Membaca arah sebagian hati


Jangan pernah memberi jalan seseorang untuk masuk ke dalam hatimu jika hanya untuk menyakitinya



“Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu”

Sesungguhnya tidak ada luka yang tergores tanpa ketidak sengajaan terlebih perkara hati. Ketika memasukan seseorang dan menawarkan tempat nyaman apakah kau juga tau jika bukan hanya hatinya tapi juga hidupnya turut masuk ke dalam.

Ketika seseorang mencintaimu, apakah kau tau dia berusaha menjaga agar kau tidak terluka sedikitpun. Namun, terkadang tidak semua orang tau betapa sucinya cinta dari seorang kekasih.
Kau bisa merasakan dia sebegitu besar memberikan cintanya, kau bisa memegang kepercayaannya penuh tapi kau tak akan pernah tau bagaimana caranya mengobati luka ketika itu tergores. Kecil katamu, dalam baginya.

Ketika ia menangis hingga lelah yang tak jua membuatnya tertidur pulas. 
Ketika ia terbangun setiap malam hanya karena himpitan rasa sesak. Ketika ia mengutuk kebodohannya sendiri karena membiarkan luka itu tetap tertelan. Tidak, bukan ia tidak tau hanya saja mungkin itu adalah caranya untuk membuang rasa kecewa.

Tidak ada yang pernah mengerti bagaimana caranya membuang jauh rasa sesak. Seolah airmata tak juga mampu membasuh luka. Seolah apa-apa saja yang ia lakukan tak juga menghilangkan resah.

Menyatukan hati yang pernah terbelah, dengan kepercayaan, dengan keyakinan jika masa kini jauh lebih baik dari lalu. Ia menjatuhkan hati padamu, untukmu yang hanya memegang setengahnya saja. Selebihnya? Terjatuh hingga lantai dengan sadar terinjak kepalsuan. Terbelah? Tentu tidak!. Sebab berkeping jauh lebih pantas disebut.

Sungguh betapa perihnya ketika harus merekatkan kembali hati yang terbelah kemudian berkeping. Tidak mudah, akan banyak air mata, akan banyak sesak dan akan banyak kebahagian terbunuh luka.

Ia tidak patah hati, tapi ia patah hati dan kehilangan semestanya.
Sungguh betapa agungnya ketika tak menyimpan rasa benci, sebab ujarnya

“Sudahi saja dan aku akan baik-baik saja tinimbang kau simpan hati lain yang justru akan menyiksaku jauh lebih hebat. Sebab akulah selama ini kisah terdekatmu dan aku pula yang paling mahir membaca arah sebagian hatimu yang tak lagi untukku. Tiada dendam, tiada sumpah serapah ataupun menyebar kabar. Sebab cinta tak utuh hanya akan membuatku semakin menderita dan kabar luka hanya mencoreng ketulusan yang pernah ku umbar. Biarkan senyap, biarkan menguap hingga aku lelah terluka dan mengobatinya sendiri.”

Berdirilah atas nama kejujuran untuk kesempatan kedua. Barangkali hati yang terluka mampu tersapu oleh saling memperbaiki, saling mengisi serta saling membuka mistery yang menjadi selimut untuk kisah lain. 
Jatuh cintalah kembali, tidak ada yang salah dengan saling memperbaiki, menyembuhkan.

Jika kamu tau caramu memberi jalan untuk ia masuk dan menanamkan cinta, mestinya kaupun juga tau caramu untuk menyudahi usikan dan membuat cinta itu kembali.



“Aku akan melengkapi bagian yang kurang, dan aku akan menyulam bagian yang rusak. Cinta bukan semata perkara rona merah tapi juga menjaga dan merawatnya.”

*ditulis untuk seorang teman yang mencoba untuk kembali saling menyembuhkan dengan cinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *