Aku yang meragu

‘Apa kamu akan tetap menjadikan aku istrimu jika aku tidak bisa masak?’

Kau tersenyum dan memelukku erat. Rasanya pantas jika hari ini aku ingin menyampaikan sesuatu yang tak pernah bisa ku ungkapkan secara langsung.

Sengaja aku tulis surat ini, untuk menyampaikan segala hal yang tak pernah bisa secara langsung aku ungkapkan. surat yang menjadi ungkapan dari seorang perempuan yang sebegitu besar dicintai oleh mu.
Jika boleh aku mengatakan, sungguh aku sangat menyukai caramu memperlakukanku. Kelembutanmu, perhatianmu dan segala macam kesabaranmu untuk menerima aku.

Iya, menerima aku apa adanya. Tidak seperti aku yang masih ragu untuk mengikat tali pernikahan denganmu. Bukan karena kamu tapi karena aku yang masih merasa ada hal yang belum tuntas.

Sesungguhnya bukan sekedar menguji ketika aku menyebutkan semua kekuranganku, tapi seperti aku selalu mencari hal yang tak kau sukai dariku. Agar kau pergi, agar kau meninggalkanku.

Namun hingga kini tak pernah kau berlalu.

Sebesar itukah cintamu kepadaku? Atau hanya sebagai sebuah siasat agar bisa meluluhkan hatiku?

Bukan tentangmu, tapi akulah yang meragu.

Mungkin sedikit waktu dalam jarak atas nama sendiri, mampu menjawab ragu dalam hati.

Untukmu lelakiku, segala maaf yang keluar dari hati. Bukan karena tak ingin melangkah bersama namun aku takut melukaimu. Melukai hati yang tulus.

Tidak ada yang salah, karena aku yang memang meragu.

Aufa.

Rindu yang rumit

Aku tidak tau harus memulai dari mana untuk proyek menulis surat tapi aku tau harus kemana mengirim surat. Walaupun sebenarnya aku tidak tau juga alamat yang ku tuju tapi aku tau untuk siapa surat ini akan kuberikan.

Rumit? Memang, tapi tak serumit rasa rindu yang tak pernah bisa disampaikan. Mereka selalu menjawab ‘doakan’. Iya, aku berdoa dan ternyata tidak ada hal yang mampu mengurangi rasa rindu ini. Mungkin sejatinya doa dan rindu adalah hal yang terpisah.

Aku sudah berkali-kali menyibukan diri agar tak sesak ketika mengingat semua. Sesungguhnya kesibukan hanya menipu sejenak dan akan terus hadir ketika berhenti melakukan rutinitas itu.

Bukan perkara mudah perkara rindu kepada seseorang yang sudah tidak ada di sisi, bahkan tidak ada di belahan bumi manapun.

Hingga aku menemukan kata ikhlas, iya aku ikhlas atas kehilangan. Aku ikhlas atas rindu yang tak pernah bisa ku sampaikan. Aku ikhlas melepas kepergian ayah ke surga.

Mengobati rindu dengan ikhlas? Jujur, itu tidak berhasil. Namun setidaknya tidak terasa berat di hati dan dengan nafas yang lebih melegakan.

12:07 wita dini hari setelah acara peringatan kepergian ayah, aku menulis dan aku menangis.

Ayah, terimalah cinta yang begitu berat dengan rindu dari anakmu.

Aufa.