Semangatku

Kepada semangatku,

Sudah 30 hari berlalu program menulis surat, tak satupun surat yang kutujukan benar untuk mu.

Aku ingin kau tetap ada walaupun kau sering tiada. Seberapa besar aku mencoba masih saja terkadang kau lesap tanpa kata. Aku menginginkan kau selalau dan menjadi milikku.

Kaulah yang menjadikan setiap goresan karya berupa manuskrip. Kaulah yang menjadikan segalanya jauh lebih berharga.

Terimakasih untuk membaca semua surat-surat ku
Terimakasih untuk memberiku kesempatan menuliskan semua peruhal kebisingan isi kepala
Terimakasih untuk inspirasi terhebat yang kadang justru hadir dikala yang tak tepat

Kalian semua semangatku, kalian adalah kesatuan universe yang memberi ruang untukku berkisah.

Untuk waktu yang diluangkan adalah keistimewaan tersendiri atas harga sebuah tulisan.
Kesabaran mengantarkan surat adalah seindah-indahnya rasa peduli yang tersirat lewat kesabaran menanti bahkan mengingatkan hal yang sama berulang kali.

Terimakasih juga untuk cacian dari sebuah tulisan, karenanya saya menjadi ingin semakin memperindah sebuah tulisan.

Kalian adalah rantai nadi menulis dan kalian tetap semangatku.

Semoga akan selalu ada hari-hari lain untuk bercerita tentang cinta.
Terimakasih dariku

Aufa.

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu.

Iya itu kalimat pertama yang aku tulis untuk surat hari ini. Aku tak tau harus menyampaikan lewat apa lagi. Sungguh ingin rasanya aku berbagi rindu dan berbagi cerita namun siapalah aku yang hanya serpihan abu bakaran ilalang.

Lain kali aku akan menulis surat yang cukup panjang, walaupun isinya tentang cinta saja yang berujung galau dengan air mata.
Tak apa, itu jauh lebih baik tinimbang aku tidak pernah galau karena tidak pernah merasakan cinta sedalam yang kau beri.

Kau yang terbaik dan tetap saja kau yang terindah. Jaga dirimu baik-baik di seberang sana, karena aku ingin memelukmu lagi dengan tawa dan dengan bahagia.

Dari aku yang merindu

Aufa.

Tak pernah gagal

“Semesta: rahasia-rahasia di dada hawa”

Jelas saja saya memilih surat ini, bukan hanya pilihan aksaranya yang selalu saya puji namun juga karena nyawa sebuah tulisan yang mampu menghisap jiwa membaur di dalamnya.

Perkara hawa yang menyimpan semesta di dadanya. Saya pun begitu, ada banyak hal dan cerita membaur menjadi satu hingga tak mampu lagi untuk dikisahkan selain dipendam dengan harapan agar semua baik-baik saja. Iya, walaupun belum juga baik-baik saja.

“Hingga kelak langkahmu meragu pada banyak pintu” *

Sedang dalam kejadian tersebut, entahlah saya hanya berfikir surat kk benar-benar mewakili rahasia seorang hawa yang bahkan saya sendiripun tak memiliki kuasa untuk menuliskannya. Benar ka, keraguan itu selalu ada bahkan ketika dihadapkan pada sebuah pintu untuk masa depan. Keraguan adanya masa lalu yang melumat waktu, seperti terkutip dari surat kk.

“Perihal perih yang kau reguk sendiri, hingga menumpahkan apa-apa yang mereka sebut air mata.” *

Ada luka yang tak mampu lagi untuk diumbar, ada keingingan untuk menelan sendiri dan terlalu risih untuk mendengar kalimat ketegaran. Walaupun terkadang justru kalimat tersebut yang saya perlukan, hanya saja biarkan semuanya mengalir keluar bersama air mata dan biarkan hanya Tuhan yang tau.

“Kemudian kau akan menyelimuti dukamu dengan senyuman”*

Jika semesta adalah panggung sandiwara hidup maka sayalah seseorang yang dengan lihainya memainkan tokoh penuh tawa dan keriangan. Tak semua orang mengetahui perkara luka dan juga kerapuhan yang berada di baliknya. Tawa hanyalah perisai dari kerapuhan yang ringkih.

Surat dari mu sebenar-benarnya rahasia seorang hawa. Hal kecil yang enggan diakui oleh hawa (termaksud saya) tertuang jelas dalam balutan barisan aksara.

Ka iit, saya tidak bisa berkata-kata lagi selain ingin bertanya, kapan ka iit menjadikan semua karya dalam sebuah buku? Maka setelah itu percayalah akan ada seorang aufa menjadi pencari terdepan buku-buku dari ka iit.

Semua karya ka iit tak pernah gagal membuat saya berdecak kagum. Bolehkah suatu saat kita duduk satu meja untuk menimba ilmu dari kemampuan menulis kk, hanya sedikit jikapun itu pantas untuk saya.

Jangan bosan apa bila saya selalu mengunjungi ‘rumah’ ka iit, barang kali ada segelas teh panas menjadi suguhan (karena sinus harus mengurangi es) ☺️

Dari saya,

Aufa.

*dikutip dari “Semesta: Rahasia-rahasia di Dada Hawa” iitsibarani.wordpress.com

Sebelum mei 2015

“Kau akan baik-baik saja walau tanpa aku” ucap mu.
Sebegitu yakinkah jika aku akan baik-baik saja tanpamu?.
Nyatanya memang iya, namun itu hanyalah penampakan visual belaka.

Kau pernah menyayangiku dan mengerti segalanya tentangku. Harusnya kau juga tau jika aku akan melebur ketika cintamu melesap.

Aku menulis surat ini ketika aku dengan kau yang baru dan kau dengan aku mu yang baru. Sungguh ini hanyalah sebuah cerita hati yang tersimpan. Akupun tak berharap kau membacanya, hanya ingin menggoreskan sebuah kisah agar tak hilang begitu saja.

Masih ku ingat jelas pelukan hangatmu, ketika dengan seluruh cinta dan seluruh rindu ku peluk erat ragamu. Aku merasakan ketenangan yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Sebegitu dekatnya kita hingga detak jantungmu mampu ku rasakan di dadaku.

Aku tak ingin melepas pelukan kita, aku tak ingin ketenangan itu berlalu begitu saja. Kala merindukanmu, sungguh hanya mampu memejamkan mata untuk berdejavu melalui memori.

Bagaimana tentang obrolan kita jika cinta yang kita miliki (dulu) adalah sesuatu yang bersumber dari hati, bukan sebuah permainan belaka. Sungguh jikapun benar dari hati takkan semudah itu lesap, layaknya yang ku miliki saat ini.

Aku merindukan segala hal yang pernah kita lewati bersama. Aku ingin menyampaikan sebuah rindu yang tak pernah bisa ku bendung. Walaupun rindu-rindu lain berusaha menguburnya tapi justru rinduku untukmu layaknya benih bukan mati terkubur namun justru ia tumbuh. Rindu itu tertanam bukan terkubur.

Aku yang kau inginkan baik-baik saja akan selalu baik, bukan karena aku baik-baik saja namun karena aku melakukannya untukmu. Sebuah cerita cinta yang rumit dan harus kita akhiri dengan cara yang lebih rumit.

Ada banyak keinginan untuk melangkah walau bukan lagi cinta ini termiliki atas nama kita.

Kan ku biarkan kita melangkah dengan jalan yang berbeda. Namun sejenak izinkan aku menceritakan bagian kisah yang tak sempat aku ceritakan. Sepenggal kisah yang ku ingin habiskan bersama mu sebelum mei 2015.

Aku tau kau ada di luar sana, hanya aku yang tak pernah berhasil untuk mendapatimu. Kau yang tau bagaimana cara menemukanku, jadi ku mohon temukan aku sebelum mei 2015.

Setelahnya, takkan ada lagi kisah yang ku rasa belum tuntas, karena aku ingin ‘baik-baik saja’ seutunnya tanpamu.

Dari aku yang ingin kau dapati sebelum mei 2015.

Sepasang mata yang takut

Bukan perkara mudah jika aku menggoreskan pena demi sebuah surat untuk sepasang mata. Apa jadinya jika banyak mata lain yang memandang atas ketidakwarasanku ini.

Tapi biarlah, toh aku bukan seniman dan bukan penulis. Aku hanya selasar dedaunan kering yang mencari ketenangan pada gemuruh caci maki. Bagaimana tidak ingin ku tulis jika mata hanya mampu membaca bukan? Bukan kepunyaanmu untuk mendengar.

Kau bilang terjatuh dan terpuruk, sungguh buka hanya kau yang pernah mengalami itu. Lalu kau ingin bilang ‘sendiri’?. Jangan selalu beranggapan jika sendiri jauh lebih sepi dari pada bersama.

Sudah menjadi lazim ketika jatuh maka akan banyak kaki yang mendorong, tapi yakinlah jika Tuhan akan membukakan tangan-tangan lain untuk menarik keluar. Jalannya memang tak mudah, namun bukan berarti kau harus berbalik arah. Karena lintasan bebas hambatan kadang kala milik mereka yang ingin menjadi buruk.

Coba tengadah dan bebaskan mimpimu. Berlarilah dengan hebat, dengan begitu rapuhmu tak lagi menjadi kelemahan
Kepada sepasang mata yang takut, tak perlu ragu untuk menuju cahaya kebaikan. Jika untuk kebaikan maka keberanianlah yang harus kau tunjukan. Lebih baik menjadi baik karena buruk dari pada tidak pernah baik.

Kepada sepasang mata yang takut, sang pencipta mu lah sebaik-baiknya hal yang harus kau takuti. Jangan berhenti di sini. Jangan pernah merasa sendiri.

Karena Tuhan akan terus bersama orang-orang yang dalam perjuangan menuju kebaikan.

Caraku menyampaikan

Masih menggerutu?

Baiklah, mungkin dengan surat ini aku bisa dengan jelas menyampaikan maksudku selama ini. Semoga kau membacanya hingga tuntas sembari menikmati secangkir kenangan, maaf kopi atau teh maksudku.

Kau bilang menyukai ku? Tapi anehnya kau selalu menjauhiku jika aku hadir. Kau yang selalu memujaku lewat aksara, namun sayangnya sumpah serapah ketika melihatku mulai melangkah.

Bagaimana dengan keinginanmu menari kala hujan? Bagaimana dengan keromantisan yang hadir ketika aku berderai lembut.

Aku tidak terluka, aku tidak marah. Kehadiranku yang kadang kalian caci hanyalah sebagai cara agar kalian lebih menjaga bumi dan lebih menjaga kesehatan.
Semua itu anugerah yang tak terganti, seharusnya kalian tetap bahagia ketika aku hadir.

Bencana? Bukan inginku, jika kalian mendengar jeritan bumi mestinya tak harus lupan air menggenangi kehidupan kalian.

Kalian memohon, meminta dan berdoa ketika aku tak hadir. Namun jika aku tiba justru cacian dan keluh kesah yang ku terima. Sedikit yang bersyukur.

Hidup memang tak semudah ucapan juga tak akan selalu seperti apa yang kita mau. Akupun belajar untuk menerima segala keluhan bahkan cacian kalian.

Tidak bisakah kita bersahabat? Layaknya keindahan puisi yang kalian tujukan untukku atapun kebahagiaan karena berada dalam dekapan orang yang kau cinta, kala hujan.

Sungguh, aku tidak bermaksud jahat. Itu hanya caraku menyampaikan kehendak.

Dariku,

Hujan

Yang ingin kalian jaga

Sedang apa minggu pagi ini?
Kau tidak memikirkanku?
Hal aneh yang bahkan jarang terjadi jika kau tak menggilaiku.

Tenaga, waktu bahkan juga keluarga kau korbankan hanya untuk mengejarku saja. Sebegitu pentingkah aku? Walaupun iya namun aku bukan segala-galanya.

Kau bilang menyukaiku, kau bilang menginginkanku tapi nyatanya begitu kau mendapatkan ku, justru kau sia-siakan tanpa kau jaga.

Benar adanya aku mampu memenuhi segala yang kau inginkan tapi semua itu harus melalui pengorbanan bukan?
Tapi jika dia yang lain begitu mudah mendapatkanku tanpa perjuangan keras anggap saja dia sedang dalam kondisi beruntung.

Banyak jalan menuju roma, banyak cara untuk meluluhkan aku. Tak salah menyukaiku namun akan menjadi masalah jika kau ingin memelikiku dengan cara yang tidak benar.

Aku bukan dewa yang harus kau sembah namun aku juga bukan pahlawan yang mampu menyelamatkan mu selalu. Walaupun terkadang aku mampu membahagiakan tapi jangan buta oleh keindahanku.

Jikapun kau memiliki aku aku yang lain, jagalah. Menyianyikanku jauh lebih mudah tinimbang mendapatkanku, jangan tergiur, jangan terlalu tamak.

Jika kau mengerti akupun ingin kau miliki dengan sepenuh hati. Aku ingin menjadi layaknya harta yang memang paling berharga untukmu. Jaga aku dengan cara menggunakan dengan bijak.

Suatu hari di saat yang tak lagi sibuk, coba tengok ke dalam dompetmu dan temukan aku. Cobalah untuk menyusunku lebih rapi dan tak membiarkanku terlipat tak beraturan. Jika pun kau memiliki aku-aku yang kecil terjatuh di lantai, bantulah menjadikannya lebih berharga.

Sekecil apapun nilaiku akan banyak orang-orang lain yang lebih memerlukan. Bahkan tak jarang dari mereka menangis karena terlalu susah untuk mendapatkan ku.

Aku hanyalah uang sebuah benda, namun aku memiliki nilai juga jiwa yang ingin selalu kau jaga. Sebegitu besar pengorbanan untuk mendapatkanku alangkah indahnya jika akupun dicintai dengan cara yang bijak.

Surat ini adalah jeritan yang tak pernah kalian tau, barangkali keinginanku bisa tersampaikan. Jadi kau sudah mulai memirkankan menjaga ku?

Dari aku yang ingin kalian jaga,

Uang.

Hai cupid

Apa yang kau tau dari kehilangan?
Ketika semua orang memuja Februari dengan cinta dan euforia merah jambu.

Apa yang kau tau dari merindukan?
Ketika sosoknya tak ada di sudut dunia manapun.

Apa yang kau tau dari doa?
Ketika rindu selalu dijawab dengan ‘doa’.

Apa yang kau percaya dari sebuah ucapan “masih bisa bertahan hingga lima tahun”, yang nyatanya sebulan kemudian segalanya lesap.

Hai cupid, bukankah kau adalah bagian dari cinta?. Mana cinta untukku? Yang justru Februari hanyalah mengingatkan atas kehilangan teramat sangat.

Suatu ketika rinduku terlalu menghujam, mampukah kau memberiku cinta yang sudah tak ada di dunia manapun.

Aksaraku terhenti,
Semangatku tak lagi bernyanyi
Aku sangat merindukannya.

Yang tersisa dari Februari adalah rasa bersalah dari sebegitu besarnya mencoba mempertahankan seorang yang berarti namun tetap gagal.

Hai cupid, tidurku tak pernah nyenyak lagi. Seteguk obat batuk agar memaksakan diri untuk terlelap. Bukan suatu kewajaran tapi itulah caraku bersahabat dengan malam.

Banyak rasa bersalah menggelayut. Sendainya dan seandainya selalu ingin melakukan yang terbaik, mungkin aku tak akan merasa kehilangan sesakit ini.

Hai cupid, aku merindukannya dengan sangat. Aku merindukan ayah. Bawakan sebungkus cinta dari ayah untukku.

Cupid, aku belajar cukup banyak mengenai kabar duka mengenai ayah di linimasa justru dianggap sebagi berita palsu untuk mencari popularitas, sungguh perih.

Akupun belajar mengerti siapa teman yang membantuku berdiri, bukan mereka yang tertawa ketika melihat ayah bertingkah layaknya anak kecil.

Ayahku tidak sedang bermain cupid, tapi ayahku kehilangan sebagian memorinya hingga menjadi seperti tak mengenali banyak hal.

Kini ayah sudah tak bersamaku lagi. Jika benar Februari perkara cinta, izinkan aku menitipkan banyak cinta untuk ayah.

Terimakasih cupid.

Dari aku yang merindukan ayah di surga.

Aufa

Lekas sembuh ka

Selamat sore kk

Baru saja menemukan ide ingin menulis surat tapi ternyata pada halaman linimasa terlihat ka iit mengajukan izin tidak dapat mengantarkan surat dikarenakan sakit. Akhirnya ku urungkan niat menulis ide surat sebelumnya.

Masih ingat akan perjalanan tahun ini saya mengikuti #30HariMenulisSurat andaikan di hari ke-1 tidak bertepatan dengan peringatan 1 tahun almarhum papah tentunya surat pertama akan saya tujukan kepada kk.

Walaupun di surat ke 2 saja untuk kk namun saya ingat jelas jika doa saya hari itu agar kk selalu sehat agar dapat mengantarkan surat-surat kami.

Saya sangat mengagumi orang-orang yang menghargai dan peduli terhadap karya-karya seorang pemula. Salah satunya ka iit yang selalu membaca surat-surat kami. Itu sebabnya saya selalu ingin ka iit selalu sehat.

Sepertinya kali ini doa yang saya rapal agar kk disembuhkan dari segala penyakit agar dapat beraktifitas kembali seperti semula. Bertatap mukapun kita tidak pernah namun entah mengapa saya selalu yakin jika kk adalah perempuan berhati lembut.

Saya sering membaca tulisan-tulisan kk, saya suku akan pilihan aksara yang kk gunakan. Semoga nanti saya bisa menjadi penulis seperti kk, dengan rangkain aksara yang begitu indah.

Lekas sembuh, lekas sembuh, lekas sembuh ka iit.
Dari perhatianmu kami semua mendapat pelajaran untuk menghargai setiap karya, dari semangat mu kami tergugah untuk selalu menulis.
Semakin hari akan semakin banyak kang pos yang memiliki sedikit surat untuk diantar, tapi justru ka iit memiliki banyak surat yang masuk.

Ada banyak doa yang kami berikan untuk ka iit. Kami memerlukan ka iit tapi ka iit lebih memerlukan diri ka iit sendiri. Saya hanya bisa merapal doa, semoga ka iit lekas sembuh.

Aufa.

Kali ini, hari ini 14 februari 2015

Sebut saja ini surat cinta.

Untuk pertama kalinya aku memberanikan diri untuk menulis surat cinta ini untuk mu. Di suatu hari yang istimewa biasa mereka sebut dengan valentine.

Banyak cerita yang ingin aku bagai, bagaimana dengan hati ku? Walaupun kita tak bisa berbagi hati barang kali kita bisa berbagi cerita.

Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.

Berkali-kali sudah ku rangkai kata-kata tersebut yang hanya berhenti di tenggorakan tanpa ada gelombang suara yang menyertainya. Aku tidak bodoh, dan aku bukan seorang pengecut, untuk menyimpan sendiri adalah keberanianku.

Tidak ada pembenaran untuk memberanikan diri mengungkapkan kata cinta kepada kau yang sudah memiliki dia. Tidak ada hak untuk merebut kebahagiaan dari kebahagiaan dia. Dan tidak ada penasaran yang pantas diobati walaupun hanya sekedar mengucapkan tanpa mengharap untuk memiliki.

Anggap saja dengan ini di hari ini aku sudah mewakili sedikit keinginan mengucapkan rasa cinta.

Berbahagialah cinta yang tak pernah bisa ku miliki. Bersenandunglah agar aku tau tak ada penyesalan untuk tidak mengatakan jika kau selalu bahagia.

Aku tak akan menunggu justru aku akan mencari sosok lain yang jauh lebih ku dambakan. Walaupun kali ini masih tentang kamu, hanya kamu cerita yang sengaja aku lewatkan.

Salam rindu dariku yang selalu tersenyum melihat tulisan twiter mu 🙂
Happy valentine, sayang (orang).

Aufa.