PHP part V (koki itu arwana)

“ Ikan apa itu? “ Tanya Roi teman seruangan saya sambil memperhatikan gerakan ikan di dalam akuarium plastic di atas meja kerja saya, ikan jomblo berwarna bergaris merah menyala dengan ukuran tidak lebih besar dari jempol kaki lelaki dewasa yang baru saja tertimpa palu besi.

“ jenisnya arwana tapi aku namain koki bair lucu aja hehe….., hari ini dia di sini supaya ada hiburan juga ga stress aku liatin tampang-tampang kalian aja haha… “

Sambil mengerutkan kedua alisnya yang pada hari itu memang kami masuk shift III di jam 5 subuh, Roi tampak kedinginan karna masih saja dia tidak melepas jaket kesayangannya. “ emang ga mati ya kalo ga dikasih aerator ? “ roi bertanya.

“ seharusnya sih ga “ jawab ku sambil membuka laci meja dan mengeluarkan beberapa bungkus roti sambil menyerahkan sebagian kepada Roi.

“ Arwana kan mahal, katanya mau peliara koi ko yang dibeli arwana, eh coba sms ali deh dia kan setiap pagi ke pasar beli belanjaan buat ibu mia sekalian deh nitip sama dia buat beliin aeratornya “ sembari mengunyah roti coklat yang saya berikan untuk dia.

Ali adalah office boy di kantor kami yang memang setiap subuh membantu ibu Mia membeli logistic untuk keperluan memasak beliau, ali salah satu pria keibuan yang rajin bersih-bersih dan dalam satu hari bisa mandi hingga 4 kali di kantor, namun sangat mengalami kesusahan dlam hal memperbaiki kran atau saluran air. “ wah ini juga dibeliin temen mas, karna susah nyari koi di sini mangkanya dia beliin si koki padahal harganya mahalan si koki lo “ sambil meninggalkan ruangan karna saya harus cek unit di lapangan sesubuh itu.

Baru beberapa langkah keluar dari ruangan saya menarik gadget hitam dari saku celana jeans biru dan mengirim pesan kepada ali

From:Aufa

To: Ali

 

Li, tolong beliin aerator ya yang paling kecil aja yang biasa buat akuarium, nanti taruh aja di atas meja saya, uangnya saya ganti nanti datengin aja saya di pool samping.

Send

 

From: Ali

To: Aufa

 

Iya mba, tapi aga lambat soalnya rangga cucu ibu mia ikut ke pasar jadi aga repot.

 

Send

 

Saya terima sms balasan dari Ali dan saya tidak mereplaynya kembali, oiya Rangga cucu kesayangan Ibu Mia yang masih sekolah TK kecil, yaahh mungkin Rangga juga mewarisi gen yang sangat besar dari ibu Mia sehingga tidak pernah menemukan kecocokan dengan saya, rangga berbadan gempal dan kenakalannya melebihi anak-anak usiannya. Walaupun sudah lama berada di daerah saya namun bocah itu masih saja menggunakan bahasa yang dicampur dengan jawa.

Pukul 12.15 wita

Saya kembali ke ruangan saya karna jam isirahat dan memang matahari sudah cukup terik saatnya ngadem dalam ruangan, seperti biasa saya duduk dikursi menghidupkan PC dan memilih beberapa lagu R n B untuk menemani siang saya, dengan segelas teh yang sudah tersedia, pastilah buatan Ali, dia sangat mengerti selera teh saya tidak terlalu manis dan harus selalu dalam kondisi hangat. Mata saya tertuju pada tumpukan ketas-kertas di atas meja kerja yang harus saya koreksi. Tersadar, ternyata akuarium di atas meja saya hilaaaaaanggg…..!! menyublim gitu, lenyap. Ah tapi pikiran saya pastilah Ali sekalian memasangkan aerator pada akuarium saya, tak berapa lama kemudian Ali datang ke ruangan saya membawa aerator yang ada di tangannya

“ tadi sudah ke sini tapi mba ga ada jadi saya bawa lagi aeratornya “ Ali meletakkan aerator di atas meja saya, dengan santai sambil menggerak-gerakan kepala mengikuti alunan music saya mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet coklat dan menyerahkan pada Ali seraya bertanya “ saya kira langsung kamu pasangin, ya udah balikin deh akuarium saya, kayanya koki belum dikasih makan juga, pasti dia lapar, nanti biar saya minta mas roi masang “ sambil menikmati tegukan teh hangat yang wangi mengalir ke tenggorokan saya.

Menggaruk kepalanya Ali tersenyum meringis dan menjawab “ aa.. anu mba, tadi rangga bawa akuariumnya, sudah saya bilang jangan tapi dia bilang pinjem sebentar “ bagai petir membahana badai topan halilintar… CETAAARRR…..!!! “ APA…??!! Rangga yang bawa, duh ko bisa sih Li, itu koki susah nyarinya lo, ngapain juga sih kamu ajak masuk ke ruangan saya ah “ saya bergegas meninggalkan Ali yang wajahnya memerah, saya menuju pantry dan dengan tampang bersalah Ali mengikuti saya dan menjawab “ sudah saya larang tapi katanya sebentar aja nanti dikembaliin…” tanpa memperdulikan Ali sedikitpun saya menuju pantry yang jaraknya 20 meter dari ruangan saya.

Memasuki pantry saya menuju ke arah Ibu Mia yang sedang membersihkan meja panjang biasa kami gunakan untuk makan, dengan nada pelan karna kelelahan berjalan sedikit lari saya berkata kepada ibu Mia “ Ibu, rangga ada ambil koki saya, bisa minta tolong balikin dong “ sambil kelelahan dan selalu menarik nafas. Ibu mia melihat ke arah saya, menerawang dan berkata “oh iya Ali tadi ada bilang, kokinya mba aufa ya, wah ngapunten lo mba karna dimainin rangga ikannya capek kehabisan nafas kaya mba gitu terus lemes mati deh “

nah…!! DOUBLE CETAR ( CETAR – CETAR)….!!! “ MATI….!!! Koki saya mati?? Yaelah yang bener aja bu…, itu kan ikan mahal, ko bisa siiihhhh….” Huuuxx… baru kali ini saya merasa kesedihan mendalam kehilangan piaraan, saya terduduk lemas masih tidak mempercayai hal tersebut. Dengan wajah cueknya ibu Mia bereaksi “ duh ngapunten mba, lagian koki murah aja, 15rb aja harganya… mba aufa lebay deh seperti andika kanjen ben “

Entah kenapa tiba-tiba saya merasa dijatuhin palunya thor dan memiliki tenaga extra untuk membuat serangan balasan seperti kilatan cahaya yang merasuk gitu deh, saya membalas ucapan bu Mia “ Ibu mau ngapunten berapa kali juga ga bakal idupin dia ah, lagian itu arwana bukan koki…” ibu Mia melihat ke arah saya dengan mata berbinar (lagi) “ katanya tadi koki, sekarang arwana, ah mau bohongin saya ya, mau minta ganti yang mahal ya, saya laporin ke PKK nanti itu korupsi kasih data palsu “ aaahh… rasanya saya enggan berdebat dengan beliau dengan kekuatan tersisa saya menjawab lirih “ KPK ibu, beneran itu arwana.. saya ga minta ganti ibu, saya cuman nanyain aja “ saya pun berlalu meninggalkan pantry karna para pekerja memasuki pantry untuk makan siang.

“ oiya kokinya yang mati tadi kehabisan nafas dimakan sama itu mba.. “ menunjuk ke arah kucing berwarna putih yang sebenernya bulunya sudah setengah putih saja karena ga pernah mandi pasti, kucing itu menguap dan melihat ke arah saya seolah berkata “ aaauuummm… nikmaattt faaa… “

Beberapa karyawan tersenyum ke arah saya dan saya hanya membalas tersenyum lemes… “ ko lemes mba..” salah satu dari mereka menegur saya dan saya tidak menjawab apapun hanya berjalan meninggalkan mereka, dari balik jendela kaca saya mendengar suara “ itu mba aufa, koi nya mati ko ngakunya yang mati arwana, jauh kan bedanya koi sama arwana “ IBU MIIIAAAAAAA……..!!!!!

One thought on “PHP part V (koki itu arwana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *