Ternyata cinta

Apa kabar cinta,

Yah, memang sebegitu besarnya aku menginginkan mu yang walaupun kau tak pedli tetap saja aku menyimpan deru gemuruh cinta. Entah virus apa yang menjalar dalam detak jantung dan hatiku, hanya ketika aku melihatmu saja mampu membuncahkan amore merah jambu hingga mendobrak-dobrak bilik jantung. Tanpa ada keberadaanmu di sisi pun aku selalu merindukan dalam diam menyergap setiap mimpi dan mengisinya hanya tentang mu saja.

Apa kabar cinta,

Hariku tak stabil seperti wajarnya, aku mulai enggan menyentuh buku-buku pelajaran ataupun menikmati sepiring sarapan pagi dari mamah, namun aku tetap bahagia tak henti-hentinya melengkungkan bibir. Apa kau percaya jika perut ini menolak terisi dan hanya merasa kenyang begitu saja ketika mengingat bayangan wajahmu. Menggoreskan pena menceritakan betapa indahnya senyum mu lebih menyenangkan dari aljabar.

Apa kabar cinta,

Cinta, hanya kau yang ku inginkan, karena kaulah tetesan hujan pada savana. Sungguhpun menerjang aturan yang ada mengenai usia belia kita untuk menjalin cinta, ak selalu mengindahkannya karena mereka tidak akan pernah tau apa yang tersimpan dibalik getaran jiwa sehijau kita. Upeti adalah keterpaksaan namun menyerahkan segala yang kupunya untuk mu adalah caraku sendiri.

Taukah kau cinta,

Kehidupan dalam dunia cinta tak sempat ku pertanyakan kepada mereka yang pernah merasakan sebelumnya. Ternyata cinta, aku mengecap apa itu luka, aku meringis perih ketika ku tau cintamu tak pernah ada untuk ku. Mimpi pada kubah istana pasir yang terbentuk hilang sudah tersapu ombak pesakitan. Hatiku berdarah basah oleh air mata tak berkesudahan.

Taukah kau cinta,

Lagi-lagi aku tak menyentuh masakan mamah ataupun menghadiri rutinitas pendidikan, namun kali ini aku tak hanya kehilangan hati tapi juga turut ku hancurkan seisi kehidupanku. Aku merapuh, aku berkeluh pada mu yang dengan menjatuhkan lututpun tak juga kau pedulikan.

Taukah kau cinta,

Aku hancur, segalanya hancur ikut melebur. Aku tak mengenal hari, dan hanya berteman dengan kesedihan. Keterpurukan ku menghentikan ritme perkara hati. Lelahku menyuguhkan sebentuk cinta dalam kotak coklat yang manis juga tak pernah kau gubris.

Ternyata cinta,

Aku terluka sendiri, pada hangat pelukan mereka yang selalu ada walaupun sering ku tepiskan. Aku membuka mata dan logika mencari celah menelusup membasuh perihnya.  Sungguh aku melupakan hal yang paling berharga selama ini, hal yang tak pernah ku lihat selagi terpuruk merah jambu tak berpihak. Melupakan mereka yang selalu ada untukku. Kebodohan yang selama ini aku genggam kulepas sudah bersama pesakitan. Kegalauan yang sempat tercecap biarkan saja menjadi pelajaran penting.

Ternyata cinta,

Tak sebegitu berharga kisah luka ini dibanding dengan bisikan harapan dari kedua orang tua. Banyak cita yang masih akan dapat ku kejar. Banyak pula cinta yang bisa ku miliki, mereka sahabat dan juga lingkar keluarga ku. Isakan tangis ku ganti dengan prestasi sebagai hadiah atas ketulusan mamah dengan cintanya yang tak pernah ingkar.

Ternyata cinta,

Kau hanyalah sejengkal kisah dari lintasan marathon hidupku. Kini aku tak akan menyisakan sedikitpun tangisan lagi karena hidupku tak hanya tentang mu yang telah mengabaikan romantisme merindu. Membenahi diri tak mudah memang namun aku memiliki banyak pelukan serta dorongan prestasi yang justru mampu memainkan melodi cinta.

Ternyata cinta, aku masih bisa bahagia tanpa mu.

 

 

500 kata, untuk give away kasihelia.com gerakan #CintaiHidup @Kasihelia

 

 

 

 

25 Januari

Akhirnya hari ini 25 Januari tiba juga, tanggal yang mencatat sejarah baru dalam kehidupan remajaku harus ku mulai dengan derai air mata bak Niagara di ujung pagi.

“ Jangan nangis aja, ayo ibu bantu pakai kebayanya, hari ini kamu harus tampil cantik “ ibu mengagetkan aku yang terpaku di depan cermin pagi ini, ku tatap bola mata ibu yang berkaca-kaca nampak jelas dengan kokoh mencoba membendung air mata.

Perempuan mana yang tidak mengidamkan pernikahan bak puteri raja menikah dengan pujaan hatinya. Sebuah pernikahan dengan ornament serba putih di gedung yang dihiasi beraneka ragam bunga, iringan musik khas perkawinan serta para tamu undangan yang tersenyum melihat sepasang pengantin yang terpancarkan raut kebahagiaan.

Menelan pil pahit tanpa pilihan lain, kali ini aku harus mengecap sajian menu kehidupan tanpa ada daftar menu yang bisa ku pilih sebelumnya. Restoran kehidupan kadang memang menyajikan kenyataan yang harus diterima begitu saja.

“ Dua tahun lalu di tanggal 25 Januari ibu juga menikah dengan ayah tiri mu, dan 25 Januari tahun ini giliran kamu yang menikah. Walaupun kali ini ibu hanya mampu memberikan pernikahan sederhana saja buat mu “ tangan ibu dengan cekatan memoles wajahku dengan berbagai warna.

Belia usiaku belum juga tamat bangku sekolah menengah atas, harus menutupi sebagian aib yang sudah tersiar di telinga tetangga. Janin yang ku kandung menuntutku agar menikah dengan lelaki jahanam yang memperkosaku.

“ Ibu yakin, kita pasti bisa melewati 25 Januari kali ini dengan ikhlas dan sabar sampai bayimu lahir “ ibu menggandeng tanganku memasuki ruang utama. Air mataku tak mampu ku bendung lagi.

Hanya ada lima tau enam kerabat sekaligus saksi, meja kecil tertutup taplak putih dan seorang penghulu mengenakan surban putih. Wajah lain yang aku kenal mengenakan jas hitam dan peci melihat ke arah ku dan ibu, dia calon suamiku, dia adalah pemerkosa jahanam yang juga ayah tiriku.

 

300 kata, di tulis dalam rangka ulang tahun Monday FlashFiction yang pertama.

 

 

Ternyata (ku)yang tak terduga

Ratusan kilometer dari kota terdekat, menyimpan sejuta cerita di desa ku yang jauh dari jamahan teknologi mutahir. Setelah hampir empat tahun ku tinggalkan mengejar gelar sarjana pendidikan di ibu kota provinsi tetangga. Kembali ke desa memang suatu cita-cita memberikan pengabdian sebagai guru di satu-satunya sekolahan menengah tingkat pertama.

Jalan setapak tanpa adanya pengerasan atau aspal dari program pemerintah mendominasi rumah-rumah warga yang mayoritas berbentuk panggung terbentuk dari lembaran papan kayu hutan sebagai dindingnya, dan setidaknya kami sudah bisa menikmati fasilitas penerangan listrik Negara.

Cita-cita ibu ingin melihat anaknya menjadi seorang guru terkabul sudah, ibu adalah orang yang selalu berkorban banyak hal hanya untuk melihat anak-anaknya menjadi orang yang tidak direndahkan penduduk desa.

Ayah biologisku tidak peduli dengan kehidupan kami, karna ibu hanya sebagai istri simpanan yang bahkan tak diakui setelah kasus perselingkuhan mereka terbongkar warga desa.

Sepulang sekolah aku selalu membantu ibu di ladang sebagai buruh hanya untuk mencari sebakul nasi untuk bertahan hidup serta membaginya untuk biaya sekolah ku. Aku sangat menyayangi ibu, apapun yang terjadi dulu, aku tidak pernah menghakimi ibu karna beliaupun sangat menjaga aku dan adikku penuh cinta.

Melanjutkan pendidikan ke luar desa adalah hal yang tidak mudah, mengingat ibu membanting tulang sendiri, apalagi adikku masih terhitung masih belia usianya, namun ibu meyakinkan akan mengirimi uang tambahan selain beasiswa yang aku dapatkan dari pemerintah kabupaten. Ibu berkata ingin memberi bekal pendidikan agar kelak aku mampu mengangkat derajat keluarga kami.

Tak jarang kiriman dari ibu telat ku terima, tapi dengan part time sebagai loper koran biaya hidup ku masih bisa tersambung walaupun tanpa kiriman dari ibu pada bulan berjalan.

Kini Ibu memiliki empat orang anak dan aku adalah anak sulung ibu. Dua adikku yang terakhir adalah anak yang ibu lahirkan dari ayah tiriku. Rumah keluargaku mungkin salah satu bagian mewah karna semenjak ibu menikah lagi dengan juragan karet kehidupan keluarga kami di atas rata-rata. Ayah tiriku tidak pernah membeda-bedakan aku dengan anak kandung mereka.

Derajat kehidupan kami menjadi terangkat pula karena penilaian kedudukan warga desa masih menganut faham jika harta adalah tolak ukur utama pemberian status di desa. Ayah sangat mencintai ibu, walaupun pada awalnya tidak jarang tetangga memandang negative pernikahan mereka tapi ayah tidak pernah berpaling dan mampu menunjukkan pada mereka jika cinta sejati dari hati bukan sekedar harta ataupun fisik belaka. Ayah sering bepergian ke kota untuk menjual langsung karet mentah.

“ Korban lagi tadi malam… “ kalimat yang keluar dari mulut ibu mengawali pagi

“ makhluk itu? “ jawabku

“ iya, kali ini berada di bawah lantai rumah panggung menurut keterangan korban hilangnya makhluk itu ke perbukitan arah selatan dekat rumah Aminah “

“ mereka terlalu mengada-ada ibu, bukankah Aminah yang membantu proses persalinannya lalu kenapa harus dikaitkan dengan lokasi jatuhnya makhluk itu tanpa terbukti kebenarannya ” menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimat ” Tak ku dengar kegaduhan suara apapun, apa lagi lembur mengerjakan proposal perbaikan sekolah tadi malam “  jawabku sambil menguap dan meregangkan otot punggung dengan tarikan tangan ke atas kepala

“ Jangan pulang terlalu malam Di, kasian adik-adik mu di rumah apalagi ayah masih di kota “ jawab ibu sambil menyuguhkan segelas kopi hitam pada gelas bening, kopi bikinan ibu memang tiada duanya.

“ bukankah sebaiknya ibu tidak usah buka warung kopi sampai senja bu, apa lagi Ardi sudah bekerja jadi ibu bisa istirahat saja sambil mengurus adik-adik, ayah pasti tidak berkeberatan bu “ jawab ku sambil memperhatikan ibu yang walapun sudah memiliki empat orang anak tapi masih terlihat gesit.

“ Ibu tidak ingin sepenuhnya menggantungkan diri pada ayah, apalagi jarak warung kan tidak jauh dari rumah, selama ibu masih bisa berusaha apapun untuk kalian anak-anak ibu akan dengan rela ibu lakukan agar adik-adik mu pun bisa menjadi seorang sarjana kelak, tidak ingatkah kau ketika dulu mereka merendahkan kehidupan kita nak  “ bening mata ibu terbasuh buliran air mata, menghadirkan nuansa kaca.

“ Aku tau bu, bahkan tidak pernah ku lupa ketika mereka sering meludahi ku dan menyebutku anak haram tapi sekarang ada ayah yang akan melindungi kita, aku sangat menghawatirkan ibu, apa lagi kondisi desa sedang dalam bahaya setiap malam ibu “ kekawatiran ku semakin tergambar jelas

“ Tidak usah kawatir Di, makhluk itu tidak akan membahayakan ibu, karna memang dia hanya mencari sumber kehidupannya ya…. dari darah kotor, ibu lebih menghawatirkan usia mu yang sudah matang untuk menikah anakku, cobalah mengenal para gadis muda desa yang selalu menanyakan tentangmu di warung ibu “ jawab ibu berusaha mengalihkan pembicaraan kami

” Gampang saja itu ibu ” Jawabku tersenyum

” Di, gadis seperti apa lagi yang kau inginkan? Bahkan kembang desa seperti Ratmi anak mandor tanam juga tak kau beri kesempatan ”

” Tunggu waktu yang tepat ibu ” jawaban singkat ku mengakhiri obrolan kami siang itu.

***

Sudah beberapa bulan terakhir memang desa kami diteror oleh makhluk misteri dengan penampakan kepala wanita berambut panjang tanpa tubuh dan hanya membawa bagian dalam perut saja, terbang melayang di malam hari mencari darah segar, darah kotor tentunya.

Para wanita yang melahirkan atau mereka yang membuang darah menstruasi sembarangan menjadi sasaran utama makhluk yang mereka sebut kuyang. Makhluk ini memerlukan darah kotor sebagai sumber kehidupannya, dan digunakan sebagai ilmu pengasih, penampakan wujud utuh sebagai manusia dia akan mendapat perhatian dan belas kasih dari setiap orang yang melihatnya. Rasa iba akan menjadikan korban berada di bawah kendali magis makhluk tersebut, bahkan untuk kaum hawa akan melihatnya lebih memikat pada perwujudan manusianya.

Semenjak santer kejadian penampakan makhluk itu di jam malam sekarang diberlakukan jadwal jaga malam, namun kadang kala masih saja tidak efektive selain karena jarak antar rumah warga yang berjauhan dan masih didominasi oleh semak belukar juga kondisi cuaca penghujan yang sering menghambat cakupan area jalur lintasan mereka. Tak jauh beda dengan kondisi siang, desas desus warga menimbulkan rasa saling curiga atas terror kuyang mengenai tubuh inang atau pemilik ilmu hitam tersebut.

***

Mengendarai sepeda motor hasil pemberian ayah tiriku di setiap pagi menuju ke sekolah tempatku mengajar, rute perjalanan selalu ku tempuh lebih jauh dari normalnya, karna aku lebih senang melewati perkebunan karet ayah, bukan untuk mengontrol jumlah getah yang terperangkap kaleng susu pada batangnya tapi untuk melewati rumah panggung yang terbentuk dengan bahan dasar kayu ulin berwarna coklat tua.

Rumah besar milik Aminah yang baru saja menjadi bagian dari warga desa kami setelah dipersunting pemilik lumbung, sebelum kematiannya 98 hari lalu. Kabar burung mengatakan suami Aminah meninggal karena terpeleset hingga kepalanya membentur batu kali ketika hendak mencuci kaki di saluran pembuangan air di belakang rumah milik mereka.

Pohon beringin besar yang tumbuh di depan rumah Aminah selalu menjadi kawasan favoritku karna di sana aku selalu menemukan senyum Aminah di pagi hari, sejuk nampak teduh pada bola matanya. Tajuk beringin yang rimbun mentup sebagian penampakan halaman rumah hingga menjadi penghalang alami cahaya mentari yang tak pernah sampai pada pinggiran teras rumah sekalipun.

Aminah menjadi primadona, walapun usia ku terpaut tujuh tahun lebih muda tapi tak pernah menyurutkan rasa sayang kepada Aminah yang kini menjadi bagian dari hatiku. Sebagai lelaki memang aku belum berani mengutarakan kisah cinta ini kepada ibu, mungkin nanti setelah satu purnama lagi terlewati.

Pagi ini aminah ku dapati di bawah beringin dengan serantang bekal makan siang yang nantinya menuhi lambungku.

“ Maaf aga kesiangan ya hari ini Yang ” sambil mematikan mesin sepeda motor.

“ Tak apa ka, aku tetap menunggu kakak, semur jengkol seperti pesanan kakak “ jawabnya dengan lengkungan manis di bibir sambil menyerahkan bekal makan siang

“ Waaahh…. jadi pengen nyantap sekarang Yang, oiya Yang tadi malam ada korban lagi, hati-hati ya kalau malam, warga bilang makhluk itu jatuh di sekitaran sini “ sambil ku masukan bekal dari Aminah ke dalam tas.

“ Ka Ardi… apa kakak juga percaya sama rumor seorang dukun beranak mengkaji ilmu kuyang yang sering ibu-ibu bicarakan? “ tanyanya gusar.

“ Tentu saja tidak Yang, apa lagi aku mengenalmu biarkan mereka bicara apa saja, bukankah selama membantu proses persalinan sang ayah bayipun ikut mendampingi mu, jadi apa lagi yang mereka ragukan, jikapun selalu ada tragedi buruk bukankah itu juga setelah kau sampai di rumah, percayalah aku akan coba meyakinkan ibu untuk segera meminangmu, agar mereka berhenti berfikiran buruk “ ku genggam erat tangan Aminah yang kububuhi kecupan lembut dipunggung tangannya

“ Aku lelah atas gunjingan mereka, ingin rasanya aku diamkan saja setiap kali mereka mengetok pintu rumah dan merengek agar aku membantu proses persalinan kerabat atau istrinya “ tutur Aminah pelan

“ Jangan risaukan selama itu tidak benar sayang “ berusaha menenangkan Aminah walaupun aku tau tak sepenuhnya dia merasa tenang.

***

Pukul sebelas malam, basah terguyur hujan menambah guratan kelamnya bersama lolongan suara anjing dari kejauhan, hari yang melelahkan di sekolah besok akan ada kunjungan dari Bupati, sudah menjadi tanggung jawab ku membantu membersihkan perkarangan sekitar sekolah.

Selama beberapa jam setelah pertemuan dengan Aminah masih terbayang olehku pembicaraan kami siang tadi, menurutku mereka hanya berasumsi salah, bukankah membantu persalinan ibu hamil adalah pekerjaan yang mulia, dan kenapa harus selalu dihubungkan dengan mistik sebagai tersangka utama pemilik ilmu hitam.

Masih terjaga mataku atas kegusaran yang ditambah lagi dengan ketidak bekerjanya pusat pikiran untuk memulai pembicaraan dengan ibu perihal hubunganku dengan Aminah. Segelas susu yang selalu disajikan ibu sudah tidak hangat lagi masih dalam posisi di atas meja kecil sudut kamarku, biasanya selalu ku habiskan dan terlelap jauh sebelum jam 11 malam ini.

Ibu dan Aminah, dua wanita yang selalu ingin aku jaga, walapun bisa aku bayangkan jika ibu pasti akan menetang hubunganku dengan Aminah, tapi mungkin nanti aku akan coba bicara pada ayah, menurut ayah sebagai lelaki yang pernah menikahi ibu dengan status janda juga pasti akan lebih mengerti.

Bukan hanya itu saja, seharusnya aku bisa membuktikan jika terror desa selama ini bukanlah dari Aminah, tapi bagaimana aku bisa seyakin itu jika sampai sekarang wargapun masih belum menemukan pemilik kuyang.  Jemari tanganku memijit pada kening, rokok kretek habis terhisap angin, baru sekali ku hisap tapi ternyata lamunanku lebih menarik untuk diselami.

Tooookk…. Toookkk…. Toookkk…… bunyi kentongan batang bambu menggema dan suara riuh di luar rumah terdengar beberapa orang berlarian, memecahkan lamunanku bergegas ku beranjak dari tempat tidur dan menuju pintu depan menghampiri beberapa orang yang melewati depan rumah ada yang membawa parang, bahkan tombak dari kayu yang diruncingkan bagian ujungnya.

“ Mang… ada apa ? “ tanyaku kepada salah satu pria menggunakan jas hujan

“ Ada korban lagi, kali ini kami akan mengepung rumah janda Aminah, harus dimusnahkan malam ini juga kuyang itu “ jawabnya dengan nada emosi

“ Bakar aja pak, kita hentikan terror ini “ jawab salah seorang lagi dengan emosi

Bibirku kaku terbata, Aminah… benarkah mereka menyebut nama Aminah?. Aku harus bergegas ke rumah Aminah. Aku berlari masuk ke dalam rumah mengambil jaket hitam yang tergantung di belakang pintu kamar, meraih kunci sepeda motor yang tergeletak di atas meja, setengah berlari aku mencari ibu untuk memberitahu beliau agar tetap berada di dalam rumah.

“ Ibu… ibuuuu… “ ku bentur-benturkan kepalan jemari tangan kanan pada pintu kamar ibu beberapa kali, tapi tak juga terdengar balasan ibu, aku buka pintu kamar ibu setengahnya dengan tangan kiri, namun itu tidak nampak ada di atas kasur yang terlihat tidak jelas karena gelap tanpa penerangan lampu di dalam kamar.

Ku buka lebih lebar pintu kamar ibu agar aku mampu menemukan ibu, pintu kamar tak bisa terbuka sepenuhnya. Ada penghalang di belakang pintu, ku langkahkan kaki kiri masuk ke kamar ibu lebih jauh beberapa meter. Ku tutup kembali pintu menuju sisi kanan mencari saklar lampu, agar dapat melihat lebih jelas bagian dalam kamar ibu barangkali ibu tertidur, ternyata ibu tidak ada di sana, tapi ibu ada di balik pintu kamar lututku gemetaran, mataku terbelalak cekat pada tenggorokan hampir tak percaya atas apa yang kulihat, bukan ibu sepenuhnya hanya sebagian tubuh ibu tanpa kepala, ternyata ibu ku yang…

 

 

 

 

Aksara bicara

Aku bukan penulis, dan aku bukan juga anak-anak lagi tapi tidak diharamkan juga untuk aku memiliki cita-cita sebagai penulis. Aku menulis banyak hal dan banyak cerita yang kadang akupun tak mampu lebih lama menyembunyikannya.

Aneh memang jika dengan tulisanku yang tak beraturan kadang terlalu idealis masih bisa menjerat perhatianmu.

Kau bilang ” Tulislah sesukamu asal kau bahagia ” andaikan saja kau tau jika konteks bahagia teramatku bukan pada tulisan tapi pada mu. Walaupun dewasa ini mereka memperjual belikan kebahagian bahkan dengan diskon yang cukup besar di akhir tahun.

Aku banyak bertanya, yang kadang kaupun lebih suka mengembalikan pertanyaan dari pada menjawabnya.

Hidupku sederhana seperti tulisan yang selugas dan sesederhana mungkin terpapar, tapi cintaku rumit bahkan lebih rumit dari barisan aksara soneta hamlet.

Bukan aku yang menjadikannya rumit, itu hanya keluhan dari mereka yang tanpa kawatir berpaling dari labirinnya. Namun aku sengaja menjadikannya rumit saat ini karena aku ingin kamu saja yang menari-nari pada taman hati.

Aku bukan lagi penulis roman karena setiap lembar kisah romantis adalah kamu wujud nyatanya.

Elegi ujung pena meronta mengabadikan cerita, berpuing inspirasi mendekap manja lembaran karya.

Cemburu saja lah

Sebanyak apapun hujan yang pernah jatuh di bumi, tapi hujan kali ini cerita hujan dalam cemburu.

Berkali-kali aku mengucapkan kalimat yang sama “ kenapa sih tadi kita ga bawa payung aja “ dan berkali-kali pula kau jawab hanya dengan senyuman.
Jarak antara kost ke resto sunda itu tidak jauh, hanya dengan jalan kaki tidak mengurangi rasa bahagiaku, bagaimana tidak jika harus ku habiskan bersama orang yang sangat aku cintai.

Walaupun tinggal dalam satu kota namun kesibukanku di kampus menuju semester akhir menyita banyak waktu hingga jarang sekali bagi kami menemukan moment berharga sekedar saling tatap mata atau bersandar di bahumu. Entah karena rasa cinta yang teramat besar atau karena rasa takut kehilangan tapi hanya kau lah yang pertama kali aku pinta untuk menjalin hidup bersama, mereka sering menyebut ini menikah.

“ hujan “ katamu.

Aku melihat ke angkasa dan benar tetes bening itu tanpa ragu mencurahkan butir besarnya tanpa ragu. Tanganmu menarik pinggangku agar ikut berbagi emperan kecil kios rokok untuk berteduh. Aku rasa bertahanpun tidak ada salahnya karena sudah setengah perjalanan dengan kondisi perut lapar terutama hasrat untuk mengecap pindang patin makin menggebu walaupun baru terlihat ujung atap restonya saja di pelupuk mataku.

Kamu pemalu, tapi tidak denganku yang merasa bebas dan asik bahkan memainkan jemari tanganku pada lenganmu. aku tidak pernah tau sebelumnya jika hanya dengan memandangmu frekuensi getaran sayap kupu di rongga dada begitu hebat mendobrak-dobrak labirin hati.

Hujan menjinak sudah dari liarnya, apa kau pernah tau jika saat kau lepas sweater hanya untuk menutupi bagian kepalaku agar tidak bersentuhan langsung dengan dingin hujan itu hal yang sangat manis. Dan tentunya walaupun aku tak pernah menyampaikan tapi ketika mengusap kakiku dengan tissue yang masih sempat kau beli sebelum memasuki resto adalah seluluh-luluhnya hatiku.

” sini kakinya bersihin pake tissue dulu, supaya ga malu masuk resto masa kakinya kotor “ entahlah kata apa lagi yang bisa aku ucapkan untuk menggambarkan betapa bahagianya aku memilikimu, bukan karena membersihkan kakiku tapi karena hal sekecil itupun kamu selalu mengingatkan kepadaku.

Sayang, masih ku ingat saat di resto aku tidak menghabiskan makan yang aku pesan dan selalu saja kamu menertawakan expresi menahan pedasku.
Seperti tidak ada jarak di antara kita, termaksud segala hal tersembunyipun selalu dapat kita bagi, mungkin itu juga cara kita saling memiliki.
Apa kau tau kerutan di keningku ketika lagi-lagi kau mulai membicarakan dia yang tak pernah berhenti menggodamu.

Cemburu membakar hatiku sayang ketika aku membaca beberapa sms dari dia yang sengaja kau tunjukkan kepadaku, namun tetap ku redam hingga keluar dari resto dalam hujan aku tak peduli. Bergegas ku tinggalkan resto tak peduli kondisi hujan aku tetap berjalan sampai kau tarik tanganku

“ kenapa sih ga berani bilang kalo kita jadian “

“ siapa yang ga berani bilaaaang…. ”

“ aku tuh tau gimana dia, dia ga kan pernah berhenti ngejar kamu kalo ga tau sekarang kita udah jadian!!! Suka juga ya sama dia?!! Sayang ya sama dia ?!! “ jawabku lagi dan tetap berjalan di pinggir jalan raya, tanganmu selalu menarik lenganku agar langkah kakiku terhindar dari aliran air pada tepi jalan minus drainase.

Satu persatu kendaraan bermotor berpapasan dengan tubuh setengah basahku, tapi seakan aku tak peduli. Kala hujan dengan dinginnya menusuk sendi, kala itupula bara api cemburu panasnya membakar hati.

“ iya aku bakal bilang malam ini sama dia “ genggaman tanganmu semakin erat meremas jemariku, “ aku ga pernah suka atau member harapan sama dia, aku cumin mau kamu “ suaramu melemah saat pendangan tak ku arahkan pada kedua bola matamu, aku membuangnya jauh dari sorot mata sendu itu.
Tak ku hiraukan lagi saat kau coba menutup kepalaku dengan jaketmu, aku hanya terdiam meredam seluruh kecemburuan.

“ Aaahh, nanti juga boong! “

“ Mana pernah aku bohong.. aku pasti bilang ke dia “

“ Dari kemaren-kemaren masih aja ditanggapin, mangkanya dia masih sms terus kan “ tanyaku sedikit menuduh.

“ Kamu tidak akan pernah kehilangan aku, dengerin aku dulu mau dia atau siapapun yang aku sayang tetap kamu, cuman kamu “

***

Kita, adalah aku yang selalu menghangat atas cemburu, dan kamu yang selalu berusaha menenangkan hangatnya dan mengganti dengan hangat pelukan.

Perdebatan kecil yang selalu saja meneteskan air mata ku, bukan aku terluka tapi hanya saja aku tak menyukai jika kita saling beradu ego.

Kamu yang menjadikan savana gersang seperti rimbun belantara dengan segala kesejukannya.

Kamu mengerti cara memotong taring singa di balik selimut cemburu dengan indah dan tanpa melukai.

Kamu tau kapan memelukku erat ataupun kapan harus menghunus belati untuk menikam curiga.

Itu lah kamu yang selalu berhasil membuatku tersipu ketika cemburu tak lagi beradu hanya dengan “ aku suka ko melihat kamu cemburu, itu artinya kamu cinta dan takut kehilangan aku “

Lelap tidur tak lain dari vibra pita suara kepunyaanmu yang selalu merasuk dalam gendang telinga menarik malam, agar tetap menyelimuti mimpi hingga pagi esok hanya kamu lagi orang pertama ku rindukan.

Aku memberikan hal yang paling berharga yang selalu ku jaga, sebut saja itu hati dan aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga lagi yaitu hatimu.

Takkan pernah berhasil ku tepaki 24 jam tanpa kehadiran mu di pagi menyingsing, karna aku selalu menghabiskan 31 jam ku dan bukan 24 jam lagi dalam sehari hanya untuk merindukan dan bermanja manis di hamparan gula-gula putih.

Mungkin seperti perangko yang enggan lepas dari amplop pada era gadget terlihat kuno pada bingarnya teknologi namun aku selalu mempunyai cara sendiri untuk melukiskan kisah hati.

Belajar untuk mengerti adalah jalan yang tak pernah habis ku susuri, karena hanya dengan itu pula aku ingin setiap batu sandungan bukan sesuatu yang bisa meleburkan terpautnya hati.

Aku ingin menjadi hal yang selalu kamu banggakan, aku ingin menjadi hati yang tak pernah akan dilepaskan dan aku ingin membunuh cemburu yang lepas pada jalur batas agar tak pernah lagi menyakiti.

Ajari aku untuk memangkasnya, karna akupun sering kali tak mampu mengontrol cemburu yang berlebih sungguh.

Benar, aku sangat mencintaimu dan ini hanyalah cerita tentang dia yang ku cintai.

4 Januari 2014, 2nd editing 03:45 AM