Konflik


Konflik, benang kusut, masalah yang tidak ada hentinya. Biasa akan terjadi dalam hubungan cinta. Namun, konflik yang tak kunjung ada penyelesaian adalah cara halus untuk memberi isyarat jika hubungan itu yang harus diselesaikan.

Ada jalan penyelesaian lebih baik tapi dengan berbagai alasan tak ingin menggunakannya. Jelas sekali justru menyelesaikan konflik bukanlah tujuan utama.

Pada suatu kondisi, seseorang yang memilih mengakhiri hubungannya bukan berarti dia tidak terluka. Namun, justru bisa jadi dialah yang terluka parah dan menyudahi itu.

Playing victim “aku yang ditinggalkan kok” tidak harus dilihat dari satu arah saja. Dan tidak semua yang ditinggalkan adalah benar pihak yang menjadi begitu terluka.

Bagaimana jika ia sengaja menciptakan kondisi sangat tidak nyaman. Sengaja membuat luka-luka agar berada dalam pandangan aman dengan hasil ditinggalkan oleh kekasihnya dan menjadi seolah merana dengan “Aku yang ditinggalkan kok”

Membuat kondisi tak nyaman begitu mudah. Bahkan analoginya, hal kecil seperti tak nyaman dengan menggunakan baju biru bisa menjadi konflik.

Semua akan terutai, semua akan terlihat polanya ya dengan melepas dan keluar dari suasana yang tak nyaman itu. Sebab apa-apa saja yang menjadi masalah akan tidak lagi keruh setelah hubungan itu berakhir. Baju biru justu akan sering digunakan ketika hubungan berakhir. Kenapa? Tentu karena itu hanyalah cara yang digunakan untuk membuat suasana tidak nyaman. Untuk menutupi apa yang selama ini disembunyikan dan untuk “aku yang diputusi kok”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *