much healing”. Adel dalam Hello. Tidak semua waktu mampu menjadi penawar luka. Ingin ku pilih jalan menunggu luka itu sendiri yang pergi. Mungkin saja luka pun memiliki batas lelah.

Aku menulis begitu lancar mengenai cara move on taupun kisah fiksi perjuangan move on yang sempat dibukukan. Quotes dari cerpen itu menjadi tagline khusus. Aku begitu mahir merangkai kata demi katanya. Barang kali ini saatnya aku menggunakan life guide dari tulisanku sendiri. Dan memang benar aku berhenti menangis, karena luka terlalu dalam hingga tak mampu ku basuh lagi.

Mengobati luka untuk melawan ketakutan. Agar mampu menghasilkan karya baru. Sebuah cinta, cinta yang sehat.

Dialog sepotong roti

Kepada senja,

Aku tuliskan surat ini agar kau tau dialog yang tersembunyi antara jingga dan sendu. Antara pengorbanan dan ketersia-siaan. Antara aku dan saya.

“Sepotong roti untuk kekasihku”
Lantas untukmu?.
“Tak ada, aku hanya memiliki sepotong itu dan sudah ku persembahkan seluruhnya.”
Apa kau tidak tau jika dia memiliki lima potong roti dan dua diantaranya ia berikan kepada kekasihmu.
“Aku tau dengan pasti. Mengapa kekasihku, maksudku mantan kekasihku tak cukup hanya dengan sepotong roti sewajarnya.”
Ia cukup, namun ia tak mau cukup.
“Aku percaya ketulusan itu masih hidup dalam kesederhanaan perilakunya.”
Jangan naïf, nyatanya tak sedikitpun ia melihat pengorbanan dibalik roti. Yang ia tau hanya jumlah roti yang lebih banyak. Tentu saja dua jauh lebih baik dari pada satu.
“Jika mampu bertahan dengan satu roti mengapa ia harus memilih dua.”
Masih harus ku jawab yang itu?.
“Ada perhatian dan cinta.”
Kedua hal yang baru saja kau sebut tak nampak seperti roti. Kehidupan itu jauh lebih sadis dari fiksi romance depresi. Bangun dari lamunanmu. Apa-apa yang kau anggap baik belum tentu menjadi baik pula. Terkadang malaikat cinta yang kau puja mampu berevolusi menjadi malaikat pencabut nyawa. Sejauh apa kau mengenalnya. Bahkan saling jatuh cinta bukan berarti terbuka dalam segala hal. Tidak ada yang salah dengan sepotong roti.
“Ia memberiku cinta, ku kembalikan cinta pada sepotong roti.”
Dan kau lupa menyisakan sedikit cintamu untuk dirimu sendiri.
“Dan aku lupa menyisakan sedikit cinta untuk diriku sendiri.”
Seharusnya sedari semula kau sadari itu.
“Aku dan keterbatasanku. Aku yang tak mampu memberinya lebih dari sepotong roti. Aku yang membuatnya pergi dari sisiku. Aku yang begitu mengagumi kepolosan dan keindahannya. Aku pula yang tak mengerti jika kesederhanaan pun ingin menjadi mewah untuk bertahan.”
Sampai kapan kau terus menyalahkan dirimu sendiri ?.
“Bukankah dengan begitu aku tidak memiliki kesempatan untuk menyalahkannya. Tiada kekecewaan yang begitu dalam selain kehilangan cintanya. Tak menjadi soal kehilangan dirinya, tinimbang kehilangan cintanya. Namun aku, kehilangan keduanya. Aku sudah mempertahankan sekuat mungkin. Sepotong roti yang terabaikan.”
Sedihkah?
“Kekasih mana yang tak terluka ketika pasangannya memilih roti yang jauh lebih banyak dari orang lain. Tak apa, setidaknya aku kehilangan untuk melihatnya bahagia. Dari pada aku melihatnya bertahan denganku hanya dengan sepotong roti saja. Tapi aku tidak menangis.”
Berapa lama kau tahan air matamu sudah?. JIka dengan menangis membuatnya lega lakukanlah. Jika air mata mampu membasuh luka, luapkkanlah. Dan jika harus jatuh, jatuhlah. Asal kau ingat untuk berdiri lagi.
“Boleh menangis?”
Menangislah jika perlu, tak usah menutupi jika yang baik-baik saja adalah tak baik. Ceritamu telah usai. Berteriaklah jika sudah tak sanggup. Terkadang resonansi menyamarkan getir. Cintamu telah selesai.
“Cintaku telah usai.”

Terimakasih senja,

Sebab karenamu tulisan surat ini tercipta. Barang kali mampu menjadi obat dari luka hatiku untuk saya.