Munajat ‘Hidupku’

Munajat cintaku padamu tak lekang oleh zaman.

Katamu cinta, jawabku iya. Katamu sedikit heran jawabku tetaplah disana dan kecap saja keindahan cinta. Tak usah bertanya untuk hal diluar logika karena cinta bekerja begitu istimewa bahkan tanpa akal yang kita sadari.
Katamu rindu, jawabku sama. Katamu tak mungkin, jawabku rindu adalah tasbih yang terwujud ketika hati melepas keinginan satu tujuan sama. Sujudkan saja dalam semesta yang akan menyampaikan pada doa baik.

Katamu temu, jawabku iya. Katamu kapan, jawabku bersabarlah. Ujung bungapun tak ingin cepat tumbuh agar tak mudah luruh. Bakda tutup bulan, pastikan saja kita bercengkrama pada senja yang menua. Pada alas pasir yang akan menyuarakan cemburu romantisme dalam kecupan hangat bibirku padamu, di bibir pantai.

Katamu setia. Ku munajatkan sebagai mukadimah dengan khatimah bahagia.

Katamu tak ingin patah, jawabku pun dengan ku. Katamu begitu berat, jawabku begitulah rindu yang terlahir pada hati yang sangat mencinta. Fasihkan tasbih rindu dalam aksara yang tak perlu lagi dilafal. Rindu perlu dituntaskan. Cinta perlu disiram soneta. Raga perlu didekap. Dan kamu, perlu ku patri.

Katamu terbentur dan kau akan lupa. Jawabku setia dan menjadikan ‘hidupku’ agar zaman tak pernah lagi merenggut apa-apa saja yang termakan waktu.

Khitbah saja cintaku, agar rindu makhthubah untukmu saja.

Risalah ku hanya padamu, peram sejenak untuk sebuah temu yang mustajab.

Kapan lagi aku bergulat dengan zaman hanya untuk ‘hidupku’.

Tetaplah Hidup, untukku.

This entry was posted in Poetry.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *