Mengenali sebuah perjuangan


Yang membuat tersadar adalah bukan ketakutan untuk kehilangan, tapi rasa takut jika tak cukup mampu membahagiakan.

Bahkan jika ia lebih bahagia tanpa kehadiranmu, tanpa banyak pertimbangan sebaiknya bersiap untuk pergi dengan kesadaran tanpa satu alasan untuk bertahan.

Percayalah, melihat seseorang yang kita cintai tidak bahagia dengan orang lain itu sangat menyakitkan tapi akan lebih menyakitkan jika mendapati kenyataan ia tidak bahagia bersama kita.

Jika benar cinta itu perihal memberi tanpa menuntut untuk menerima, lantas bagaimana seorang Romeo memilih menenggak racun ketika Juliet sudah tak bernyawa. Lantas bagaimana pula seorang Rahwana menunggu hingga 12 purnama demi mendapatkan sebuah jawaban balasan cinta dari Shinta.

Bukankah Romeo ataupun Rahwana telah memberikan segala yang ia punya, tetap saja untuk sebagian orang (atau bahkan raksasa) memerlukan balasan cinta dan keberadaan orang yang ia cintai.

Sebuah kesabaran untuk meluluhkan hati seseorang dengan ketulusan cinta, dengan apa yang disebut sebagai perjuangan kadang menjadi rancu dengan anggapan hanya sebatas obsesi.

Mengapa harus takut dikatakan sebuah obsesi jika yang kamu perjuangkan adalah perihal ketulusan cintamu, perihal keinginanmu untuk memiliki orang yang kamu cintai.

Selama caramu tidak mengusik, selama yang kau berikan tidak untuk memaksakan dan selama tidak membuatnya terluka. Dan tidak menggunakan arogansi.

Jika memulai dengan cara yang baik dan tanpa sedikitpun niat untuk melulai maka pencipta semesta akan memberikan banyak kebaikan. Begitu juga sebaliknya, jika menyimpan niat ataupun hal yang tak baik maka pencipta semesta akan mengutus karma untuk menamparmu lebih keras. Jangan menantang karma, sebab ia mampu menjelma sebagai hal yang jauh lebih menyakitkan.

Jika ia tak mampu merasakan getaran cinta, jika ia tak selalu mencarimu, jika ia tak sebahagia itu, jika ia kerap merasa jenuh, jika ia masih tak pernah merindukanmu. Jika hubungan yang kalian miliki lebih pantas hanya sebagai pertemanan biasa. Cinta itu berupa letupan-letupan kecil, kegemasan-kegemasan yang alami, greget-greget yang hanya bisa didefinisikan dalam kedekatan hubungan.

Bukan ia, tapi kamulah yang salah. Kamu yang harus kembali menyadari jika keberadaanmu tak bisa mampu membuatnya merasa nyaman.

Menyerah sebab kecewa, itu wajar. Menjadi tidak wajar jika kamu terus memaksanya untuk tetap bersama denganmu.

Cinta bukan sekedar “memberi tanpa menuntut menerima” tapi cinta juga memiliki esensi perjuangan untuk memiliki dan membahagiakan orang yang kita cintai.

Sedangkan perjuangan memiliki batasan waktu. Bukan untuk membatasi sebuah pembuktian namun untuk menyadarkan jika mungkin bukan kamu orangnya.

Sampai kamu sendiri yang merasa lelah, sampai kamu sendiri yang berjanji pada hatimu untuk tidak lagi mencoba pada lintasan yang sama. Sampai habis dayamu. Sampai tak peduli lagi semua tentang dia, perjuangan yang sudah ataupun tentang kekalahan.

Ketika aku bersedia melakukan apapun untuk membuatnya bahagia. Ketika itu pula tetaplah berdiri di sana selama ia tak memintamu untuk pergi. Selama ia masih ingin kau berada di dekatnya. Barangkali ia hanya butuh waktu, selain butuh kamu.

Selebihnya kenali hatimu jauh lebih dalam. Jika bukan dirimu siapa lagi yang mampu mengerti hatimu sendiri.

Berapa lama, hingga akhirnya memutuskan untuk menikah?

Momen Lebaran, bertemu teman lama. Terkadang justru membuat kami saling bercerita hal privasi. Yah maklum saja terkadang jarak dan kesibukan membatasi untuk komunikasi yang intim.

Saya malam itu duduk bersebelahan dengan teman yang bernama Jasmin (sebut saja begitu, seorang perempuan yang kini bekerja di BUMN).

Jasmin teman dekat saya sewaktu kami masih duduk di bangku SMA, ia aktif dalam olahraga basket sedangkan saya diseni drama teater.

Jasmin memiliki seorang kekasih (sebut saja Bisma) sejak mereka duduk di bangku kelas 1 SMA. Pasangan yang selalu dianggap sebagai couple romantis dan bertahan hingga kami duduk di bangku kuliah.

Sejak di SMA Jasmin memang populer dan memiliki banyak teman lelaki. Hubungan asmara Jasmin dan Bisma kerap up and down. Bahkan sampai pada pertengkaran-pertengkaran. Mereka terus bertahan mengingat lamanya hubungan.

Di bangku kuliah ada lelaki lain yang kita sebut dengan Roy berusaha dekat kepada Jasmin. Tapi Jasmin tak sedikitpun menggubris Roy dan hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Roy berusaha menunjukan kepada Jasmin jika ia bisa melindungi Jasmin jauh lebih baik daripada Bisma yang kerap memberikan perlakuan tidak menyenangkan, termasuk ringan tangan.

Jasmin selalu menolak Roy, sampai pada ketika Roy memilih perempuan lain yang secara fisik mirip dengan Jasmin, sayangnya hubungan mereka hanya bertahan 2 bulan.

Tepat di 10 tahun hubungan Jasmin dan Bisma, mereka memutuskan untuk menikah. Mengikat hubungan lebih kuat. Sayapun hadir pada pernikahan mereka. Beberapa teman sebelumnya sudah mengingatkan Jasmin untuk berfikir ulang perihal pernikahan mereka tapi Jasmin menolak. Ia berpikir tidak ada yang lebih mengenal Bisma selain dirinya dan ia beranggapan jika Bisma akan bisa berubah menjadi lebih baik ketika mereka menikah. Perlakukan kasar Bisma hanya dikarenakan ketakutannya kehilangan dirinya, begitu penuturan Jasmin.

Tepat tiga minggu setelah mereka menikah, saya menjemput Jasmin dalam kondisi terisak dari jalan pinggir komplek rumah Bisma dan mengantar Jasmin pulang ke rumah orang tuanya.

Singkat cerita Jasmin divorce setelah ia mendapati Bisma yang selama ini ia kenal setia ternyata bercumbu bersama perempuan lain justru setelah mereka mengingat janji suci.

Recovery Jasmin cukup lama, kami yang selalu membantunya untuk bangkit, juga Roy yang selalu ada walaupun ia sempat berantakan saat Jasmin menikah.

Roy tetap tidak pernah meninggalkan Jasmin, ia selalu sabar mengikuti mood Jasmin yang tak menentu setelah kekacauan pernikahan.

Saya sempat bertanya jauh sebelum ini (dua bulan lalu, 3 bulan setelah ia divorce) mengenai kelanjutan hubungan Jasmin dan Roy,

“Kamu tidak berkeinginan untuk serius bersama Roy?”

“Aku gak tau gimana nantinya hubungan kami, tapi aku nyaman sekarang dengan Roy, aku gak mau dia jauh dari aku”

“Roy yang pernah berkali-kali kamu tolak”

“Iya, Roy yang selalu ada dan tidak pernah memaksakan perasaanku untuk menerimanya. Aku masih ingin meyakinkan diriku sendiri sebelum berani menentukan sikap untuk menggandeng Roy di depan umum. Apa lagi masih ada luka masa lalu yang harus ku sembuhkan.”

“Kamu tidak takut kehilangan orang sebaik Roy? Bagaimana jika tiba-tiba ia lelah menunggu dan menemukan perempuan lain?”

“Banyak orang yang berusaha mendekatiku dan Roy tau itu, tapi Roy juga tau jika satu-satunya orang yang dekat denganku hanya dia. Jika Roy menemukan perempuan lain berarti dia bukan jodohku”

“Kau tidak mencintai Roy?”

“Sejak semula cintaku hanya pada Bisma, tapi aku terus berusaha untuk menyudahi cinta itu serta perlahan memasukan Roy di hidupku”

“Tak ingin mencoba dengan orang lain?”

“Untuk apa, jika yang ada didekatku adalah orang yang sudah terbukti baik cintanya maupun kesabarannya”

Pembicaraan kami yang lalu.

Dan pembicaraan kami semalam, diawali dengan Jasmin yang berucap

“Tahun depan kami akan menikah” sembari menggenggam tangan Roy.

“Alhamdulillah akhirnya….”

“Iya, penantian yang penuh kesabaran” ucap Roy.

Haaahh… yang saya temukan dari cerita itu jika lamanya hubungan tidak menjamin dia adalah jodoh kita sebenarnya. Dan lamanya hubungan bukan berarti kita mengenal dia seutuhnya. Karna manusia bisa berubah karna hati kerap menjadi dominan dari logika hingga kita yang terjerat di dalam ‘rasa’.

Kesabaran Roy untuk menunggu dan membuktikan cintanya. Keteguhan Roy untuk selalu ada di dekat Jasmin mengobati luka-lukanya.

Jasmin nampak bahagia dengan Roy yang bisa menjaganya dengan baik. 10 tahun dengan Bisma kandas tergantikan dengan orang baru yang tiba-tiba hadir di hadapan Jasmin. Mungkin itu yang disebut dengan jodoh.

Sebuah kesadaran


— tulisan yang saya rangkai sembari mendengarkan lagu Ed Sheeran, DIVE —

Banyak yang bilang ketika hati patah harusnya bersyukur, karna dengan begitu ada banyak pelajaran baru yang bisa didapat.

Banyak yang bilang seorang perempuan akan menemukan tambatan hatinya yang terakhir setelah ia benar-benar merasakan luka dalam.

Banyak yang bilang berkali-kali jatuh dan terluka justru akan menguatkan hati itu sendiri.

Ya, banyak yang bilang.

Perkara jatuh hati ataupun jatuh terluka setiap orang memiliki pandangan berbeda. Terkadang apa yang disebut dalam motivasi-motivasi hanya berupa saran basi belaka.

Yang jelas beberapa orang hanya mendapatkan hasil (setelah terluka dan mampu bangkit lagi) jika sudah cukup malas untuk memulai cinta baru yang penuh kerumitan. Malas memulai hubungan dengan pengharapan yang tak pasti. Juga malas jika diiringi dengan drama-drama tidak jelas.

Salah satu teman baik saya pernah berujar (sebut saja dia LC, seorang penulis): gw sudah cukup tua Fa, gw gak mau memulai cinta dengan menghabiskan banyak energi tanpa kepastian. Tapi sekali gw memiliki dia maka gw akan benar-benar pegang komitmen untuk membahagiakannya dan menjaga hatinya baik-baik.

Menjaga hati, tidak akan menjadi sebuah usaha yang berat jika ia adalah orang yang kau cintai. Sedangkan menjaga hati sendiri jauh lebih penting, juga tidak akan menjadi urusan sulit jika benar hatimu sudah kau serahkan pada orang yang kau cintai.

Tidak ada yang salah dengan berjuang untuk meluluhkan hati seseorang, akan menjadi salah jika kau tidak tau batasan. Hingga dirimu sendiri yang hancur hanya karena hal yang sudah tidak mungkin dimiliki.

Kadang kita lupa perihal mengejar orang yang bisa menjadikan kita lebih baik lagi atau hanya sebatas obsesi sampai pada akhirnya menjadi tak peduli atas kebahagiaan sendiri. Seolah memiliki ia sudah cukup, hal-hal menyakitkan lainnya bisa tersapu.

Adalah salah jika mendekap hati seseorang hanya untuk mempertahankan ego atas keinginan memilikinya.

Memiliki, berjuang ataupun terpuruk semua ada batasannya.

Pernah juga (seorang bankir) ada yang memilih melepaskan cinta yang sudah lama ia miliki dan memilih menata kembali kehidupan dengan yang lain, ia berucap: aku tau sampai kapanpun aku gak akan pernah bisa bersatu di dunia ini. Dia yang sangat ku cintai namun semesta berkata lain. Aku memilih menghabiskan sisa usiaku bersama orang lain yang lebih bisa menjagaku.

Ketika saya bertanya bagaimana dengan cinta, apakah ia sanggup melepas orang yang sangat ia cintai dan memulai dengan orang baru yang tidak begitu besar ia cintai, ia menjawab: cinta itu bisa ditumbuhkan perlahan, tapi memaksakan diri untuk mengejar orang yang tak bisa dimiliki jauh lebih tidak mungkin. Apa salahnya menjalani dengan orang yang sebegitu inginnya membahagiakanku dan aku tau ia mampu menjadikanku lebih baik lagi.

Tidak LC ataupun bankir itu, sayapun akan memilih untuk menjalani cinta yang bisa memberikan kenyamanan. Ya, saya sudah cukup lelah menepaki jalan-jalan yang tak memberikan kepastian.

Bukankah menyenangkan jika hubungan penuh tawa, hangat dan tak perlu menanam curiga atau menyimpan amarah.

Pada batas saya berdiri dengan segala upaya, adalah logika yang menggiring untuk meminta kepastian atas pengakuan sebuah hubungan.

Sebelum terlanjur dalam, sebelum terlanjur hancur.

Suatu saat akan ada jemari-jemari tangan yang menyisip di sekat-sekat jemari saya. Ada debar cinta di sana, ada rasa untuk saling memiliki dan membahagiakan tanpa ada keinginan untuk saling melukai. Dengan nyaman, dengan tenang dan dengan sebenar-benarnya hubungan.

Jadi, kapan bisa kita mulai?


Hai,

Apa kabar hatimu hari ini? Masih dengan berbagai kesibukan-kesibukanmu bukan?

Sepagi ini aku menuliskan surat yang hanya bisa ku simpan di blog, sebab ku tau aku takkan pernah bisa menyampaikan secara langsung padamu.

Sudah lama sekali ingin ku tuangkan dalam sebuah cerita, namun mimpi semalam ketika bibirku bersujud dalam kecupanmu menjadikan aku begitu bersemangat untuk menuangkan sebuah isi hati dari kepala yang terlalu riuh.

Aku masih dengan aku yang selalu mengagumimu. Aku masih dengan aku yang masih tak pernah lelah ingin menjaga hatimu.

Apa yang bisa ku janjikan dari seorang yang hanya kaya dengan aksara (itupun setengahnya sudah ku patri dalam manuskrip fiksi tentang caraku mencintaimu).

Jika nanti engkau ingin bersamaku, ketahuilah jika aku tak mampu menjanjikan untuk dapat membahagiakanmu. Namun, aku bisa berjanji untuk terus berusaha membuatmu bahagia. Aku juga akan selalu ada dalam kondisi bahagia ataupun tidak, untuk terus menggenggam tanganmu.

Aku bukan sesorang yang hidup dalam belantara glamour kehidupan kota, tapi aku bisa hidup setiap waktu setiap detik hanya pada satu hati, yaitu hatimu.

Aku memiliki banyak kesibukan yang bisa menyertakanmu tapi ada juga yang harus ku tinggalkan pesan singkat “kangen” di sela-sela kesibukanku.

Aku bukan seseorang yang penuh kejutan-kejutan ketika kita sedang tak dalam kesepakatan yang sama, tapi yakinlah aku bukan orang yang rumit untuk kita saling menyatukan pikiran-pikiran. Sebab untukku dari dua perbedaan pasti akan selalu ada jalan tengah. Di situlah kita akan tetap saling berbagi hal nyaman dan mengerti hal yang memang harus sedikit dikalahkan.

Aku adalah orang yang tidak akan melarangmu untuk bersosialisasi menjadi dirimu sendiri ketika hal tersebut tidak membahayakan hubungan kita. Justru aku adalah orang yang akan setia menahan kantuk dan menunggumu pulang.

Kau bisa manjadikanku sahabat untuk bercerita banyak hal, saudara untuk mengisahkan mengenai keluarga, rekan kerja yang selalu ingin banyak tau pekerjaan serta kerumitan di dalamnya bahkan juga musuh untuk saling menbangkan pada kesempatan berbeda. Namun, aku tetaplah bagian darimu yang selalu haus oleh cinta dan kasih sayangmu.

Jangan risih ketika aku sesekali merengek untuk sebuah rindu, sebab setegar-tegarnya aku tetap akan butuh pelukanmu untuk mengatakan jika kau tetap bersamaku.

Akupun akan butuh segala hal tentangmu. Sebab aku ingin selalu hidup di antara kesibukan hari-harimu.

Aku ingin kau tau jika semua tentangmu adalah keutuhan lengkap yang akan ku dekap.

Sebagian dari semua yang bisa ku tuliskan untukmu.

Jadi, kapan bisa kita mulai?

Banjarbaru 16 Juni 2017

Dari aku, yang penuh rindu.

150617

Bertambah lagi satu tahun dari jumlah usia. Semenjak beberapa hari yang lalu sudah sedikit membuat keriuhan bertebaran ucapan doa dan semua saya terima dengan mengucap ‘Amiiin’.

Alhamdulillah punya banyak orang-orang baik yang selalu ada kapanpun saya butuhkan. Punya orang-orang yang dengan tulusnya “mau dikasih kado apa?” Juga ada yang sengaja hunting hal yang saya sukai sebagai “buat hadiah kamu nanti”. Terlebih untuk orang-orang yang sampai dengan sengaja menahan kantuk agar tepat di pukul 00.00 mengucapkan doa.

Saya sangat bersyukur memiliki mereka-mereka yang tak pernah lelah untuk melindungi saya dari luka, mereka yang sanggup memperbaiki hal-hal buruk di saya.

Tidak hanya itu, saya juga bersyukur atas beberapa orang yang sudah mute linimasa saya juga blok akun saya. Awalnya merasa gelisah dan berakhir dengan ketidakpedulian. Ya, semacam masa bodo untuk mereka-mereka yang tidak saya kenal.

“Semoga harapan dan doa yang diucapkan hari ini terkabul semua” subuh tadi, seseorang membisikan ini kepada saya.

Harapan dan doa, ntahlah. Sepertinya dua hal tersebut sudah luruh bersama tangis yang saya simpan rapat semenjak subuh dan tumpah begitu saya berada di kantor.

Seolah tidak ada hari lain untuk menangis.

Bukan cara yang indah untuk mengawali perayaan hari ulang tahun, memang. Tapi bukan cara yang salah jika air mata tersebut mampu menjadikan saya lebih dewasa.

Terimakasih untuk semua doa, terimakasih untuk yang sudah sebegitunya peduli dengan saya. Semoga pemilik semesta mengabulkan doa-doa.

Bahkan untuk diri sendiri, saya masih belum menyiapkan kado istimewa.

Bak gemintang


Begitu banyak definisi cinta di dunia, literatur yang memaparkan kekhasanahan sebuah cinta ataupun makna cinta yang keluar dari bibir-bibir para pelaku.

Aku, tak mengambil banyak tentang makna cinta dari buku ataupun dari yang ku dengar. Aku hanya tau jika cinta adalah sesuatu yang ada di diriku dan ingin ku wujudkan dalam bentuk memilikinya.

Mencintai bukan berarti memiliki.

Benar, sebab cinta dan kepemilikan dia (yang kita cintai) tak selamanya selaras.

Mencintai ya cukup memberikan apa yang terbaik, apa yang membuatnya bahagia dan apa yang ia butuhkan.

Aku, bukan orang yang pandai untuk menggambarkan cinta juga bukan ahli dalam mengungkapkan rasa cinta. Tapi setidaknya aku pernah memiliki cinta yang benar-benar seperti yang ku butuhkan.

Alasan untuk mengapa mencintainya, sampai saat ini aku tak mampu menjawab dengan pasti. Yang aku tau, kehadirannya membuat lubang hatiku tertutup. Keberadaannya membuatku ingin selalu mewujudkan bahagia-bahagia bersama.

Bahkan pada titik, aku tak peduli atas apa-apa saja yang menjadi kekurangannya sebab aku mencintainya dengan utuh, dengan segala yang ada di dirinya.

Bagaimana dengan “Aku bahagia melihatnya bahagia walaupun tanpaku”

Suatu pernyataan yang sebenarnya lebih tepat jika berada dalam kondisi dia yang kita cintai merasa tertekan dengan konsep cinta yang kita berikan. Ia selalu mengeluh, selalu bertikai dan selalu menghadirkan sikap tak nyaman. Bukankan benar seharunya berada dalam kalimat bahagia asal ia bahagia walaupun tanpa aku.

My love for you bigger than my ego.

Aku tak pernah bisa memaksakan kehendak di hadapannya, aku tak pernah menunjukan sikap marah yang tarlampau kasar atas sedikit berdebat dengannya. Aku juga tak pernah menguatkan ego ketika menyampaikan apa yang harus dan apa yang tidak.

Aku mencintainya dengan segala rasa yang ada di hati. Aku bahagia melihatnya tertawa dan menunjukan jika sangat membutuhkanku.

Aku menyukai dia yang selalu memintaku untuk tetap berada di dekatnya. Caranya memberi perhatian, caranya mendengar setiap kesukaran-kesukaran pekerjaanku. Aku mengagumi segala tentangnya, kepandaian isi kepalanya, kehangatan interaksi bersama orang-orang sekelilingnya.

Tidak ada sedikitpun yang membuatku berpikir untuk tidak mencintainya.

Sampai pada ketika ku sadari jika langkanya semakin jauh dan aku tertampar pada kesadaran jika aku hanya mampu mencintainya dari jauh, tangan-tanganku terlalu pendek untuk dapat meraihnya. Ia jauh berada di langit dan berkelip bak gemintang.

Aku hanya mampu memandanginya dan tak untuk memilikinya.

Aku yang pernah mencintaimu 14 Mei 2017

Dua tahun merayakan 14 Mei bersamamu.

Selamat ulangtahun, semoga kebahagiaan terlimpah untukmu. Semoga Tuhan menjauhkan apa-apa yang tidak bahagia untukmu.

Aku masih ingat tahun pertama mengirimkan 1 set buku bumi manusia sebagai hadiah ulangtahun.

Mengunjungi mu dari Kalimantan ke Sumatra bukan perjuangan sederhana. Harus melewati transit Jakarta menunggu beberapa jam. Hal paling aku tidak suka berada dalam pesawat yang membosankan. Itu semua bukan hal yang membuatku berhenti untuk berjuang.

Bersama denganmu menghabiskan banyak waktu adalah hal yang sangat membahagiakan untukku. Berkali-kali kau pernah mengatakan tidak pernah merasakan cinta seperti yang kau rasakan padaku.

Masih ku ingat jelas kita hanya bertemu saat sarapan bersama kemudian kamu harus segera kerja pagi sekali.

Aku tak kehabisan ide, setiap pagi selalu olahraga melintasi tempatmu bekerja, rumah sakit swasta terbesar di sumbar.

Aku tak pernah mengeluh setiap hari keberadaanku di Sumbar hanya memiliki sedikit waktu bertemu denganmu. Menunggumu pulang di cafe rumah sakit, melihatmu tersenyum dengan pakaian dinas. Mendengarmu berbincang ramah dengan para pasien.

Aku pernah secinta itu denganmu. Aku pernah sebahagia itu bersamamu.

Tahun berikutnya sengaja ku lewatkan bersamamu bahkan sebelum 14 Mei sudah ku langkahkan kaki di Sumbar. Menyiapkan kejutan sederhana. Mencari birthday cake yang aku benar-benar tidak pernah tau arah kotamu.

Birthday cake yang baru bisa kau tiup lilin ketika malam hari, sebab harimu tersita untuk pekerjaan. Tahun itu, justru aku yang mendapat kejutan, perihal pernikahanmu.

Ada sesak, ada sakit ada nyeri yang tak tertahankan. Ada tangis, ada luka ada kata yang sudah tak bisa dinegosiasi. Rencana pernikahanmu dengan orang yang sudah dipilihkan keluarga besarmu.

Seolah aku menyerahkan hati untuk terluka jauh lebih dalam tahun itu, hari ulangtahunmu.

Seolah aku sengaja ingin melihat kau tusukkan belati itu secara langsung tepat di hatiku.

Aku membawa hatiku yang terluka beberapa hari menjauh darimu, di hari lamaranmu, hari dimana kakiku berada di kotamu.

Patah hati tersakit yang pernah aku rasakan. Perihku menjerit tanpa ampun. Aku seorang kekasih yang tiba di Sumatra kotamu dan ternyata hari itu adalah hari istimewa (lamaran)mu.

Aku tak hanya menangis, sayang. Aku melihat hatiku berkeping perih. Aku pulang dengan airmata meninggalkan kotamu. Aku pulang dengan luka yang sulit untuk pulih.

Kau tak ada ketika aku terpuruk menjerit perih, kau ada hanya untuk “kamu bisa dapat yang lebih baik dari aku.”

Atas nama hatiku yang terluka aku berjanji saat itu akan segera bangkit dan mendapatkan yang lebih baik darimu, dengan tertatih.

Aku berjanji untuk bahagia seperti kebahagiaan-kebahagiaan mu.

Aku berjanji untuk tidak membiarkan hatiku sedikitpun mengingat luka perihal pernikahanmu.

Aku berjanji untuk ikhlas.

Dan, aku capai semua itu.

Hari ini, hari dimana aku pernah menangis. Hari ini hari kebahagiaanmu dan saat menulis ini aku tersenyum mengingat sebegitu besarnya aku pernah mencintai juga pernah patah sepatah-patahnya.

Tahun ini kau kembali hadir dengan cerita jika perjodohan tak selalu bisa berjalan seperti harapan keluargamu.

Tetaplah berjuang untuk masa depanmu. Tetaplah berdiri dengan kakimu.

Dengarlah, jika aku pernah bangkit dan berdiri sendiri ketika terpuruk dengan pernikahanmu. Maka kaupun bisa bangkit dari keterpurukan itu.

Kau seorang anak yang patuh terhadap aturan adat keluarga. Kau yang tak pernah ingin melihat keluargamu merasa tak nyaman. Kau yang mengajari ku tentang lebih dalam mengerti agama. Kau dengan isi kepalamu kerap menjelaskan perihal penyakit-penyakit yang ingin ku mengerti. Kau dengan bibir lembutmu.

Terimaksih sudah pernah ada, terimakasih kita pernah bahagia bersama. Saling menjaga dan menertawakan hal-hal bodoh bersama. Terimakasih untuk cintamu yang juga sebegitu besarnya.

Selamat ulangtahun. Semoga Allah selalu menjagamu.

Jika aku inginkanmu

Mataku tertuju pada layar laptop, telingaku mendengar lagu-lagu terputar secara acak.

Harusnya, harusnya malam ini ku selesaikan editing satu cerita. Kursorku tak bergerak sama sekali, moodku justru hilang seketika.

Aku butuh sesuatu yang riang, sesuatu yang manis, sesuatu yang menumbuhkan semangat-semangat dalam menuliskan fiksi.

Aku butuh kamu, aku butuh menumbuhkan cinta sebab ‘jatuh cinta’ bukan lagi perkara-perkara yang bisa ku percaya untuk tetap mampu bertahan.

Pada batas keruhnya keinginan, pada relung inginnya memiliki.

Jika aku lupa bagaimana cara memiliki seseorang, maukah kau datang dan mengajariku untuk mulai memberanikan diri mencintai lagi.

Jika aku penuh dengan ketakutan-ketakutan, maukah kau memeluk hangat dan mengatakan jika semua cinta memiliki caranya masing-masing dan tak untuk menyajikan ruang menakutkan.

Jika aku diam, tak mampu mengatakan isi hati, mau kah kau menuntunku pelan sampai ku miliki lagi rasa percaya diri dan berdiri di hadapanmu untuk menggenggam jemari tanganmu.

Jika aku adalah kisah yang penuh luka, maukah kau mengatakan “cintaku untukmu adalah keyakinan dari hati tak untuk sementara, tak untuk pelarian dan juga tak untuk menjatuhkanmu.”

Jika aku inginkamu, mau kah kau mencintaiku setulus kepunyaanku??

Naskah terbit


Jika seorang editor mengeluhkan editing naskah yang katanya bisa bikin naik darah,Lantas kenapa naskah tersebut bisa lolos seleksi penerbit?

Tiba-tiba pertanyaan tersebut terlintas di benak saya ketika melihat cuitan keluhan dari seorang editor. Ia mengatakan jika mengedit naskah buruk bisa menyebabkan naik darah.

Seharusnya memang secara logika jika naskah tersebut kurang baik dan bisa menyebabkan naik darah seperti ungkapan sang editor, kenapa bisa diterima oleh penerbit?

Menerbitkan naskah bak mencari jodoh dan rezeki. Bisa jadi berjodoh tapi jika tidak rezeki juga tidak mendapatkan respon yang bagus.

Ada banyak hal kenapa para penulis bisa menerbitkan naskah, diantaranya:

1. Faktor keberuntungan

Ada beberapa penulis yang memang baru pertamakali mencoba kirim ke penerbit ternyata naskah tersebut terpilih untuk diterbitkan, hal tersebut tentu dibarengi dengan kualitas tulisan yang baik. Ada juga yang memang benar-benar beruntung walaupun tulisan kurang mumpuni.

Berlaku juga untuk beberapa public figure sekalas selebtweet atau selebriti yang memili lebih banyak faktor keberuntungan.

2. Relasi

Terlepas dari tulisan itu baik atau tidak, biasanya relasi sangat bisa menentukan. Contohnya jika kamu bisa dekat dengan salah seorang editor senior atau memiliki koneksi dengan penerbit terkait. Tidak butuh waktu dan perjuangan lama.

3. Jatah

Yang dimaksud sebagai jatah di sini adalah untuk mereka-mereka yang biasanya bekerja di penerbit. Beberapa diantaranya memang menawarkan kesempatan menerbitkan buku kepada karyawannya. Bagian ini juga lebih cepat proses terbitnya.

4. Kualitas/prestasi

Bukan dari faktor keberuntungan, relasi ataupun jatah. Benar-benar dikarenakan kualitas tulisan yang bagus. Banyak yang bisa lolos untuk poin yang 1 ini. Itu sebabnya buku yang mereka hasilkan juga berkualitas. Ada sebagian yang memang harus kerja keras dulu untuk bisa sampai di fase ini.

Ada banyak faktor-faktor lain yang bisa menjadi latar belakang penerbitan sebuah buku.

Seorang penulis hanya bertugas menulis, untuk penerbitan serahkan kepada nasib dan bantuan semesta.

Biarkan naskah itu berjuang untuk dirinya. Yang lebih penting dari naskah berhasil diterbitkan adalah konsistensi dalam menulis. Alangkah sayangnya setelah naskah bisa terbit namun intensitas menulis menjadi menurun.

Suatu saat kualitas dari seseorang akan terlihat dari isi buku yang ia hasilkan.

Tetap tulis, tak perlu kawatir mengenai diterbitkan atau tidak.

Tak harus selalu aku

Jika kelak engkau jatuh cinta padaku, mengertilah jika aku tak mampu utuh untukmu.

Ada banyak hal yang harus kita saling mengerti. Engkau memiliki kehidupan lain selain itu. Engkau memiliki cita-cita yang sudah tergantung sejak lama.

Jika kelak engkau jatuh cinta padaku, aku akan tetap ingin melihatmu menjadi apa adanya dirimu.

Bertemulah dengan banyak orang, berkembanglah dengan potensi yang ada di dirimu.

Aku akan mengiringimu untuk mewujudkan yang kau cita-citakan. Aku akan selalu menjadi rumah untuk kau pulang dan melepas lelah setelah bertemu dengan banyak orang.

Sadarilah, ada duniamu yang luas dan tak harus kau tinggalkan.

Ketahuilah, ada sebagian tawamu yang juga menjadi milik mereka-mereka.

Namun, hati serta cinta dengan utuh adalah aku menjadi pemilik tunggal.

Kita adalah aku dan kamu.

Kamu adalah aku, dirimu dan mereka.

Aku adalah aku juga kamu serta aku yang selalu ada untukmu pulang.

Ketahuilah sayang, ada banyak hal yang tak harus selalu aku. Namun, bukan berarti semua hal harus berjalan tanpa cinta kita yang mengiringi.

Aku menyukai ketika mereka memujimu, aku menikmati mendengar kisah-kisah mereka dari bibirmu. Aku juga tak pernah ingin kau kehilangan apapun yang sudah ada.

Aku sebagai pelengkapmu, bukan aku sebagai penggerus kebahagiaanmu.

Jika kelak engkau jatuh cinta denganku, izinkan aku mengenal rasa dimiliki (lagi).