Tulisan Rindu

IMG_2541

Hujan, siang itu. Hectic di HO sebab harus menyambangi berbagai meeting di ruangan berbeda. Pindah antara satu gedung ke gedung yang lain. Tanpa ada ojek payung. Hujan yang turun begitu rapat. Seolah langit memuntahkan rasa rindunya kepada bumi dan memberikan cumbuan tiada henti melalui hujan.

 

Lelah, sore itu. Hanya bersandar menunggu di lobi sebelum memasuki ruang meeting berikutnya. Seingat saya itu adalah gedung ke tiga yang saya kunjungi. Tatapan saya nanar ke arah luar gedung yang hanya berbatas kaca bening. Beberapa orang teman mengajak ngobrol hal yang tak menarik, menurut saya. Terpaku seorang diri melihat hujan. Sebab dulu saya begitu menyukai hujan, hingga tag line blog tersemat kalimat “Mahakarya yang tercipta kala hujan”.

 

Bisa dibilang saya saat ini merasa tidak nyaman dengan hujan. Bukan karena hujannya namun hawa dingin yang mengiringi hujan. Tak ada sebab lain terkecuali alergi terhadap suhu dingin yang saya derita semakin memburuk. Terlebih jika perubahan cuaca menjadi dingin datang begitu extrim. Seketika pandangan saya tertuju pada benda kening yang hanyut terbawa arus air. Tanpa berpikir panjang saya berlari meninggalkan kerumunan obrolan menuju pinggiran median jalan. Ya, saya mengambil benda tersebut yang tak lain adalah mainan bebek plastik.

 

Bebek plastik kuning yang sering disertakan pada bak mandi anak kecil. Kontan saja semua pandnagan teman saya terpaku pada saya yang kebasahan. “Kamu lari keluar hanya untuk ambil mainan itu?” Tanya seorang teman keheranan. Seraya tersenyum saya jawab “Hehe… iya, kasian dia kehujanan”. Tanpa komando mereka serempak menggelengkan kepala. Saya masih disibukan dengan mengeringkan rambut dan baju menggunakan tisu.

 

Setelahnya saya mengeringkan bebek plastik itu. Ironis sekali, pada bagian bawah, tepatnya lubang suara milik bebek tersebut telah rusak. Hingga tidak dapat mengeluarkan bunyi seperti mainan bebek lainnya. Mungkin sebab itulah pemilik bebek membuangnya. Pada bagian kepala bebek terdapat noda hitam, sukar dihilangkan. Menjadi ciri khas unik untuk si bebek.

 

Sejak saat itu saya selalu membaw serta bebek tersebut dalam tas saya. Kemanapun saya berada. Bahkan ketika berlibur luar pulau, saya selalu membawanya serta. Tak jarang office boy kantor selalu menanyakan bebek plastik ini, “Biar saya mandikan mbak”. Memang karena saya tidak pernah memasukan bebek itu ke bak mandi saya.

 

Banyak kejadian seputaran saya dan bebek plastik. Foto berbagai tempat juga menyertakan bebek tersebut sebagai salah satu objek. Pernah suatu hari bebek tersebut hilang, kepanikan saya menyebabakan teman-teman kantor ikut serta mencari. Ternyata, tertinggal di rerumputan taman kantor setelah saya mengabadikan bebek tersebut dalam bentuk foto bersama bunga di taman. Pernah juga bebek tersebut hilang karena faktor kesengajaan dari atasan saya menyembunyikannya. Niatan bercanda yang berujung badmood bagi saya.

 

Suatu ketika saya berkunjung ke Pekanbaru. Entah kenapa saya meninggalkan bebek tersebut bersama seseorang. Dengan janji “Saya akan kembali lagi ke sini, dan saya akan mengambil bebek ini”. Benar, sebagai motifasi untuk saya agar bisa kembali menjejakan kaki di Pekanbaru. Sayangnya, semesta berkata lain. Saya tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk kembali menepaki Pekanbaru.

 

Jujur, saya sangat merindukan bebek plastik itu. Hampir dua tahun ia berada di dekat saya. Sudah berusaha mencari pengganti bebek-bebek plastik yang lain namun tidak memiliki kesan spesial. Hingga seorang anak teman memberikan bebek miliknya kepada saya. Awalnya saya begitu senang dan berjanji akan menjaganya. Tetap saja beda, bebeknya jauh lebih tipis dan berukuran kecil. Bibir bebek tersebut tidak semerah bebek yang pernah saya miliki. Saya simpan bebek baru itu. Tapi tidak pernah saya bawa serta kemana-mana.

 

Saya kehilangan bebek plastik itu, yang bukan sekedar mainan biasa. Aneh memang tapi benar adanya saya sangat merindukan bebek plastik milik saya. Menjaganya selama dua tahun tidak sekedar menjaga mainan biasa. Bisa dibilang bebek tersebuta dalah muse untuk saya. Untuk menanyakan keberadaan bebek itu kepada orang yang pernah saya titipkan sudah sangat tidak mungkin.

 

Saya bisa membeli, namun akan menjadi kesan yang tidak unik. Esensi yang berbeda menjadikan tidak sespesial sebelumnya. Atau barang kali ada yang mau member saya bebek mainan plastik? Saya akan menjaganya.

 

Sungguh, ini adalah tulisan rindu kepada mainan bebek plastik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *