Cerita Bukittinggi (part 2)

Penampakan jam gadang yang saya ambil senja hari beberapa menit setelah tiba di Bukittinggi. Hanya menggunakan kamera hp.

Melanjutkan kisah mengenai perjalanan ke Bukittinggi, masih dengen mendengar instruksi-instruksi yang Bey berikan untuk saya. Dimulai dengan posisi saya berdiri harus membelakangi hotel dan pandangan ke arah jalan utama. Secara detail Bey menyebutkan arah-arah jalan dengan clue yang jelas. Tanpa menggunakan video call. Jelas saja dari clue distro, percabangan jalan serta posisi ATM dia dapat menyebutkan dengan jelas.
Tanpa banyak berpikir saya memutuskan untuk mencari posisi jam gadang melalui arahan Bey. Salah satunya “jalan di trotoar samping kiri ujung nanti nyebrang ambil kanan, ada patung Bung Hatta. Jalan aja terus tapi jangan ke arah Novotel. Nanti keliatan udah jam gadangnya. Kalau udah bisa keliatan bilang ya, jalan deh”.

Benar, tak lama setelah itu saya bersorak karena bisa menemukan jam gadang. Tentu saja dengan ekspresi senang dan menceritakan gambaran lokasi saat itu.
Saya segera mengabadikan beberapa foto jam gadang dengan pencahayaan yang minim. Instruksi berikutnya Bey menjelaskan letak ATM detail dengan jumlah uang yang harus saya ambil “jangan bawa uang cash banyak-banyak” :).

Perut terasa lapar saya memilih menikmati kuliner sate padang yang terletak tidak jauh dari jam gadang.
Selama saya santap malam Bey mematikan percakapan kami untuk mandi. Setelahnya ia terkejut mendengar saya harus membayar 22k untuk sate yang harusnya hanya 7k. Lantas Bey mengatakan “lain kali kalo mau beli apa-apa tanya dulu harganya supaya ga ngerasa terlalu di up gitu. Kalo masih wajar ya beli aja”.

Setelah itu saya hanya memutuskan meninggalkan jam gadang dan memasuki beberapa distro untuk melihat koleksi mereka. Sembari googling paket tour saya menyampaikan kepada Bey supaya tidak tersesat mungkin saya lebih baik menggunakan ajsa tour travel 350k dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Beberapa lokasi tujuan saya infokan kepada Bey. Jawaban Bey “ga usah! Mahal itu, letaknya semua deket situ aja ko. Besok ku kasih tau jalan-jalannya”.

LOS LAMBUNG
Hari berikutnya masih dengan arahan Bey saya berhasil menemukan Los Lambung, kawasan kuliner yang menyediakan nasi kapau dan cindua langkok. Sempat beberapa kali tersesat karena untuk menuju Los Lambung harus melewati pasar. Tapi sebanding dengan kenikmatan nasi kapau panas yang disuguhkan bersama segelas air hangat. Terasa lebih nikmat disantap pada cuaca Bukittinggi yang dingin. Untuk cindua langkok, saya sangat menyukai.

KEBUN BINATANG
Clue yang diberikan Bey tidak lain adalah melewati pasar hingga habis, kemudian bertemu dengan mesjid di ujung pasar juga dengan
“Kalo udah ketemu banyak penjual kacang goreng pasti udah deket”
“Ko kacang goreng cluenya ya?”
“Itukan makanan monyet, udah gitu monyetnya pinter buka kulitnya.”
Untuk kalimat dia yang terakhir saya meragukannya. Tapi memang benar banyak berjajar penjual kacang goreng sebelum gerbang depan kebun binatang. Koleksi hewannya tidak begitu banyak tapi dengan kondisi lingkungan yang sejuk merupakan tempat yang nyaman untuk berwisata. Beberapa hewan sempat saya abadikan dalam kamera seperti tapir, rusa serta burung onta.

MUSEUM
Untuk bagian ini saya tidak banyak menjelajahi koleksinya karena memang luasannya kecil dan hanya seputaran berisi koleksi binatang yang diawetkan serta pelaminan minang. Museum ini terdapat di rumah adat baanjuang.
JEMBATAN LIMPAPEH

“Udah dimana?”
“Jembatan Limpapeh, aku mau ke benteng Bey”
“Ya udah hati-hati ya, aku tidur sebentar jangan lupa mampir di jenjang seribu deket sana.”
Jembatan Limpapeh bagaikan menghubungkan dua perbukitan yang di pisahkan oleh jalan umum. Pemandangan dari jembatan Limpapeh sungguh mengesankan. Nampak perbukitan dengan beberapa rumah gadang menjulang di dekat bukit.
BENTENG FORT DE KOCK
Kawasan benteng yang dikelilingi oleh pohon pinus. Kesegaran udaranya sangat menyejukan dengan ciutan burung terbang bebas. Benteng yang berukuran kecil dengan letaknya di ujung bukit. Saya tidak memasuki bagian dalam benteng dikarenekan kedatangan saya berbarengan dengan rombongan anak-anak TK lengkap dengan mahmud socialita Minang. Saya hanya mengambil beberapa foto pada bagian luar benteng saja.

JENJANG SERIBU

Keluar dari lingkungan kebun binatang tentu saja saya menyempatkan diri singgah ke janjang seribu. Memang terlihat curam dari bagian atas posisi saya berdiri. Mengingat kaki yang sudah lelah saya memutuskan tidak untuk menepaki satu semi satu jenjang seribu. Cukup terpuaskan dengan melihat dari atas lintasan jenjang serta pemukiman yang terletak di bawah jenjang. Tidak salah kota ini dinamakan Bukittinggi. Dikelilingi dengan banyak perbukitan.

LOBANG JEPANG DAN NGARAI SIANOK

Perjalanan saya lanjutkan dengan mengendarai bendi ke Ngarai Sianok. Hari sudah tak lagi terik, suasana semakin dingin. Justru membuat saya merawa kawatir karena terlalu sore menyambangi Ngarai Sianok. Alhasil saya tidak berhasil mencapai Lubang Jepang. Konon Lubang tersebut adalah penjara pada zaman penjajajan Jepang. Sedangkan Ngarai Sianok menyuguhkan pemandangan ngarai-ngarai yang terhampar luas. Tebing-tebing yang membentang terlihat jelas. Sungguh Bukittinggi memiliki keindahan alam yang indah, berada di pusat kota.
“Abis ini mau kemana lagi?”
“Makan Bey”
“Cari yang cepet aja makannya, jangan ngetem lama-lama di taman ya nanti ada pengamen kalo ga dikasih uang bisa ngamuk”
“Iya, aku bosan nasi padang ih”
Jelas saja karena sudah beberapa hari santapan utama saya seputaran nasi padang dengan mencoba berbagai macam lauknya.

Cerita saya part 2, lain kali akan saya sambung dengan bagian akhir perjalanan pulang dari Bukittinggi. Informasi mengenai carter mobil murah, travel malam yang aman serta sanjay yang tersedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *