Bicara luka (KATARSIS)


Luka…

Kali ini mungkin saya ingin bercerita tentang luka.

Setiap orang memiliki kemampuan berbeda untuk merasakan luka. Terlebih luka yang tak nampak oleh mata, luka hati. Luka yang menurutmu kecil belum tentu orang lain merasakan sekecil yang kamu rasa. Sebab itu sebagai keunikan dari manusia yang memiliki rasa berbeda antara satu dan yang lainnya.

Sebagian orang memilih hidup dalam luka dan menemukan sedikit kebahagiaan di dalamnya. Muncul pertanyaan “kenapa ada kebahagiaan di balik luka?” Tidak ada yang tidak mungkin kan?.

Ada juga luka yang sengaja dibuat hanya untuk melihat orang yang kita cintai bahagia. Salah satu contohnya melepas kekasih bersama selingkuhannya.

Sebagian orang mengekpresikan luka cukup jelas dan sebagian lagi menutupnya rapat dan menelan hingga habis.

Menyembuhkan luka bisa dengan berbagai cara, ada titik dimana seseorang akan berada pada nadir terendah menerima luka tersebut. Nangis meraung, berhenti melakukan apapun, juga bahkan ada yang menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan kebahagiaan dari trveling atau shopping.

Lakukan, apapun itu tapi yang jelas jangan sampai semakin membuatmu menghancurkan diri sendiri. Menangislah, hancurlah hanya untuk hari itu saja, jangan sampai berlarut. Sebab jika bukan dirimu sendiri siapa lagi yang mampu menyembuhkan luka itu.

Kerap terjadi menjalani hubungan yang selalu menggoreskan luka, kecil memang. Namun, ketika luka tersebut nyaris kering oleh kata “maaf” tapi tak bertahan lama karna kemudian menerima luka lain lagi. Terluka kecil tapi sering adalah hal yang sangat menyakitkan dan melelahkan.

Terkadang pilihan lain adalah benar-benar menghentikan luka itu dengan cara keluar dari lingkungannya, keluar dari kehidupannya juga dari cerita-ceritanya. Luka juga, berat dan sangat hebat. Namun, jauh lebih baik sebab menyembuhkan luka karna tak ingin terluka lagi.

Mengobati luka bukan perkara BISA atau TIDAK BISA, tapi perkara MAU atau TIDAK MAU.

Melangkahlah jauh, melangkahlah untuk mendapatkan ruang agar mampu bernapas lega. Mendapatkan kesembuhan untuk hatimu sendiri yang sudah terlalu berat kau paksakan untuk tetap bertahan.

Jika sudah jauh, jika sudah mampu tersenyum. Adalah pilihanmu untuk kembali ke dalam arena masa lalu yang sudah pasti kau pernah merasakan berada dalam kondisi itu atau memilih tetap melangkah pergi mencari kebahagiaan baru.

Sebelum kau memilih melangkah pergi, pastikan jika kau sudah melakukan segala cara untuk memperbaikinya. Pastikan kau sudah kehabisan ide untuk mampu menyulam perkara-perkara. Pastikan kau sudah menggunakan cara terakhir dari senjata yang kau punya.

Sulit?

Iya! Sebab tidak ada yang mudah untuk keluar dari zona nyaman. Niat hanyalah wacana basi jika tidak diiringi dengan tindakan.

Bergerak tapi pelan jauh lebih baik daripada diam dan tak memiliki progres apapun

Hanya kamu yang tau bagaimana caranya menuntaskan. Hanya kamu yang harus mengambil jalan ketika kondisi tak memberikan pilihan baik. Setidaknya semesta masih terbuka lebar untuk orang-orang yang berupaya menyembuhkan luka.

Jadi, apa yang akan kau pilih? Tetap berada di zona nyaman berselimut luka atau memilih luka dalam untuk mengakhiri.

Sama-sama berupaya menyembuhkan, bedanya zona nyaman menyembuhkan untuk kembali terluka dengan kondisi yang sama atau melangkah ke jalan lain, menyembuhkan untuk menyudahi luka.

Saya akan menceritakan bagaimana orang-orang mengentaskan lukanya, dalam KATARSIS.

Wait and see

Ini cerita mengenai suka duka menjadi marketing. Banyak pelajaran yang saya dapat di dalamnya sebagai marketing baru. Saya hanya ingin menuliskan agar ketika saya membacanya, maka saya akan tersenyum.

Pengalaman-pengalaman yang saya dapat sebagai seorang newbie di dunia marketing sebuah manufacture.

Beberapa minggu terakhir saya menawarkan kerjasama di salah satu perusahaan besar. Kerjasama yang bersifat mutualisme karna sama-sama menguntungkan.

Biasanya untuk memudahkan dalam pemasaran saya akan support total kebutuhan klien kami. Salah satunya perusahan YYY ini yang sudah saya keluarkan trik dari A sampai X.

Biasanya untuk perusahaan lain saya hanya berhenti di G dan mereka sudah mampu running sendiri. Ya memang tidak sebesar perusahaan YYY.

Hingga sampai trik ke W perusahaan YYY tak kunjung merespon dan mulai menjalankan step-step yang saya berikan. Semacam mereka tidak ada pergerakan. Kasus (saya sebut ini kasus) seperti ini saya coba sampaikan ke atasan saya selaku direktur marketing. Berikut obrolan kami:

Saya sudah sampai W pak tapi ya begitu masih slow respon

Ya sudah, jika begitu hentikan.

Maaf maksud bapak?

Iya, hentikan semua. Menjalin kerjasama bisnis buat saya bukan sekedar omset gede tapi juga kenyamanan kerjasama. Relasi kita itu sama dengan kekasih kita. Jika kita sudah berjuang habis-habisan ya sudah tinggal jalan di X wait and see, Y keputusan akhir dari reaksi mereka setelah kita diamkan dan Z eksekusi yang berarti kita jalan atau mundur.

Mundur? Nyerah dong pak?

Bukan nyerah karna gak mampu tapi nyerah karna ya memang sudah ga ada yang bisa kita lakukan lagi selain menunggu hasil.

Bapak gak takut ngelepas omset besar gitu aja?

Saya lebih takut jika team saya kehilangan semangat untuk mengejar omset lain. Percuma besar jika mereka tak juga sejalan dengan kita, lebih baik yang kecil tapi nyaman. Kita sudah semaksimal mungkin memberikan support.

Jika itu kekasih bapak apa bapak juga akan melepas semudah itu?

Why not? Kita sudah pada titik terendah dan habis upaya. Apa lagi yang mau diciptakan, apa lagi yang mau ditunjukkan. Kembalikan semua kepada dia, dan cukup diam untuk mengatur napas. Untuk apa berjuang jika hanya sendirian. Baik cinta ataupun bisnis jangan lupa sama batasan diri sendiri.

Ya, atas obrolan singkat itu banyak hal yang saya dapat. Termasuk memilih jalan wait and see terhadap perusahaan YYY.

Mengenali sebuah perjuangan


Yang membuat tersadar adalah bukan ketakutan untuk kehilangan, tapi rasa takut jika tak cukup mampu membahagiakan.

Bahkan jika ia lebih bahagia tanpa kehadiranmu, tanpa banyak pertimbangan sebaiknya bersiap untuk pergi dengan kesadaran tanpa satu alasan untuk bertahan.

Percayalah, melihat seseorang yang kita cintai tidak bahagia dengan orang lain itu sangat menyakitkan tapi akan lebih menyakitkan jika mendapati kenyataan ia tidak bahagia bersama kita.

Jika benar cinta itu perihal memberi tanpa menuntut untuk menerima, lantas bagaimana seorang Romeo memilih menenggak racun ketika Juliet sudah tak bernyawa. Lantas bagaimana pula seorang Rahwana menunggu hingga 12 purnama demi mendapatkan sebuah jawaban balasan cinta dari Shinta.

Bukankah Romeo ataupun Rahwana telah memberikan segala yang ia punya, tetap saja untuk sebagian orang (atau bahkan raksasa) memerlukan balasan cinta dan keberadaan orang yang ia cintai.

Sebuah kesabaran untuk meluluhkan hati seseorang dengan ketulusan cinta, dengan apa yang disebut sebagai perjuangan kadang menjadi rancu dengan anggapan hanya sebatas obsesi.

Mengapa harus takut dikatakan sebuah obsesi jika yang kamu perjuangkan adalah perihal ketulusan cintamu, perihal keinginanmu untuk memiliki orang yang kamu cintai.

Selama caramu tidak mengusik, selama yang kau berikan tidak untuk memaksakan dan selama tidak membuatnya terluka. Dan tidak menggunakan arogansi.

Jika memulai dengan cara yang baik dan tanpa sedikitpun niat untuk melulai maka pencipta semesta akan memberikan banyak kebaikan. Begitu juga sebaliknya, jika menyimpan niat ataupun hal yang tak baik maka pencipta semesta akan mengutus karma untuk menamparmu lebih keras. Jangan menantang karma, sebab ia mampu menjelma sebagai hal yang jauh lebih menyakitkan.

Jika ia tak mampu merasakan getaran cinta, jika ia tak selalu mencarimu, jika ia tak sebahagia itu, jika ia kerap merasa jenuh, jika ia masih tak pernah merindukanmu. Jika hubungan yang kalian miliki lebih pantas hanya sebagai pertemanan biasa. Cinta itu berupa letupan-letupan kecil, kegemasan-kegemasan yang alami, greget-greget yang hanya bisa didefinisikan dalam kedekatan hubungan.

Bukan ia, tapi kamulah yang salah. Kamu yang harus kembali menyadari jika keberadaanmu tak bisa mampu membuatnya merasa nyaman.

Menyerah sebab kecewa, itu wajar. Menjadi tidak wajar jika kamu terus memaksanya untuk tetap bersama denganmu.

Cinta bukan sekedar “memberi tanpa menuntut menerima” tapi cinta juga memiliki esensi perjuangan untuk memiliki dan membahagiakan orang yang kita cintai.

Sedangkan perjuangan memiliki batasan waktu. Bukan untuk membatasi sebuah pembuktian namun untuk menyadarkan jika mungkin bukan kamu orangnya.

Sampai kamu sendiri yang merasa lelah, sampai kamu sendiri yang berjanji pada hatimu untuk tidak lagi mencoba pada lintasan yang sama. Sampai habis dayamu. Sampai tak peduli lagi semua tentang dia, perjuangan yang sudah ataupun tentang kekalahan.

Ketika aku bersedia melakukan apapun untuk membuatnya bahagia. Ketika itu pula tetaplah berdiri di sana selama ia tak memintamu untuk pergi. Selama ia masih ingin kau berada di dekatnya. Barangkali ia hanya butuh waktu, selain butuh kamu.

Selebihnya kenali hatimu jauh lebih dalam. Jika bukan dirimu siapa lagi yang mampu mengerti hatimu sendiri.