Rainny

Sudah ketiga kalinya hari ini mereka menyuntikan cairan berwarna kuning di selang kecil yang menusuk lengannya, dengan hati-hati sembari melihat kearah pergelangan tangannya memfocuskan pada jam yang melingkar, lelaki berbaju putih lewat stetoskopnya seolah menambah keingintahuanku tentang keadaan mu. Tapi seolah tak memiliki kuasa untuk ku agar bisa mendampinginya melewati proses mendebarkan seperti itu. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan entah ketakutan macam apa ini, hanya saja yang aku tau aku tak berani mendengarkan setiap vonis buruk tentangnya. Tampak dua orang wanita yang juga mengenakan seragam putih menyerahkan berlembar kertas dan si pria stetoskop menarik nafas panjang.
“tolong hubungi anggota keluarganya secepatnya” cetus si pria yang di isyaratkan dengan jawaban anggukan kepala dari seorang wanita berseragam . Tanpa memberikan kode apapun pria stetoskop itu meninggalkan dia yang diikuti oleh dua wanita tersebut, mereka bertiga melintasi ku tanpa melihat ke arahku sedikitpun yang padahal aku sudah menyiapkan senyum terbaik untuk mereka. Ketika benar-benar ku pastikan mereka keluar ruangan dengan menutup kembali kenop pintu seketika hawa dingin mendesir diantara tubuhku bahkan lebih dingin dari ruangan tersebut yang terpasang 4 air conditioner memiliki tiga ranjang dan hanya ada satu ranjang terpakai itupun oleh gadis itu.

ku tapakkan kaki ku perlahan mendekati ranjang tempat dia terbaring dengan berbagai macam peralatan yang mengeluarkan bunyi halus bahkan di sisi kanan atas ranjangnyapun tampak tabung oksigen berwarna biru dengan dua monitor di atasnya menggambarkan pola seperti sandi rumput yang pernah aku pelajari ketika aku mengikuti kegiatan extrakulikuler ketika sekolah dasar dulu, sayangnya aku sering bolos pramuka dan memilih bermain ding dong semacam permainan virtual di monitor besar dan aku harus memasukkan koin untuk memulai permainan tersebut, uang jajan ku hanya habis untuk permainan tersebut yang bahkan mamah sering tidak berhenti memberikan omelan jika mendapatiku bermain ding dong di pasar dekat sekolah. Karna terlalu sering bolos hingga aku tidak mengingat lagi arti sandi tersebut, jika tidak mungkin aku bisa membacakan untuknya.

“kamu sakit apa?” ucapku perlahan
Ku sentuh tangannya yang melemah dan ku genggam erat jemari tangannya yang ada di genggaman tangan kiriku, tampak tak bertenaga. Ku usap lembut kepalanya dan dia hanya tersenyum tanpa ada kata yang keluar dari mulutnya. Kali ini ketakutanku semakin mengoyak tanpa ampun hingga bibirku gemetar mendorong kuat bendungan pada pelupuk mata yang masih ku tahan dengan gigitan pada ujung bibir seolah menenangkan ku walau hanya sesaat.

***

SORE itu, seperti biasa sepulang kerja aku melaju mengendarai sepeda motor kebanggaan ku, jelas saja aku sebut kebanggaan karna harta yang kuanggap paling berharga ini aku beli dari hasil keringatku sendiri, aku menabung sedikit demi sedikit selain gaji yang harus ku bagi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluargaku. Namun sore yang mendung ini aku masih tetap bersenandung dengan menyanyikan lagu just give me a reasons nya pink.
Hujanpun turun membasahi tubuhku dan aku tidak mengeluh atau melajukan gas sepeda motor justru aku mengurangi kecepatannya dan tersenyum melihat ke arah langit, perlahan ku hentikan sepeda motor dan melepas helm, aku mulai berlari kecil di pinggir taman dan terus tersenyum aku bernyanyi tanpa henti menikmati tetesan dingin air hujan yang mengguyur tubuh ku.

Aku menyukai hujan seperti seorang remaja menyukai pujaan hatinya, aku seperti jatuh cinta pada hujan dan membiarkan basahnya meluruhkan semua beban dan permasalahn ku. Banyak mata yang memandang ke arahku tapi tak peduli apapun pandangan mereka aku akan tetap bernyanyi dan menari di bawah hujan hingga senja mulai menjemput paksa mentari akupun bergegas kembali pulang ke rumah.

Tak lupa juga aku membawakan sekantong apel yang ku beli dari toko buah untuk papah, sebelum papah jatuh sakit bisa dibilang apapun yang aku mau selalu bisa ku dapatkan dengan mudah, tapi sekarang mungkin roda berputar saat posisi rodaku sekarang berada di bawah, aku menjadi tulang punggung keluarga, aku harus menahan semua keinginan duniawiku yang semuanya akan aku tukar dengan resep obat2an papah, tapi itu semua tidak membuatku berkecil hati, aku bahagia melakukannya, aku tetap bisa bersenang-senang dengan banyak teman dan banyak hal dari kekonyolanku yang bisa membuat siapapun di dekatku tertawa dan merasa nyaman.

“Aku menyukai hujan, aku menyukai air kecuali air mata” posting via akun twiter ku.

Mencari kebahagiaan bisa dengan banyak cara salah satunya berteman melalui jejaring social yang bahkan aku menemukan banyak orang luar biasa di sana, kedekatan melebihi saudara kandungku pun banyak aku temui, selain itu juga menjadi freelance salah satu sekolahan favorit untuk melatih kegiatan seni di sana selain juga menyalurkan hobby ku.

“ papah tadi kesakitan lagi, tensi darahnya naik, ko hujan-hujan sih pulangnya “ ucap mamah

“ besok kita ke dokter bawa papah, lagi pengen aja mah “ jawabku sambil melepas sepatu basahku

“ kamu diet ya? Ko semakin kurus aja badan kamu, itu hidung kamu berdarahan coba “ Tanya mamah sambil menyerahkan anduk

“ masa sih?? “ sambil mengusap tepi hidung dengan tangan kanan dan ku temukan darah memerah di telapak tangan kanan ku.

***

“Rain… namaku rain” sambil tersenyum ku ulurkan tanganku menjabat tangannya, gadis sebaya denganku namun dia terlihat sangat sedih dari mimik wajahnya seperti tidak ada keceriaan, berbeda jauh denganku yang selalu penuh kebahagiaan dan keusilan. Sedari tadi dia hanya diam duduk disampingku menunggu hasil test laboratorium analisa darah kepunyaanku.

“iya aku tau itu, kau tidak takut di sini ?” jawabnya sambil menjabat tangan ku

“ tidak, walaupun ini malam jumat dan hujan tak henti dari pagi, justru aku menyukainya. Oiya apa kamu juga menunggu hasil test seperti aku ? “ tanyaku dengan begitu bersemangat sambil mengayunkan kedua kaki ku yang terjuntai di bangu panjang kami duduk.

“ apa kamu menyukai hidup mu ? bukankah terlalu rumit kehidupan duniawi itu ?” tanyanya

“ mungkin setelah semua ini selesai aku bisa ko mengajakmu untuk mengenali dunia ku, aku menyukai kehidupanku yang penuh kebahagiaan, aku menyukai berada diantara teman-temanku, aku menyukai ketika kami tertawa bersama dan akupun menyukai hujan “

“ tapi kau tetap merasa sendiri bukan “ tiba-tiba senyum bengisnya seakan menusuk ku

“ tidak, karna walaupun sendiri aku masih banyak memiliki keramaian di sini “ sambil menunjuk bagian dada mengisyaratkan sebagai hati

“ dan kau lelah dengan kehidupan mu ini “ ucapnya sambil menepuk punggung ku

Kenapa begitu banyak pertanyaan darinya ? siapa dia sebenarnya ? seakan banyak Tanya yang tapi seakan akupun sudah tau jawabannya, entahlah mungkin hanya perasaan ku saja.

“ tidak perlu takut, walaupun kau tak mengenalku tapi aku cukup mengenalmu karna aku mengikuti gerak gerik mu tanpa kau sadari selama ini, kehadiranku nanti yang akan membawa perubahan besar dalam hidupmu, membebaskan mu dari segala sepi mu “ lagi-lagi wajah tanpa kebahagiaan itu ku tatap lekat dari pandangannya.

“ siapa kau?!! Kau tidak mengenal ku! “ emosi tetiba meningkat karna mendengar ucapannya yang tak bisa ku terima.

Aku menggelengkan kepalaku namun tangannya yang terasa hangat masih menepuk pundak ku, seolah dia berusaha memberikan ketenangan di balik emosi yang hampir saja tumpah sejadi-jadinya. Kepalaku terasa berat hujan semakin menderaskan bulirnya tanpa ampun, nafsku terasa berat dan seakan menekan keluar semua amarah yang tertahan. Tiba-tiba dia semakin mendekatiku dan bibirnya bergerak perlahan di telingaku

“ ikutlah bersama ku rain, sudah cukup penderitaanmu akan segera ku akhiri “ bisiknya, suaranya sekan berasal dari kepala ku, suara yang sangat ku kenali terasa tak asing berasal dari dalam benakku, dan pandanganku mulai mengabur.

***

PERLAHAN aku mulai membuka mata, dan menemukan tubuhku terbaring di kasur, kenapa dengan aku? Kenapa aku terbaring yang seharusnya bukan aku tapi dia, dia… gadis itu, dia ada dihadapanku di depan mataku, dia… mirip sekali dengan aku, dia.. kenapa dia ada di sana dan aku terbaring.

“rain.. kamu lebih kuat” sosoknya makin memudar perlahan

Allahuakbar… allahuakbaarrr…..

Kumandang suara adzan subuh beriringan terdengar syahdu pada lembab udara diiringi suara kokokan ayam, masa kritis berhasil dilewati seorang Rainny melawan leukemia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *