Punishment

Cerita ini sudah terjadi beberapa bulan yang lalu, ketika di kantor tempat saya bekerja terutama di bagian produksi sering terjadi kehilangan benda berharga baik dari perhiasan ataupun uang.

Loker karyawan produksi sudah disediakan namun terkadang ketika jam makan siang mereka tidak mengunci loker tersebut. Total karyawan produksi ada 60 orang dibagi 3 shift kerja, sedangkan kasus kehilangan hanya terjadi pada grup 1.

Beberapa info yang saya dapat jika tersangka itu adalah salah satu karyawati bernama melati (bukan nama sebenarnya). Jelas saja untuk tindakan kriminal di UU tenaga kerja akan mendapatkan PHK secara langsung.

Setelah mencoba mengumpulkan beberapa keterangan saksi akhirnya sore itu saya mencoba sharing kepada big boss karena menyangkut tindakan kriminal.

“Mereka bilang itu melati yang lakuin pak” ucap saya

“Kamu juga yakin?”

“Hampir banyak saksi begitu bilangnya pak”

“Apa usulan punishment kamu?”

“Seperti di UU tenaga kerja PHK”

“Semudah itu?”

Saya diam dan berusaha menerka apa maksud dari atasan saya.

“Berapa lama dia bekerja di sini?” Lanjut big boss

“Sekitar tiga tahun pak”

“Ok gini, saya mau ajarin kamu untuk peka terhadap orang sekitar termaksud bawahan kamu. Jika dari awal dia tidak pernah melakukan itu dan kali ini dia mencuri pasti ada hal yang mendorong dia untuk melakukan itu. Kenapa tidak kamu coba merubah dulu, beri kesempatan dia berubah dan cari tau alasan dia melakukan kriminal itu kenapa. Saya pikir bukti kamu masih belum kuat untuk menunjukan jika dia bersalah. Oiya satu lagi, saya pernahkan menyampaikan jika kesalahan seorang bawahan bisa dianggap sebagai kelalaian atasannya” big boss tersenyum.

Keluar dari ruangan beliau saya benar-benar seperti mendapatkan ilmu untuk belajar lebih peka dan peduli terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita. Akhirnya sore itu untuk semua karyawan produksi saya kumpulkan jadi satu di pabrik untuk mendapatkan brefing dari saya.

Inti yang saya sampaikan jika saya menerima beberapa pengaduan mengenai beberapa karyawan yang kehilangan uang serta perhiasan. Saya juga menyampaikan jika tersangkanya jelas salah satu di antara mereka. Saya membuka pintu lebar-lebar jika ada yang ingin mengakui tindakan kriminal tersebut dan sebisa mungkin akan saya usahakan untuk tidak di PHK.

Saya kasih waktu dan pengampunan jika ada yang mengakui tindakan tersebut. Tapi jika tidak ada yang mengakui maka saya akan cari bukti yang lebih akurat dan setelah ini masih juga mengulangi perbuatannya maka saya akan tetap PHK tanpa pengampunan.

Ketika selesai breafing saya meminta beberapa orang tekhnisi memasang CCTV secara tersemunyi di beberapa area termaksud ruangan saya.

Empat hari terlewati, tidak ada terdengar kehilangan dari karyawan. Tepat di hari jumat setelah jam istirahat saya kembali ke ruangan dan mendapat info dari OB jika melihat melati memasuki ruangan saya.

Dan benar, rekaman dari CCTV terlihat melati mengambil sejumlah uang dari dompet saya di dalam tas. Bukti rekaman langsung saya berikan ke HRD dan kasusnya mereka proses.

Saya meminta kepada HRD untuk menyerahkan sendiri surat PHK melati. Awalnya melati tetap tidak mengakui perbuatannya akhirnya saya tunjukan bukti rekaman CCTV. Melati menangis di hadapan saya dan memohon ampunan.

“Telat, kan saya sudah peringatkan dari awal saya kasih kesempatan tapi kamu gak datangin saya buat akui”

“Maaf mbak saya malu”

“Malu kenapa? Kamu karyawati terbaik tapi tiba-tiba melakukan ini. Sejak awal saya kasih tau kalo ada masalah bilang biar saya bantu”

“Kondisi saya kepepet mbak, saya cerai dari suami jadi harus bayar rumah kontrakan sendiri, bayar kredit motor, ibu saya lagi sakit tidak ada uang buat ke dokter, anak saya baru umur dua tahun kalo saya kerja harus nitip sama orang itu juga bayar mbak. Gaji saya habis, buat makan juga ga ada”

Saya tinggal melati di dalam ruangan dan saya menuju toilet, di dalam toilet saya menangis sederas-derasnya. Sungguh, tidak ada kuasa lain dan memang PHK tetap jatuh ke tangan Melati.

Semua perkataan Melati benar, saya sudah coba cek ke rumah dia. Saya memang memberikan PHK kepada melati tapi saya bantu dia untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain dan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Saya bantu dia mengurus BPJS untuk ibunya. Saya bantu dia untuk pindah ke bedakan yang lebih murah. Hanya itu, tapi sekarang anaknya di asuh oleh mertuanya. Setidaknya Melati tidak terlalu terbebani.

Saya ceritakan semua itu kepada big boss saya dan dengan senyum beliau berkata

“Fa, itu yang saya mau kamu lebih peka karena jika seseorang yang awalnya baik menjadi tidak baik pasti dia punya alasan kuat untuk melakukannya. Tugas kamu untuk lebih dekat sama bawahanmu sendiri agar tak terulang dengan orang yang berbeda. Kamu menyesal udah PHK dia?”

“Tidak pak, karena saya sudah coba kasih 1 kali kesempatan dan pengampunan tapi dia tidak gunakan itu malah mengulangi kesalahannya”

Iya, beliau atasan saya tapi beliau juga guru saya yang tidak pernah bosan memberi pelajaran tentang kehidupan. Bahkan ilmu bisa di dapat dari sekitar kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *