Dora ke inggris

Kenapa harus ke inggris?

Mungkin ini sebuah pertanyaan yang memberi saya kekuatan untuk menulis setelah berhari-hari lamanya seluruh perkara aksara berkecambuk dalam kepala. Profesi yang saya geluti saat ini sebagai surveyor di suatu perusahaan tambang batu bara. Seorang perempuan (yang sering mereka juluki dora smax ring, karena selalu memakai ransel yang di dalamnya tidak pernah ketinggalan smax ring) dengan basic pendidikan bukan dari pertambangan ataupun geologi. Tapi memegang prinsip learning by doing dan inilah saya mampu bertahan dalam dunia kerja yang tak semua perempuan sanggup menjalani.

Bertemu berbagai macam bentuk keindahan flora dan fauna alam bebas sudah menjadi suguhan utama setiap perjalanan menuju lokasi tambang. Bukan hal yang aneh jika saya menemukan kejadian-kejadian luar biasa ketika menyusuri jantung pulau kalimantan.

Inggris?
Bukankah menjadi petualangan luar biasa jika saya yang terbiasa bergulat dengan naturalnya indonesia lalu berpetualang ke negara penuh dengan keindahan wujud peradaban kemajuan manusia seperti inggris.
Sejujurnya saya bahkan tidak pernah tau detail lokasi inggris, tapi bukankah teknologi semakin canggih. Tidak menjadi perjara besar untuk saya learning by doing juga perihal inggris.

Akan banyak kisah tertuang dari petualangan di inggris (semoga saja saya pemenangnya) dan barang kali semesta akan ikut berdoa agar saya bisa menjadi bagian dari inggris.
Setidaknya saya juga berharap semesta akan mengembalikan akun twiter @VickaCher milik saya kembali ke tangan saya dan berpetualang ke inggris.

Apapun itu, saya ingin ke inggris.

20140601-120430 AM.jpg

* untuk mengikuti lomba #InggrisGratis *

Ada yang salah?

Tiara Adinda Dharmadiani, ada yang salah dengan namaku?

Tentunya ada, jika nama itu aku sandang. Hanya saja aku berpikir harusnya seorang perempuan secantik ka Hanna yang memiliki nama itu. Sungguh paduan yang tepat jika ‘Tiara’ adalah perempuan yang cengeng dan menyukai warna merah jambu. Bukan seperti aku yang penuh dengan lompatan-lompatan seperti hentakan bola basket di arena pertandingan.

Jangan lagi ada kata-kata apalah artinya sebuah nama, jika tidak berarti apa mungkin aku boleh setiap hari mengganti nama sesuai dengan keinginan hati. Tanpa ritual seribet pemberian nama pada anak bayi tentunya. Hal itupun baru aku tahu dibuku pelajaran seni budaya.

Ka Hanna pernah berjanji akan mengajakku bermain di salah satu percetakan majalah tempatnya bekerja. Sepupuku yang satu itu tidak pernah absen memberi perhatian kepada ku setiap kali papah dan mamah mulai saling lempar umpatan dalam pertengakran mereka.

Tiara Adinda Dharmadiani, ada yang salah dengan namaku?

Tentunya ada, jika nama itu adalah seorang adik dari pria bernama Fathan. Dimana salahnya untuk seorang mahasiswa aktif di dunia seni dan menjadi pujaan banyak perempuan? Aku akan memberi tahu kesalahannya pada romansa cinta kakak lelaki ku itu pada pacar seseorang.

Jatuh cinta memang tidak dapat kita hindari, dan jatuh cinta pada pacar orang walaupun sebagai kesalahan tapi sepertinya bukan hal aneh lagi. Tapi bagaimana jika kakakku itu jatuh cinta pada Barry yang sudah memiliki kekasih. Tidak cuma satu kali aku melihat mereka bertukar kecupan di balkon belakang. dan sayangnya lagi Barry adalah kekasih Hanna.

Menurutku hanya alasan saja Barry membelikan makanan cepat saji dengan rela mengantar ke rumah tanpa aku minta. Tujuan utama agar Hanna tidak curiga atas pertemuannya dengan Ka Fathan lagi lagi dan lagi.

Tiara Adinda Dharmadiani, ada yang salah dengan namaku?

Tentunya ada, jika aku selalu berusaha untuk menjodohkan Retno dengan Ka Fathan. Aku membenci Barry yang telah melukai Hanna dan aku membenci papah satu level lebih tinggi dari yang aku beri ke Barry. Sungguh mudah para pria mempermainkan hati perempuan.

Sebelum aku membenci Ka Fathan, barang kali Retno adik tingkat Ka Fathan bisa melunturkan niat kecilku atas kebencian sebelum terkarang. Apa kurangnya seorang Retno yang selalu mendapat peran protagonis ketika pertunjukan teater kampus Ka Fathan, dia anggun sungguh terlihat dari tutur bahasanya.

Sesungguhnya aku tidak menyukai seni drama, namun demi mendekatkan diri dengan calon pacar Ka Fathan aku selalu bersemangat menonton pementasan mereka. Oiya, pernah juga kali itu Retno mengajakku mencicipi semangkok mie ayam di dekat kampus mereka. Bukan karena rasa, tapi karena kelembutan Retno membersihkan noda saos di sudut bibirku dengan tisu.

Tiara Adinda Dharmadiani, ada yang salah dengan nama ku?

Tentunya ada, jika benar adanya aku menyukai Retno dan benar juga adanya aku berusaha menjodohkan Retno dengan Ka Fathan tak lain agar aku selalu dapat bertemu dengannya. Untukku bukan untuk ka Fathan. Ada yang salah?

—- end —-

* FF sebagai partisipasi #KuisUltah menggabungkan beberapa tokoh dengan karakter yang sudah ditentukan *

Perkara hari

Hari ini… Tepat di hari ini,
Hanya ingin berdejavu melalui elegi sebuah lagu.

Hari ini… Tepat di hari ini,
Hanya ingin menyimpan rapi walaupun tak pernah juara melewati sepi.

Hari ini… Tepat di hari ini,
Semesta bercanda, mengulas mimpi seperti kenangan tanpa jeda. Juga membutirkan banjir pelupuk mata hingga sukar reda.

Hari ini… Entah kapan
Ingin ku terbangkan segala resah yang tak pernah tau akan memerah terluka setelah berdarah.

Hari ini… Entah kapan
Tidak lagi ada diam sebagai benteng pemulihan luka mencekam. Hapuskan masa silam walaupun tak semua kelam.

Hari ini…
Ajari aku berkemas
Itu saja.

Perkara seperti

Seperti halnya dengan jatuh cinta, patah hatipun memiliki caranya sendiri untuk terobati. Tidak dapat dipaksakan dan juga tidak dapat ditutupi.

Seperti halnya dengan jatuh cinta, patah hati mengguncang kebiasaan normal, nafsu makan berkurang, aktifitas seketika ingin dihentikan dan bertahan masih tentang dia

Seperti halnya dengan jatuh cinta, patah hati memiliki kadar sendiri tak mesti hubungan hanya sebentar akan menimbulkan luka yang lebuh sedikit. Karena semua berhubungan dengan ‘rasa’

Seperti halnya dengan jatuh cinta, logika tak lagi bekerja ketika rasa meraja. Entah pantas atau tidak menurut logika tetap saja sang rasa merasakan kesedihan terulur waktu demi waktu

seperti halnya dengan jatuh cinta, kadang hanya dia yang tau sebesar apa sayatan luka dikecap setelah manis cinta gugur pada mahkota hati

seperti halnya dengan jatuh cinta, rindu membuncah semakin tak terkendali berbaur dengan luka, sayangnya.

Seperti halnya dengan jatuh cinta, bukan yang pertama tapi selalu menjadi yang ‘ter’ ….

Seperti halnya dengan jatuh cinta, hanya waktu.

Perkara semauku

Sebisaku mencoba mencintaimu dengan segala kerendahan agar kau semakin mencintaiNya dengan segala ketinggian kuasa.

Semampuku memberikan yang terbaik walaupun sesuka hati garis finish menentukan keberadaannya

Sejiwaku menanamkan kepercayaan jika hati tak pernah berpaling agar rumah ternyaman tetap hatiku menjadi utama mu

Seseringku menyirami pekarangan rindu agar tak nampak kerontang ketika jarak menanduskan jumpa

Setauku begitu besar cinta sederhana yang kau hadiahkan padaku,
sesederhana alasan untuk meninggalkan ku juga

Sebodohku meyakini jika ketulusan yang begitu saja mengalir dari hati adalah penerimaan tak berkesudahan

Semauku melindungi yang telah hancur, mengobati yang terluka tak lain adalah ketika tak ada lagi tentang kita yang selalu ku puja

Perkara kehilangan

(Yang pernah menjadi) cintaku,

Entah ini surat keberapa yang ku tulis dan membacanya berulang kali tanpa sempat menyampaikannya kepadamu. Kali ini surat yang berisi kesedihan dan tak akan penuh walaupun setiap hari selalu ku isi dengan kesedihan serupa.

Apa kau masih ingat bagaimana kita bertemu pertama kali yang hanya sebatas kebetulan saja, diluar kendali ketika itu pula sebesar besarnya perhatianku tercuri oleh mu.

Walaupun aku tidak pernah menceritakan tapi akulah yang banyak mengerti tentang tangis serta curahan segala kekesalanmu terhadap hati yang menjemukan atau juga terhadap kerikil yang memang sebagai cobaan kehidupan.

(Yang pernah menjadi)

Aku sudah pernah bahagia berada dalam pelukan mu, aku pernah manja berada dalam pikiran mu juga aku pernah merajai kepemilikan atas dirimu.

Tapi kini kau memintaku untuk pergi dan tak pernah mencariku. Banyak penyesalan atas kesalahan yang begitu brengseknya aku hingga tak lagi tertahan derai air matamu pada pelukanku.

Jika nanti ada sedikit kerinduan sudikah kamu singgah melihat barisan curahan hati yang aku suguhkan untuk mu.

Perkara hujan

Setahun yang lalu aku menulis pada hujan dengan riangnya. Benar adanya aku menyukai ketika titik bening itu menyentuh ubun2 kepala tanpa permisi. Tak terelakkan sepertinya aku menikmati setiap riuh hentakan bulirnya pada bumi pada pori lapisan luar tubuhku. Menghujaniku dengan bahasa merah jambu adalah awal kisah.

Sebulan yang lalu aku masih menulis pada hujan dengan rindu yang menggebu. Hujan mengukir memori ketika genggaman tanganmu menguat pada redamnya api cemburu bukan hanya oleh hujan tapi juga oleh ketulusanmu. Tidaklah salah jika disebut sebagai jatuh cinta berulang kali pada sosok yang sama. Tentang pujaan hati, tentang rindu yang tak mau berhenti membangun jalan baru agar dipertemukan. Menghujaniku dengan kata tak ingin berpisah adalah teguhku.

Sehari yang lalu akupun masih saja menulis bersama hujan. sayangnya kali ini adalah hujan air mata. Benar adanya langit bersedih memeluk luka hati yang berkeping terjatuh tanpa ada lagi sosok yang memiliki. Lumpuh akan nafas cinta, buta atas semua mimpi. Belum selesai ku ceritakan tentang hujan namun sendiri setelah kau tinggal pergi. Menghujaniku dengan tetesan tanya tanpa kejelasan.

Sejam yang lalu aku menulis cerita ini dalam hujan. Kali ini saja, tolong hujani aku dengan pilar-pilar semangat agar ku mampu bangkit dari keterpurukan.

Sedetik yang lalu aku masih bersama hujan, hujan air mata.

[ FF Cinta Pertama ] Cintanya stiletto

Bukankah cinta pertama mampu hadir kapan saja bahkan dalam situasi tak terduga sekalipun. Pencuri terhebat yang mampu menghilangkan hati tanpa jejak, tanpa suara bahkan tanpa disadari sebut saja itu cinta. Tak mengenal usia, jabatan bahkan juga kadang kala cinta mampu jatuh pada tempat yang tidak kita harapkan sekalipun.

Selayaknya kaum kapitalis lainnya, berangkat tanpa melihat mentari terbangun dan pulang tak jarang setelah senja menguasai cakrawala. Lelah berkutat dengan tumpukan pekerjaan, akhirnya duduk pada kursi angkutan kota -angkot- menuju rumah adalah surga kecil bagi sepasang kakiku yang telah tertopang stiletto merah selama sepuluh jam terakhir.

Angkot ini hanya memuat delapan orang penumpang, lima pada bangku dengan ukuran lebih panjang dan tiga lainnya termaksud aku pada bangku berukuran pendek. Jok hitam pudar nampak beberapa bagian terkoyak hingga busa tipis menyembul keluar. Sebenarnya untuk sebuah alas duduk bisa dibilang kurang nyaman. Gelegar suara knalpotnya lebih bising dari pengamen lampu merah.

Aku tidak hidup di zaman dongeng peri yang mudah mengayunkan tongkat untuk mewujudkan impiannya, tapi sore ini bak mimpi karena aku bersama dia cinta pertamaku. Aroma bvlgari aqua pada kemeja biru langit yang digulung hingga siku memanjakan indera penciumanku. Dia, lelaki berleher jenjang menopang rahang yang kokoh duduk tepat di hadapanku. Sesekali ku lepaskan senyum ke arahnya.

Baru kali ini ada lelaki yang mampu menggetarkan rongga dada. Layaknya kuntum sakura, pelangi dan keteduhan seorang lelaki terkemas menjadi satu. Sungguh tak kuasa menepis pesonanya. Dengan penuh kekaguman terus ku perhatikan setiap lekuk bibir sexynya dan dibalas dengan tatapan matanya yang berhasil menembus pertahanan hati. Bilik-bilik asmara mendobrak kencang pada jantungku.

” Ryan aku gugup ”

” Tenanglah, ibu pasti akan menyetujui pertunangan kita ”

” Wajarkan seorang wanita pasti akan gugup bertemu dengan calon mertua ”

” Ada aku sayang ” dia tersenyum ” Kiri depan pak ” lanjutnya memberi komando supir angkot.

Bagai ditampar dan dihujani halilintar. Supir angkot menghentikan kemudinya dan mereka berdua keluar dari angkot seraya bergandengan tangan. Cinta pertamakubjatuh pada seorang lelaki yang baru saja aku trmui di angkot ternyata bernama Ryan. Cinta pertamaku ternyata calon tunangan dari seorang wanita yang sedari tadi duduk di sisi ku.

Yah, mau bagaimana lagi cinta pertama tak semuanya berhasil seperti cinderella. Sang pangeran jatuh cinta pada pandangan pertama dan akan mencarinya hingga penjuru negeri. Andaikan saja saat itu aku turun terlebih dahulu dari angkot (bukan arena dansa) dan meninggalkan stiletto merah ini, mungkin tetap saja Ryan tidak akan mencariku hingga ujung bantar gebang, karena aku bukan cinderella. Tapi lebih tepatnya mungkin karena pangeran cinta pertamaku sudah ada yang memiliki.