Ternyata (ku)yang tak terduga

Ratusan kilometer dari kota terdekat, menyimpan sejuta cerita di desa ku yang jauh dari jamahan teknologi mutahir. Setelah hampir empat tahun ku tinggalkan mengejar gelar sarjana pendidikan di ibu kota provinsi tetangga. Kembali ke desa memang suatu cita-cita memberikan pengabdian sebagai guru di satu-satunya sekolahan menengah tingkat pertama.

Jalan setapak tanpa adanya pengerasan atau aspal dari program pemerintah mendominasi rumah-rumah warga yang mayoritas berbentuk panggung terbentuk dari lembaran papan kayu hutan sebagai dindingnya, dan setidaknya kami sudah bisa menikmati fasilitas penerangan listrik Negara.

Cita-cita ibu ingin melihat anaknya menjadi seorang guru terkabul sudah, ibu adalah orang yang selalu berkorban banyak hal hanya untuk melihat anak-anaknya menjadi orang yang tidak direndahkan penduduk desa.

Ayah biologisku tidak peduli dengan kehidupan kami, karna ibu hanya sebagai istri simpanan yang bahkan tak diakui setelah kasus perselingkuhan mereka terbongkar warga desa.

Sepulang sekolah aku selalu membantu ibu di ladang sebagai buruh hanya untuk mencari sebakul nasi untuk bertahan hidup serta membaginya untuk biaya sekolah ku. Aku sangat menyayangi ibu, apapun yang terjadi dulu, aku tidak pernah menghakimi ibu karna beliaupun sangat menjaga aku dan adikku penuh cinta.

Melanjutkan pendidikan ke luar desa adalah hal yang tidak mudah, mengingat ibu membanting tulang sendiri, apalagi adikku masih terhitung masih belia usianya, namun ibu meyakinkan akan mengirimi uang tambahan selain beasiswa yang aku dapatkan dari pemerintah kabupaten. Ibu berkata ingin memberi bekal pendidikan agar kelak aku mampu mengangkat derajat keluarga kami.

Tak jarang kiriman dari ibu telat ku terima, tapi dengan part time sebagai loper koran biaya hidup ku masih bisa tersambung walaupun tanpa kiriman dari ibu pada bulan berjalan.

Kini Ibu memiliki empat orang anak dan aku adalah anak sulung ibu. Dua adikku yang terakhir adalah anak yang ibu lahirkan dari ayah tiriku. Rumah keluargaku mungkin salah satu bagian mewah karna semenjak ibu menikah lagi dengan juragan karet kehidupan keluarga kami di atas rata-rata. Ayah tiriku tidak pernah membeda-bedakan aku dengan anak kandung mereka.

Derajat kehidupan kami menjadi terangkat pula karena penilaian kedudukan warga desa masih menganut faham jika harta adalah tolak ukur utama pemberian status di desa. Ayah sangat mencintai ibu, walaupun pada awalnya tidak jarang tetangga memandang negative pernikahan mereka tapi ayah tidak pernah berpaling dan mampu menunjukkan pada mereka jika cinta sejati dari hati bukan sekedar harta ataupun fisik belaka. Ayah sering bepergian ke kota untuk menjual langsung karet mentah.

“ Korban lagi tadi malam… “ kalimat yang keluar dari mulut ibu mengawali pagi

“ makhluk itu? “ jawabku

“ iya, kali ini berada di bawah lantai rumah panggung menurut keterangan korban hilangnya makhluk itu ke perbukitan arah selatan dekat rumah Aminah “

“ mereka terlalu mengada-ada ibu, bukankah Aminah yang membantu proses persalinannya lalu kenapa harus dikaitkan dengan lokasi jatuhnya makhluk itu tanpa terbukti kebenarannya ” menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimat ” Tak ku dengar kegaduhan suara apapun, apa lagi lembur mengerjakan proposal perbaikan sekolah tadi malam “  jawabku sambil menguap dan meregangkan otot punggung dengan tarikan tangan ke atas kepala

“ Jangan pulang terlalu malam Di, kasian adik-adik mu di rumah apalagi ayah masih di kota “ jawab ibu sambil menyuguhkan segelas kopi hitam pada gelas bening, kopi bikinan ibu memang tiada duanya.

“ bukankah sebaiknya ibu tidak usah buka warung kopi sampai senja bu, apa lagi Ardi sudah bekerja jadi ibu bisa istirahat saja sambil mengurus adik-adik, ayah pasti tidak berkeberatan bu “ jawab ku sambil memperhatikan ibu yang walapun sudah memiliki empat orang anak tapi masih terlihat gesit.

“ Ibu tidak ingin sepenuhnya menggantungkan diri pada ayah, apalagi jarak warung kan tidak jauh dari rumah, selama ibu masih bisa berusaha apapun untuk kalian anak-anak ibu akan dengan rela ibu lakukan agar adik-adik mu pun bisa menjadi seorang sarjana kelak, tidak ingatkah kau ketika dulu mereka merendahkan kehidupan kita nak  “ bening mata ibu terbasuh buliran air mata, menghadirkan nuansa kaca.

“ Aku tau bu, bahkan tidak pernah ku lupa ketika mereka sering meludahi ku dan menyebutku anak haram tapi sekarang ada ayah yang akan melindungi kita, aku sangat menghawatirkan ibu, apa lagi kondisi desa sedang dalam bahaya setiap malam ibu “ kekawatiran ku semakin tergambar jelas

“ Tidak usah kawatir Di, makhluk itu tidak akan membahayakan ibu, karna memang dia hanya mencari sumber kehidupannya ya…. dari darah kotor, ibu lebih menghawatirkan usia mu yang sudah matang untuk menikah anakku, cobalah mengenal para gadis muda desa yang selalu menanyakan tentangmu di warung ibu “ jawab ibu berusaha mengalihkan pembicaraan kami

” Gampang saja itu ibu ” Jawabku tersenyum

” Di, gadis seperti apa lagi yang kau inginkan? Bahkan kembang desa seperti Ratmi anak mandor tanam juga tak kau beri kesempatan ”

” Tunggu waktu yang tepat ibu ” jawaban singkat ku mengakhiri obrolan kami siang itu.

***

Sudah beberapa bulan terakhir memang desa kami diteror oleh makhluk misteri dengan penampakan kepala wanita berambut panjang tanpa tubuh dan hanya membawa bagian dalam perut saja, terbang melayang di malam hari mencari darah segar, darah kotor tentunya.

Para wanita yang melahirkan atau mereka yang membuang darah menstruasi sembarangan menjadi sasaran utama makhluk yang mereka sebut kuyang. Makhluk ini memerlukan darah kotor sebagai sumber kehidupannya, dan digunakan sebagai ilmu pengasih, penampakan wujud utuh sebagai manusia dia akan mendapat perhatian dan belas kasih dari setiap orang yang melihatnya. Rasa iba akan menjadikan korban berada di bawah kendali magis makhluk tersebut, bahkan untuk kaum hawa akan melihatnya lebih memikat pada perwujudan manusianya.

Semenjak santer kejadian penampakan makhluk itu di jam malam sekarang diberlakukan jadwal jaga malam, namun kadang kala masih saja tidak efektive selain karena jarak antar rumah warga yang berjauhan dan masih didominasi oleh semak belukar juga kondisi cuaca penghujan yang sering menghambat cakupan area jalur lintasan mereka. Tak jauh beda dengan kondisi siang, desas desus warga menimbulkan rasa saling curiga atas terror kuyang mengenai tubuh inang atau pemilik ilmu hitam tersebut.

***

Mengendarai sepeda motor hasil pemberian ayah tiriku di setiap pagi menuju ke sekolah tempatku mengajar, rute perjalanan selalu ku tempuh lebih jauh dari normalnya, karna aku lebih senang melewati perkebunan karet ayah, bukan untuk mengontrol jumlah getah yang terperangkap kaleng susu pada batangnya tapi untuk melewati rumah panggung yang terbentuk dengan bahan dasar kayu ulin berwarna coklat tua.

Rumah besar milik Aminah yang baru saja menjadi bagian dari warga desa kami setelah dipersunting pemilik lumbung, sebelum kematiannya 98 hari lalu. Kabar burung mengatakan suami Aminah meninggal karena terpeleset hingga kepalanya membentur batu kali ketika hendak mencuci kaki di saluran pembuangan air di belakang rumah milik mereka.

Pohon beringin besar yang tumbuh di depan rumah Aminah selalu menjadi kawasan favoritku karna di sana aku selalu menemukan senyum Aminah di pagi hari, sejuk nampak teduh pada bola matanya. Tajuk beringin yang rimbun mentup sebagian penampakan halaman rumah hingga menjadi penghalang alami cahaya mentari yang tak pernah sampai pada pinggiran teras rumah sekalipun.

Aminah menjadi primadona, walapun usia ku terpaut tujuh tahun lebih muda tapi tak pernah menyurutkan rasa sayang kepada Aminah yang kini menjadi bagian dari hatiku. Sebagai lelaki memang aku belum berani mengutarakan kisah cinta ini kepada ibu, mungkin nanti setelah satu purnama lagi terlewati.

Pagi ini aminah ku dapati di bawah beringin dengan serantang bekal makan siang yang nantinya menuhi lambungku.

“ Maaf aga kesiangan ya hari ini Yang ” sambil mematikan mesin sepeda motor.

“ Tak apa ka, aku tetap menunggu kakak, semur jengkol seperti pesanan kakak “ jawabnya dengan lengkungan manis di bibir sambil menyerahkan bekal makan siang

“ Waaahh…. jadi pengen nyantap sekarang Yang, oiya Yang tadi malam ada korban lagi, hati-hati ya kalau malam, warga bilang makhluk itu jatuh di sekitaran sini “ sambil ku masukan bekal dari Aminah ke dalam tas.

“ Ka Ardi… apa kakak juga percaya sama rumor seorang dukun beranak mengkaji ilmu kuyang yang sering ibu-ibu bicarakan? “ tanyanya gusar.

“ Tentu saja tidak Yang, apa lagi aku mengenalmu biarkan mereka bicara apa saja, bukankah selama membantu proses persalinan sang ayah bayipun ikut mendampingi mu, jadi apa lagi yang mereka ragukan, jikapun selalu ada tragedi buruk bukankah itu juga setelah kau sampai di rumah, percayalah aku akan coba meyakinkan ibu untuk segera meminangmu, agar mereka berhenti berfikiran buruk “ ku genggam erat tangan Aminah yang kububuhi kecupan lembut dipunggung tangannya

“ Aku lelah atas gunjingan mereka, ingin rasanya aku diamkan saja setiap kali mereka mengetok pintu rumah dan merengek agar aku membantu proses persalinan kerabat atau istrinya “ tutur Aminah pelan

“ Jangan risaukan selama itu tidak benar sayang “ berusaha menenangkan Aminah walaupun aku tau tak sepenuhnya dia merasa tenang.

***

Pukul sebelas malam, basah terguyur hujan menambah guratan kelamnya bersama lolongan suara anjing dari kejauhan, hari yang melelahkan di sekolah besok akan ada kunjungan dari Bupati, sudah menjadi tanggung jawab ku membantu membersihkan perkarangan sekitar sekolah.

Selama beberapa jam setelah pertemuan dengan Aminah masih terbayang olehku pembicaraan kami siang tadi, menurutku mereka hanya berasumsi salah, bukankah membantu persalinan ibu hamil adalah pekerjaan yang mulia, dan kenapa harus selalu dihubungkan dengan mistik sebagai tersangka utama pemilik ilmu hitam.

Masih terjaga mataku atas kegusaran yang ditambah lagi dengan ketidak bekerjanya pusat pikiran untuk memulai pembicaraan dengan ibu perihal hubunganku dengan Aminah. Segelas susu yang selalu disajikan ibu sudah tidak hangat lagi masih dalam posisi di atas meja kecil sudut kamarku, biasanya selalu ku habiskan dan terlelap jauh sebelum jam 11 malam ini.

Ibu dan Aminah, dua wanita yang selalu ingin aku jaga, walapun bisa aku bayangkan jika ibu pasti akan menetang hubunganku dengan Aminah, tapi mungkin nanti aku akan coba bicara pada ayah, menurut ayah sebagai lelaki yang pernah menikahi ibu dengan status janda juga pasti akan lebih mengerti.

Bukan hanya itu saja, seharusnya aku bisa membuktikan jika terror desa selama ini bukanlah dari Aminah, tapi bagaimana aku bisa seyakin itu jika sampai sekarang wargapun masih belum menemukan pemilik kuyang.  Jemari tanganku memijit pada kening, rokok kretek habis terhisap angin, baru sekali ku hisap tapi ternyata lamunanku lebih menarik untuk diselami.

Tooookk…. Toookkk…. Toookkk…… bunyi kentongan batang bambu menggema dan suara riuh di luar rumah terdengar beberapa orang berlarian, memecahkan lamunanku bergegas ku beranjak dari tempat tidur dan menuju pintu depan menghampiri beberapa orang yang melewati depan rumah ada yang membawa parang, bahkan tombak dari kayu yang diruncingkan bagian ujungnya.

“ Mang… ada apa ? “ tanyaku kepada salah satu pria menggunakan jas hujan

“ Ada korban lagi, kali ini kami akan mengepung rumah janda Aminah, harus dimusnahkan malam ini juga kuyang itu “ jawabnya dengan nada emosi

“ Bakar aja pak, kita hentikan terror ini “ jawab salah seorang lagi dengan emosi

Bibirku kaku terbata, Aminah… benarkah mereka menyebut nama Aminah?. Aku harus bergegas ke rumah Aminah. Aku berlari masuk ke dalam rumah mengambil jaket hitam yang tergantung di belakang pintu kamar, meraih kunci sepeda motor yang tergeletak di atas meja, setengah berlari aku mencari ibu untuk memberitahu beliau agar tetap berada di dalam rumah.

“ Ibu… ibuuuu… “ ku bentur-benturkan kepalan jemari tangan kanan pada pintu kamar ibu beberapa kali, tapi tak juga terdengar balasan ibu, aku buka pintu kamar ibu setengahnya dengan tangan kiri, namun itu tidak nampak ada di atas kasur yang terlihat tidak jelas karena gelap tanpa penerangan lampu di dalam kamar.

Ku buka lebih lebar pintu kamar ibu agar aku mampu menemukan ibu, pintu kamar tak bisa terbuka sepenuhnya. Ada penghalang di belakang pintu, ku langkahkan kaki kiri masuk ke kamar ibu lebih jauh beberapa meter. Ku tutup kembali pintu menuju sisi kanan mencari saklar lampu, agar dapat melihat lebih jelas bagian dalam kamar ibu barangkali ibu tertidur, ternyata ibu tidak ada di sana, tapi ibu ada di balik pintu kamar lututku gemetaran, mataku terbelalak cekat pada tenggorokan hampir tak percaya atas apa yang kulihat, bukan ibu sepenuhnya hanya sebagian tubuh ibu tanpa kepala, ternyata ibu ku yang…

 

 

 

 

2 thoughts on “Ternyata (ku)yang tak terduga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *