Menulisku 2017

Mengawali dunia menulis di tahun 2014, kala itu hanya sebatas menulis puisi-puisi biasa, sajak-sajak sederhana juga banyak sekali menulis hal-hal yang ada di kepala dalam garis waktu.

Menjadi tertarik dengan cerpen ketika pertamakali membaca sebuah cerpen dari pranara yang terunggah di garis waktu. Semakin sering membaca cerpen hingga belajar menulis hanya dengan bentuk sederhana. Tulisan yang singkat.

Saya merasa cerpen saya begitu dangkal dan begitu mentah, hal tersebut membuat saya semakin ingin menenggak ilmu lebih banyak lagi. Keterbatasan akses membuat saya ingin segera keluar dari zona isolasi. Saya pernah mencoba belajar dan mencari ilmu dari salah satu penulis di kota saya tinggal sekarang, Banjarbaru. Namun, harus berakhir dengan pahit karena saya hanya mendapatkan respon acuh dan tak pernah sama sekali ditanggapi dengan cara yang baik. Saya tidak berkecil hati, malah itu saya gunakan sebagai cambukan untuk menunjukan jika banyak ilmu yang bisa saya dapatkan tapi tidak melalui dirinya.

Saya juga pernah bertanya mengenai menulis cerpen ke salah satu penulis (yang saat ini sudah menerbitkan banyak novel dan digandrungi para remaja) ketika ia membuka kesempatan bagi siapapun untuk mengirimkan surel ke alamatnya. Masih sama, saya tidak mendapatkan balasan apapun, yang padahal saya hanya menanyakan mana yang lebih dulu dicari, tema tulisan atau tulisan yang pada akhirnya akanmengerucut menjadi satu tema.

Atas kedua kejadian tersebut, saya tidak pernah menyerah. Saya memperbanyak ilmu dengan sering membuka twiter dan mengikuti akun-akun yang secara cuma-cuma kerap membagi tips menulis. Hingga saya mampu merampungkan satu cerpen dengan struktur sebuah cerpen yang utuh.

Saya tidak merasa puas dengan tulisan saya, dan saya mencoba melihat sampai sejauh mana hasil karya saya jika disandingkan dengan penulis lain. Maka, pada saat itu saya mengirim tulisan saya untuk mengikuti sayembara lomba menulis. Itupun berkat dorongan beberapa teman yang mengatakan jika tulisan saya layak untuk diikutsertakan. Memang benar, saya bukan orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Namun, setelah melihat tulisan saya untuk pertamakali terpilih dan dibukukan oleh komunitas menulis, seolah menjadi penyegar bagi sahara.

Saat itu saya sangat menggemari jika ada lomba yang memberi fasilitas review oleh jurinya. Sebab yang saya perlukan adalah koreksi dari tulisan saya dari orang yang memang benar-benar memiliki jam terbang tinggi dan memiliki banyak karya yang berkualitas bagus. Semua perjalanan tidak mudah tentunya, saya juga pernah mendapatkan kritikan pedas jika tulisan saya hanya mengandung unsur ranjang. Walaupun saya berusaha menyangkal tapi kritikan tersebut saya jadikan untuk membenahi gaya menulis saya.

Terhitung sampai saat ini saya sudah banyak mengikuti lomba menulis, hanya untuk mengasah kemampuan saya menulis dan juga mengetahui seberapa bagus peringkat tulisan saya jika dibandingkan dengan yang lain. Tentu saja setiap lomba memiliki karakter penilaiannya masing-masing. Hingga saya memenangkan lomba dan berhak menerbitkan satu buku di pertengahan tahun 2014 buku kumcer solo saya yang pertama lahir dnegan judul Kamandrah. Buku kedua lahir di awal tahun 2016 dengan judul Renjana. Jika dihitung mungkin sudah berjumlah ratusan lebih cerpen yang saya tulis, sebab sampai saat ini saya sudah memiliki 45 list antologi yang masing-masingnya berisi karya saya. Tentu saja untuk mencapai angka itu harus melewati tahap seleksi terlebih dahulu.

Saya sangat menyukai cerpen karena dalam ukuran sederhana tapi memiliki banyak unsur di dalamnya. Cerpen yang harus padat dan berisi, tidak bertele-tele serta membuat pembaca mampu berdecak hanya dengan membaca beberapa menit saja. Cerpen yang isinya tidak monoton hanya sebatas kisah cinta biasa. Saya akui, saya masih perlu banyak belajar lagi untuk bisa membentuk cerpen yang bagus, tentu saja tidak untuk semua orang sebab seorang penulis tidak akan pernah mampu memuaskan seluruh pembaca karyanya.

Sampai saat ini, saya masih perlu banyak ilmu lagi. Namun, saya akan bersenang hati membagi ilmu menulis sebab saya pernah berada dalam posisi yang diacuhkan oleh seorang penulis hingga saya berusaha untuk melakukan hal yang sama kepada mereka yang datang kepada saya. Barangkali ilmu sedikit saya bisa saya bagikan, mana tau mampu menjadi hal besar bagi penerimanya.

Dalam waktu dekat juga saya akan menerbitkan satu lagi kumcer, yang tentunya berbeda dengan Kamandrah dan Renjana. Setelah itu, saya mulai akan menyusun untuk projek kumcer konvensional. Semoga bisa satu demi satu target saya terpenuhi, Amin.

Banjarbaru, 05 Desember 2017

Mestakung

Mestakung adalah sebaik-baiknya doa.

Maka hadirlah aku di hadapan dirinya malam itu di Gubeng. Tidak sia-sia setelah menempuh 5 jam perjalanan dari kota Solo.

Kami bersama-sama berusaha untuk saling menemukan ketika berada di Gubeng. Permainan kecil yang sengaja kami bikin untuk pertemuan pertama ini. Jelas, ia lebih mudah menemukanku daripada aku yang sedikit tersesat di antara kerumunan penumpang lain.

Aku tak menyangka begitu mudah ia menghangatkan suasana. Caranya memulai pembicaraan kami yang aku terpaku dalam kegugupan. Perhatiannya yang membawakan barang bawaanku hingga ia memilihkan tempat makan dengan berkali-kali menanyakan apa yang ku pilih. Walaupun, sesampainya di tempat makan ia harus repot mencarikan kecap sebagai penawar dari rasa pedas kapulaga dalam kuah sup yang ku makan.

Bagaimana bisa aku tidak bertekuk lutut pada dirinya ketika ia memperlihatkan caranya memperlakukan seseorang yang ia cintai. Tidak terlihat jarak kedekatan kami, tidak ada batasan antara komunikasi kami.

Aku tau kita pernah sama-sama jatuh pada pengalaman masa lalu, kami pernah terluka begitu perih hingga dengan cara sederhana saling menemukan.

Jangan pernah berpikir hal-hal buruk yang belum tentu terjadi, pikirkan saja hal-hal baik, supaya kita juga dikasih yang baik-baik — ucapnya.

Ia memberikan apapun yang ku butuhkan bahkan hal-hal yang tak sempat ku pikirkn detail. Ia bahkan membelikan keperluan-keperluan untuk menunjang penampilanku. “Marketing harus benar-benar dijaga ya, alerginya diobatin nanti, jerawatnya juga jangan lupa cuci muka terus.” Ya, seperti itu adanya. Sebab katanya “Duniamu itu seperti di pekerjaan kamu, bahkan aku tergeser dari itu. Caramu menceritakan masalah kerjaan selalu semangat.” Ia memberikan support dari segala hal.

Ia yang selalu bawel mengingatkan mengingatkan membeli vitamin. Krim bibir bahkan juga keperluan-keperluan pekerjaan.

Katanya “Bersama denganmu aku merasa nyaman, belum pernah seperti ini dengan sebelum-sebelumnya, itu sebabnya aku bisa menjadi diriku sendiri di depan kamu tanpa merasa jaim.”

Akupun merasakan hal yang sama, hanya kepadanya aku bisa semudah itu bercerita masalah pekerjaan (dan di dengar), bercerita hal-hal yang tak penting, juga berbicara tentang mimpi-mimpi.

Ia tak pernah membirkanku membawa barang belanjaan seorang diri, bagian terberat pasti ia yang mengambil alih. Sedangkan dompet dan ponsel miliknya selalu berada di tanganku. Aku memiliki paswot ponselnya, tapi dengan itu bukan berarti aku berani membongkar isi ponsel dan dompetnya.

Begitulah caraku menjaga privasinya hanya membuka waze, dan begitulah caraku memberi kepercayaan kepadanya. Tidak semua hal harus terus diawasi, percayalah jika ia memang cinta maka bersetia adalah salah satu wujud.

“Kiss me baby” katanya ketika kami menembus kemacetan kota.

“Kamu lembut banget sih sayang” katanya ketika aku berada dalam pelukannya.

“Kamu ko liatin aku kek mau bunuh gitu sih hahaha…” katanya ketika dia salah tingkah sebab pandanganku hanya tertuju padanya.

“Manja banget sih, sayang” katanya ketika aku merengek meminta sesuatu padanya.

“Bien tangannya berbulu kek gorila” katanya yang spontan membuatku tertawa.

Ia selalu menjaga apapun yang ku berikan padanya. Ia menjaga Snow boneka putih yang bahkan lebih baik dariku. Ia selalu menjaga Snow agar tetap bersih dan wangi.

Aku tak memberinya izin untuk memelihara kucing.

Aku melarang ia untuk mengenakan lagi sweater yang pernah ia kenakan ketika menjemputku di Gubeng.

Aku yang sangat melarangnya untuk memaki ketika dalam kemacetan jalanan.

Aku tak pernah mengizinkannya untuk membeli barang-barang sebelum benar-bener ia perlukan.

Aku yang begitu banyak larangan dan ia yang hanya dengan 1 larangan jangan selingkuh. Namun, ia tetap menggandeng tanganku penuh cinta. Ia tetap ada bersamaku, untukku.

Untuknya ku tulis ini, untuknya ku curahkan segala hatiku. Untuknya yang ku temukan dengan mestakung.

Kami pernah berada pada masa kritis dan kami sekarang saling memiliki dengan Mestakung (semesta mendukung).

Caranya menemukan ku


Sebelumnya begini http://alteregoaufa.tk/2017/09/01/surat-untuk-kamu/ 

“Apa sih yang bikin suka sama aku?”

“Karna aku baca blog kamu.”

“Maksudnya?”

“Iya, aku cuma googling namamu dan tau blog kamu, aku baca tulisan kamu yang judulnya Surat Untuk Kamu.”

“Aku bahkan lupa isinya.”

“Aku hanya merasa surat itu ditujukan untuk aku, aku seperti menemukan cinta diantara rasa lelah. Rasa lelah yang juga pernah aku rasakan.”

“Iya, surat itu aku tulis ketika aku benar-benar menyampaikan harapan kepada semesta agar memberiku orang yang mampu berjuang bersama.”

“Dan Tuhan menjawab doaku dengan mengirimkan kamu. Ntah kenapa jalan kita seolah dimudahkan untuk saling menemukan. Jika bukan, memang karena kita sudah ditakdirkan untuk saling melengkapi.”

“Aku tak pernah bersikap manis padamu, bahkan aku selalu mematahkan dan penuh arogansi ketika membalas semua chat darimu, kenapa memilih untuk terus bertahan?”

Emmm… aku hanya merasa masih ada yang kurang jika aku harus memilih berhenti seketika itu. Ada sesuatu yang seolah menarikku untuk dapat memilikimu.”

“Kau penuh hal-hal yang membuatku merasa nyaman.”

“Kau penuh gelora yang membuatku merasa bahagia.”

Dia hadir menawarkan kenyaman, dalam lembut suaranya, dalam riang tawanya. Dia mengatakan jika ia benar-benar menginginkanku, ia merasa menjadi orang yang tepat sebagai objek tulisanku dalam Surat Untuk Kamu.

Ia menunjukan dengan caranya jika ia mengagumi ku, jika ia tak ingin melepaskanku. Ia juga meyakinkan bahwa hanya ada aku yang selama setahun lebih ia berada dalam kesendirian.

Tak bisa ku pungkiri, akupun jatuh hati padanya dengan merasakan ketulusan dan kesabarannya.

Aku pernah berujar kepada semesta jika aku akan bahagia sama seperti ketika kulihat masa laluku berpaling untuk orang lain. Aku pernah berjanji untuk tidak lagi membuat penyesalan karena melepaskan orang yang baik.

Saat ini, terasa genap dan utuh sudah lubang hatiku. Dia adalah sebenar-benarnya orang yang bahkan belum ku kenal sebelumnya dan membaca harapanku kemudian meluluhkan hatiku.

Dia adalah keindahan yang ingin ku jaga, sebab firasatku saat ini, dialah yang terbaik dari semua yang pernah ku miliki.

Bukankah sangat menyenangkan ketika jatuh cinta pada orang yang juga jatuh cinta kepada kita dengan seluruh hatinya. Seseorang yang mencintai kita apa adanya, seseorang yang tak pernah menempatkan kerumitan perihal dicintai dan mencintai.

Dia, adalah seseorang yang selalu membaca doa tidur dan ucapan “semoga selalu bahagia” sebelum menutup matanya dengan banyak rindu bertuliskan namaku.
Banjarbaru, 24 Oktober 2017
With love,

Aufa.

Cerita sore ini


Sedikit ku tulis di sini,

Aku bukan orang yang pandai merangkai kata dan menjadikannya dalam sebuah sajak cinta.

Aku bukan orang yang berani mengucapkan janji-janji manis kemudian menjadikan seperti mimpi yang tak pernah terwujud.

Padamu aku kisahkan sedikit tentangku, tentang kita jika nanti menjadi satu.

Aku hanya ingin terus memilikimu bahkan sampai “selama-lamanya” seperti ucapmu. Aku hanya ingin terus berada dalam cinta yang nyaman, cinta yang tak harus melewati banyak permasalahan hanya untuk saling berdebat hal-hal kecil.

Aku adalah orang yang nanti akan mencandu pada pelukan kita yang hangat, seolah enggan melepas hanya untuk berpisah sejenak.

Aku adalah orang yang nanti akan menjadikan detak jantungmu sebagai suatu aspirin ketika ku rebahkan kepalaku pada pelukanmu. Sedekat itulah kita nantinya, seperti itulah aku yang akan menghabiskan waktu berbahagia bersamamu.

Aku tidak mampu selalu ada disetiap permasalahan-permasalahanmu. Namun, percayalah setiap kali kau pulang akan selalu ada aku yang menunggumu sebagai rumah untukmu melepas semua lelah.

Aku yang akan mengusap lembut rambut-rambutmu dan memberi kecupan hangat di kening, seolah yang ingin ku sampaikan “tak perlu kawatir, apapun itu akan selalu ada di dekatmu.”

Aku adalah kekasih yang selalu ingat jika hatiku sudah kau miliki dan jika cintaku tak lagi untuk yang lain.

Aku tak mampu selalu ada di dekatmu tapi aku adalah orang yang akan selalu berusaha untuk selalu ada. Aku memiliki keterbatasan-keterbatasan kuasa, tapi setidaknya aku tidak hanya diam untuk membuktikan betapa cintaku untuh untukmu.

Aku adalah rindu dalam diam, resah dalam ketidakberdayaan tanpa kuasa untuk memiliki.

Aku adalah seseorang yang menunggumu datang untuk menjadikan yang biasa terasa tidak biasa. Menjadikan yang asing menjadi kekasih.

Menjadikan aku, sebagai kekasih.

Sisanya ku berikan padamu.

Hidup terlalu singkat untuk menunggu yang tak pasti


Cinta hadir karna terbiasa, atau karena adanya cinta maka jadi terbiasa?

Memiliki seseorang yang benar-benar dekat tentu saja menjadi tempat kita untuk menceritakan segala hal. Seolah dia adalah sebagian dari diri kita. Seolah tanpa membagi dengannya belum cukup lengkap. Seharusnya begitulah hubungan yang menyenangkan, berbagi segala hal bersama.

Kita yang paling tau bagaimana pasangan kita, kita seharusnya juga tau seberapa besar rasa cintanya.

Memang, sekedar cinta saja tidak cukup. Namun, setidaknya jika benar itu cinta segalanya akan menjadi mudah.

Pertengkaran akan mudah terselesaikan jika ada cinta. Sebab cinta jauh lebih kuat dari ego, sebab cinta tak akan menyakiti, dan cinta justru memberi ruang yang nyaman.

Terkadang untuk takut kehilangan dia kita sangat yakin jika itu cinta, tapi bagaimana jika hanya ketajutan karena tak ingin sendiri?. Bagaiman dengan ketakutan dengan “sayang sudah jalan tahunan sama dia”?. Bagaimana dengan ketakutan jika bukan dia tapi kelengkapan-kelengkapan lain dari dirinya yang kita butuhkan?.

Beberapa orang lebih memilih bertahan dengan kondisi hubungan yang sudah tidak lagi harmonis, mungkin karena cinta, mungkin malas memulai untuk mengenal dan jatuh cinta dengan hal baru dan mungkin saja sama-sama terperangkap dalam pesakitan dan luka.

Sebagian lagi berani memilih menghentikan apa yang membuatnya tak nyaman demi menemukan hal baru. Siapa bilang hal mudah untuk membunuh rasa cinta dan benar-benar belajar untuk menutupnya. Ada yang benar-benar berhasil dengan mudah begitu menemukan orang baru, ada juga yang harus tertatih sebelum ia tersenyum dengan cintanya yang baru.

Memilih bertahan atau melepaskan, yang mana saja asal pastikan tidak untuk menyakiti diri sendiri juga orang lain. Percayalah sebab semesta akan memperhitungkan apa yang sudah kita tuai.

Hidup terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk menunggu yang tak pasti, tak terkira sudah berada di ujung tahun dan melihat kebelakang tak ada yang sudah benar-benar berarti, tak ada cinta yang pantas dibanggakan, kosong.

Jikalau dipenghujung tahun ada yang bertanya tentang kebahagiaan apa yang sudah kau dapatkan setahun belakangan, apa yang akan kau ceritakan?

Dari tiga sudut

Seorang teman pernah bertanya, saya mendapatkan inspirasi menulis dari mana. Saya bingung menjawab pertanyaannya, sebab inspirasi itu terkadang datang begitu saja. Kerap untuk hal-hal tertentu yang saya temui ataupun saya lihat menumbuhkan banyak pertanyaan di kepala saya, itu membuat isi kepala saya terlalu riuh hingga memerlukan media untuk mengalihkannya. Saya menyukai mendengar cerita banyak orang. Dari belajar menulis juga saya selalu mencoba menempatkan diri saya di posisi orang yang sedang curhat. Sebab seorang penulis tidak boleh memiliki keangkuhan untuk menuangkan suatu kisah. Ia harus mampu merasakan menjadi tokoh-tokoh lain, selain tokoh utama yang ia bangun.

PEMBERI

Kemarin, saya mendengar kisah dari seorang teman jika ia sudah tidak lagi bersama kekasihnya. Singkatnya ia merasa begitu terpukul dengan kekasihnya yang pergi bersama lelaki lain. Kehidupan teman saya (kita sebut saja Tawon) diberi banyak keisitimewaan perihal rezeki yang melimpah, hingga ia selalu menghadiahkan barang apapun yang kekasihnya inginkan. Bahkan, sebelum kekasihnya meminta, Tawon sudah membelikan barang-barang mewah tersebut. Tidak ada yang salah dengan alibi Tawon yang mengatakan jika ia melakukan itu karena ia menyayangi kekasihnya. Tawon ingin membahagiakan kekasihnya, salah satunya dengan cara mencukupi kebutuhan dari kekasihnya yang seorang pekerja medis di rumah sakit swasta.

Setiap manusia memiliki keunikan, antara satu dan yang lainnya bisa menilai hal yang sama dengan berbeda persepsi. Cara manusia mencintai juga terluka pastinya memiliki kadar rasa berbeda. Beginilah cara Tawon untuk merebut hati kekasih yang sangat ia cintai. Tawon terluka, dan ia masih tidak bisa menerima kenyataan jika kekasihnya memilih lelaki lain yang bahkan tak akan pernah bisa memberi barang-barang yang bisa Tawon berikan kepada kekasihnya.

Saya tidak pernah menanyakan apakah dia ikhlas atau tidak, sebab sebaik apapun ketulusan yang pernah kita berikan jika hati mengalami luka pastilah secara tidak sengaja (mungkin untuk beberapa orang) akan menceritakan kepada orang lain. Tentu saja bukan dengan maksud mengungkit kembali pemberian, pasti hanya sekedar ingin bercerita sampai sejauh itu ia membuktikan pengorbanan cinta.

Satu hal yang masih saya ingat ketika Tawon berkata “Aku bahkan ga punya satupun benda yang dikasih dia, saat ini aku bingung mau mengingat dia dari apa. Banyak pasangan yang ingat mantan karena diberi tas atau sebagainya, aku ga punya itu. Selain itu juga aku menjadi cepet move on karena selama ini aku terus yang selalu kasih-kasih, dianya ga pernah.”

Sampai sebatas itu saja saya menceritakan Tawon dan luka hatinya. Lalu isi kepala saya menjadi riuh dan ingin bertanya kepada Tawon apakah selama ini ia mendekati seluruh perempuan dengan memberikan harta? Bagaimana jika ternnyata kekasihnya hanya mencintai hartanya saja. Pertanyaan yang tak pernah saya utarakan kepada Tawon.

PENERIMA

Kisah lain yang tiba-tiba saya pernah ingat adalah cerita tentang (sebut saja Kenanga). Kenanga memiliki banyak potensi untuk mampu menaklukan hati lelaki. Selain wajahnya yang cantik, ia juga memiliki sifat lembut serta selalu menjadi kekasih yang baik, hingga ia juga menyandang gelar seorang istri di usianya yang baru memasuki kepala dua, awal. Cerita tentang Kenanga lebih dahulu ada sebelum cerita Tawon. Antara Kenanga dan Tawon tidak ada hubungan apapun. Saya hanya mencoba menuangkan benang merahnya saja pada tulisan ini.

Kenanga selama menjadi seorang istri ia tidak bekerja karena tidak sampai menamatkan kuliahnya. Kenanga menjadi istri yang selalu berusaha memenuhi apa-apa saja kebutuhan suami. Kenanga merasa tercukupi hidupnya sebab suaminya selalu memberikan apapun yang ia kehendaki. Perhiasan, baju-baju mahal juga tentengan elektronik berharga mahal. Kenanga bangga bisa memiliki itu semua. Tak peduli beberapa orang sering mengejeknya jika ia tak pantas memiliki suami yang tidak tampan. Urusan fisik bagi beberapa orang sangat penting memang, begitu juga dengan urusan materi.

Kenanga tidak pernah merasa risih dnegan suaminya yang bak  langit dan bumi ketika bersanding dengan dirinya. Kenanga merasa nyaman tas kemanjaan harta yang kemudian justru merasa terperalat oleh harta. Kenanga menjadi sangat tergantung akan kucuran materi untuk hidupnya juga sebagian kecil yang kerap ia kirimkan kepada orang tuanya.

Dibalik kebanggaan akan kekayaannya, Kenanga justru merasa tidak bahagia. Kebahagiaan yang ia duga mampu ia dapatkan dengan harta yang berlimpah. Kenanga ternyata kerap mendapati suaminya bersama perempuan lain dan tetap menerima atas perlakuan-perlakuan kasar suaminya. Kenanga ingin pergi meninggalkan pernikahan mereka. Namun, lagi-lagi ia terpaksa bertahan mengingaat selama ini yang mencukupi kebutuhan Kenanga dan orangtuanya adalah suaminya.

Atas Kenanga, banyak pertanyaan berawalan ‘kenapa’ ingin saya utarakan. Salah satunya adalah kenapa ia memilih menikah dengan suaminya dari semula, apakah semata karena harta atau benar-benar cinta. Serta kenapa-kenapa yang lain dan tak juga saya utarakan.

PENGAMAT

Bagian ini sempet saya tuliskan di what app stories pembicaraan yang terjadi dengan salah satu perempuan yang bisa kita sebut dengan Lalat. Pembicaraan yang bahkan sudah terjadi berbulan-bulan lamanya. Saya tidak ingat jelas atas apa yang pernah menjadi bahasan kami sebelumnya. Saya hanya mengingat bagian Lalat berkata “Kaa.. banyak orang selalu lihat dari apa yang kita terima tanpa peduli bagaimana caranya sesuatu itu bisa sampai ke kita.

“Misalnya ya ka, ada yang kasih berlian karena ia anak seorang pengusaha. Itu biasa saja ko, mudah aja dia dapetin tinggal minta ortunya, atau Cuma bagian kecil banget dari salarynya. Tapi beda sama orang yang kasih barang murah ratusan ribu aja tapi untuk dapetin itu dia kudu nabung. Dia kudu nahan-nahan bahkan untuk keperluan dia sendiri. Perjuangan untuk bisa kasih itu ga mudah loh”.

Ini adalah salah satu cara saya mendapatkan ide tulisan yang kadang saya gabungkan dari tiga unsur. Cara saya untuk memperkaya warna cerpen-cerpen saya. Jika dari contoh tersebut maka tema besar yang akan saya ambil adalah mengenai “hadiah untuk seorang kekasih”.

Beberapa kalimat yang muncul dari isi kepala biasanya saya tulis di twitter hingga untuk proses penulisan cerpen, saya akan membuka kembali twit tersebut. Begitulah salah satu cara saya menemukan ide tulisan. Banyaknya cerpen yang saya tulis, sebisa mungkin tidak mengulang cerita yang pernah saya tulis sebelumnya.

Ribet? Bisa jadi sebab saya sangat mengutamakan kualitas dari observasi.

[47] Kasih Tak Sampai


Judul: Spotlight

Terbit: September 2017
Ehee…. sudah jarang ikutan lomba menulis, tapi saat melihat lomba menulis yang diadakan Kinomedia, langsung kirim stok cerpen yang ada. Judulnya Spotlight dan berhasil masuk dalam tulisan Yang terpilih untuk dibukukan.

Spotlight adalah cerita sederhana mengenai ketertarikan seseorang terhadap rekan kerjanya. Seolah ia mengalami fenomena spotlihgt. Cerpen yang penuh unsur romance dan ditutup dengan ending twist. Cerpen yang akan masuk dalam solo kumcer saya juga. 

Surat untuk kamu

Pernah terbesit dalam benakku untuk jatuh cinta kepada orang yang begitu memperjuangkan hatiku dengan bersungguh-sungguh. Luluhnya hati seorang perempuan bisa jadi bukan hanya karena cinta tapi juga karena kesabaran yang mampu membuahkan cinta.

Ada beberapa hati yang pernah ku singgahi dan menetap sebelum akhirnya hubungan kami kandas. Pernah terluka teramat sangat hingga tak berada pada diriku sebenarnya, sebab dicintai hanya untuk sebuah ‘pelarian’ itu sungguh menyakitkan. Hingga ia tak pernah tau bagaimana caraku menyembuhkan luka, yang ia tau hanya suatu kepantasan jika meninggalkan seseorang demi orang lain yang masih ada di hatinya.

Lelah?

Iya, dan sangat.

Aku juga pernah menyia-nyiakan orang yang begitu menginginkanku hanya karena aku masih berada dalam fase gamang. Ketika aku sudah yakin akan dirinya, ketika mulai buka hatiku untuknya, seketika itu pula ia berbalik arah dan meninggalkan aku dengan kekecewaan yang mendalam. Ada banyak penyesalan, ada banyak rasa ingin mengeluarkan banyak kata maaf. Sudah ku lakukan, dan di sinilah aku saat ini menuliskan surat ini untukmu.

Kamu, kamu yang tak tau siapa, yang jelas kamulah masa depanku kelak. Orang yang bisa jadi belum ku kenal saat ini. Kamu yang akan ku cintai dengan tanpa keraguan lagi. Kamu yang akan membuatku merasakan dicintai dan dimiliki sepenuhnya.

Dan aku ingin kamu atau aku menemukan dengan cara yang tak begitu rumit, seperti halnya isi hatiku. Banyak impian yang ku inginkan untuk menjalani hubungan yang menyenangkan, hubungan yang tidak selalu membuat aku harus mengerutkan dahi, menahan sesak di dada ataupun seperti yang sering orang sebut dengan makan hati.

Setidaknya kamu nanti yang akan membuatku selalu nyaman dengan penampilanku. Tidak harus aku berusaha sekuat mungkin untuk tampil sempurna di hadapanmu. Seburuk-buruknya hariku, engkau akan tetap menggandeng tanganku dan tersenyum melihat penampilanku yang tidak mewah.

Aku tidak harus mengikuti berbagai program diet hanya karena engkau selalu mengeluhkan berat badanku yang tak setara dengan model-model majalah. Aku juga tak harus kawatir jika satu atau dua jerawat tumbuh di wajahku. Sebab engkau akan selalu menganggap itu semua hanya hal kecil yang tak perlu untuk dijadikan masalah.Tapi bukan berarti aku tidak menjaga penampilan untuk membuatmu nyaman menjadi milikku.

Aku tak perlu menghabiskan waktu untuk cemburu dan bertanya mengenai keberadaan hatimu, sebab caramu mencintaiku sudah cukup menunjukan bagaimana kita saling memiliki dan saling menjaga hati sendiri. Bukan hanya hal kecil saja tapi juga hal-hal besar yang tak perlu lagi ku tanyakan akan selalu kau bagi, sebab kita adalah satu yang akan saling berbagi.

Akan ada ketidaksepahaman, akan ada masalah yang membuat kita saling meninggikan ego dan saling berusaha memenangkan pertengkaran, tapi mau kah kau ingatkan aku jika semua hal masih bisa dipecahkan bersama tanpa harus mendahulukan emosi. Percayalah, akupun tau bagaiman rasanya terluka dan disakiti, sebab itu sebisa mungkin aku akan berusaha untuk tidak melakukannya padamu. Jika harus terus mencari kesalahan satu sama lain, akan habis waktu kita termakan oleh nyeri hati. Seharusnya kita ada untuk menambah kebahagiaan.

Aku tidak bisa menawarkan jika kamu akan selalu baik-baik saja bersamaku, aku hanya mampu menjanjikan apapun yang kan kita lewati kelak, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku juga hanya mampu berusaha untuk dapat membuatmu bahagia. Kesabaranku lebih luas dari egoku, setiaku tak usah kau pertanyakan lagi. Sebab yang ku inginkan hanya menjalani cinta tanpa ada lagi kerumitan.

Cinta yang mungkin saja ada di dirimu yang sedang membaca suratku ini. Smapai bertemu, kamu yang akan menjadi belahan hatiku.

 

Salam sayang,

Aufa.

Bicara luka (KATARSIS)


Luka…

Kali ini mungkin saya ingin bercerita tentang luka.

Setiap orang memiliki kemampuan berbeda untuk merasakan luka. Terlebih luka yang tak nampak oleh mata, luka hati. Luka yang menurutmu kecil belum tentu orang lain merasakan sekecil yang kamu rasa. Sebab itu sebagai keunikan dari manusia yang memiliki rasa berbeda antara satu dan yang lainnya.

Sebagian orang memilih hidup dalam luka dan menemukan sedikit kebahagiaan di dalamnya. Muncul pertanyaan “kenapa ada kebahagiaan di balik luka?” Tidak ada yang tidak mungkin kan?.

Ada juga luka yang sengaja dibuat hanya untuk melihat orang yang kita cintai bahagia. Salah satu contohnya melepas kekasih bersama selingkuhannya.

Sebagian orang mengekpresikan luka cukup jelas dan sebagian lagi menutupnya rapat dan menelan hingga habis.

Menyembuhkan luka bisa dengan berbagai cara, ada titik dimana seseorang akan berada pada nadir terendah menerima luka tersebut. Nangis meraung, berhenti melakukan apapun, juga bahkan ada yang menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan kebahagiaan dari trveling atau shopping.

Lakukan, apapun itu tapi yang jelas jangan sampai semakin membuatmu menghancurkan diri sendiri. Menangislah, hancurlah hanya untuk hari itu saja, jangan sampai berlarut. Sebab jika bukan dirimu sendiri siapa lagi yang mampu menyembuhkan luka itu.

Kerap terjadi menjalani hubungan yang selalu menggoreskan luka, kecil memang. Namun, ketika luka tersebut nyaris kering oleh kata “maaf” tapi tak bertahan lama karna kemudian menerima luka lain lagi. Terluka kecil tapi sering adalah hal yang sangat menyakitkan dan melelahkan.

Terkadang pilihan lain adalah benar-benar menghentikan luka itu dengan cara keluar dari lingkungannya, keluar dari kehidupannya juga dari cerita-ceritanya. Luka juga, berat dan sangat hebat. Namun, jauh lebih baik sebab menyembuhkan luka karna tak ingin terluka lagi.

Mengobati luka bukan perkara BISA atau TIDAK BISA, tapi perkara MAU atau TIDAK MAU.

Melangkahlah jauh, melangkahlah untuk mendapatkan ruang agar mampu bernapas lega. Mendapatkan kesembuhan untuk hatimu sendiri yang sudah terlalu berat kau paksakan untuk tetap bertahan.

Jika sudah jauh, jika sudah mampu tersenyum. Adalah pilihanmu untuk kembali ke dalam arena masa lalu yang sudah pasti kau pernah merasakan berada dalam kondisi itu atau memilih tetap melangkah pergi mencari kebahagiaan baru.

Sebelum kau memilih melangkah pergi, pastikan jika kau sudah melakukan segala cara untuk memperbaikinya. Pastikan kau sudah kehabisan ide untuk mampu menyulam perkara-perkara. Pastikan kau sudah menggunakan cara terakhir dari senjata yang kau punya.

Sulit?

Iya! Sebab tidak ada yang mudah untuk keluar dari zona nyaman. Niat hanyalah wacana basi jika tidak diiringi dengan tindakan.

Bergerak tapi pelan jauh lebih baik daripada diam dan tak memiliki progres apapun

Hanya kamu yang tau bagaimana caranya menuntaskan. Hanya kamu yang harus mengambil jalan ketika kondisi tak memberikan pilihan baik. Setidaknya semesta masih terbuka lebar untuk orang-orang yang berupaya menyembuhkan luka.

Jadi, apa yang akan kau pilih? Tetap berada di zona nyaman berselimut luka atau memilih luka dalam untuk mengakhiri.

Sama-sama berupaya menyembuhkan, bedanya zona nyaman menyembuhkan untuk kembali terluka dengan kondisi yang sama atau melangkah ke jalan lain, menyembuhkan untuk menyudahi luka.

Saya akan menceritakan bagaimana orang-orang mengentaskan lukanya, dalam KATARSIS.

Wait and see

Ini cerita mengenai suka duka menjadi marketing. Banyak pelajaran yang saya dapat di dalamnya sebagai marketing baru. Saya hanya ingin menuliskan agar ketika saya membacanya, maka saya akan tersenyum.

Pengalaman-pengalaman yang saya dapat sebagai seorang newbie di dunia marketing sebuah manufacture.

Beberapa minggu terakhir saya menawarkan kerjasama di salah satu perusahaan besar. Kerjasama yang bersifat mutualisme karna sama-sama menguntungkan.

Biasanya untuk memudahkan dalam pemasaran saya akan support total kebutuhan klien kami. Salah satunya perusahan YYY ini yang sudah saya keluarkan trik dari A sampai X.

Biasanya untuk perusahaan lain saya hanya berhenti di G dan mereka sudah mampu running sendiri. Ya memang tidak sebesar perusahaan YYY.

Hingga sampai trik ke W perusahaan YYY tak kunjung merespon dan mulai menjalankan step-step yang saya berikan. Semacam mereka tidak ada pergerakan. Kasus (saya sebut ini kasus) seperti ini saya coba sampaikan ke atasan saya selaku direktur marketing. Berikut obrolan kami:

Saya sudah sampai W pak tapi ya begitu masih slow respon

Ya sudah, jika begitu hentikan.

Maaf maksud bapak?

Iya, hentikan semua. Menjalin kerjasama bisnis buat saya bukan sekedar omset gede tapi juga kenyamanan kerjasama. Relasi kita itu sama dengan kekasih kita. Jika kita sudah berjuang habis-habisan ya sudah tinggal jalan di X wait and see, Y keputusan akhir dari reaksi mereka setelah kita diamkan dan Z eksekusi yang berarti kita jalan atau mundur.

Mundur? Nyerah dong pak?

Bukan nyerah karna gak mampu tapi nyerah karna ya memang sudah ga ada yang bisa kita lakukan lagi selain menunggu hasil.

Bapak gak takut ngelepas omset besar gitu aja?

Saya lebih takut jika team saya kehilangan semangat untuk mengejar omset lain. Percuma besar jika mereka tak juga sejalan dengan kita, lebih baik yang kecil tapi nyaman. Kita sudah semaksimal mungkin memberikan support.

Jika itu kekasih bapak apa bapak juga akan melepas semudah itu?

Why not? Kita sudah pada titik terendah dan habis upaya. Apa lagi yang mau diciptakan, apa lagi yang mau ditunjukkan. Kembalikan semua kepada dia, dan cukup diam untuk mengatur napas. Untuk apa berjuang jika hanya sendirian. Baik cinta ataupun bisnis jangan lupa sama batasan diri sendiri.

Ya, atas obrolan singkat itu banyak hal yang saya dapat. Termasuk memilih jalan wait and see terhadap perusahaan YYY.